Pedofilia: Bagaimana Cara Menangani Penderitanya?

Mahasiswa Psikologi di Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
24 November 2021 16:22
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Firda Nur Rachmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pedofilia: Bagaimana Cara Menangani Penderitanya? (36958)
searchPerbesar
Pic from Shutterstock
Apakah anda pernah mendengar atau melihat berita tentang kasus seseorang yang memiliki kecenderungan seksual terhadap anak-anak atau remaja yang memiliki rentang usianya kurang dari 14 tahun? Ternyata hal ini memiliki istilah dalam psikologi yaitu pedofilia.
ADVERTISEMENT
Seseorang dapat dapat dikategorikan sebagai pedofilia dengan jarak minimal 5 tahun dengan anak yang disukai. Seseorang dapat dikatakan sebagai pengidap pedofilia setelah mengalami gangguan setidaknya selama 6 bulan. Pelaku pedofilia tidak selalu melakukan tindakan kekerasan seksual seksual pada korbannya. Terdapat dua jenis gangguan pada pedofilia yaitu hanya tertarik dengan anak usia pubertas (exclusive type) dan pedofilia yang tertarik pada orang dewasa (non exclusive type).
Berdasarkan diagnosis medis, pedofilia tergolong sebagai gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan pada pedofilia terbagi menjadi 3 jenis yaitu immature pedhophiles, yakni pedofil yang cenderung melakukan pendekatan pada target dengan memberikan iming-iming atau bujukan pada korban. Jenis yang kedua yaitu regressed peophiles, pelaku pedofilia beraksi dengan langsung memaksa korban tanpa memberikan iming-iming atau bujukan tertentu. Pelaku jenis ini lebih agresif. Jenis terakhir yaitu aggressive pedophile, pedofilia dengan tingkat paling parah.
ADVERTISEMENT
Nah, dari penjelasan di atas apa sih gejala orang yang mengidap pedofilia? gejala yang dialami adalah memiliki khayalan atau halusinasi, dorongan seksual atau perilaku yang mengarah pada kecenderungan preferensi seksual pda anak-anak yang belum memasuki usia pubertas, yaitu kurang dari 13 tahun. Dorongan seksual yang dirasakan kepada anak-anak melebihi dorongan seksual yang dirasakan kepada orang dewasa. Biasanya seorang pedofilia akan melakukan tindakan sesuai fantasinya atau jika tidak, maka khayalan atau halusinasi dorong seksualnya yang akan menimbulkan masalah interpesonal (Satyrasa,. 2016)
Untuk penyebabnya sendiri dapat diketahui sangat bervariasi. akan tetapi terdapat beberapa faktor tertentu yang dapat memengaruhi kemunculan gangguan pedofilia. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak. Selain itu, terdapat gangguan perkembangan pada saraf, otak, atau kelainan hormon. Saat ini penderita pedofilia dapat dideteksi melalui Metode fMRI. Hal lain yang dapat memengaruhi yaitu pernah mengalami cedera kepala serius saat usia 6 tahun, atau memiliki ibu dengan riwayat gangguan psikiatri sehingga menyebabkan perubahan fisiologi pada otak.
ADVERTISEMENT

Lalu bagaimana cara penanganan untuk penderita pedofilia?

Perilaku pedofilia ini menimbulkan banyak kekhawatiran. Kekhawatiran ini dapat berdampak pada psikologi korban. Maka jika tidak segera ditangani akan lebih banyak korban dan mungkin akan meningkatkan jumlah orang dengan gangguan yang serupa. Sehingga dibutuhkan terapi yang lebih efektif untuk dapat menangani penderita pedofil. Terdapat solusi menurut prevalensi kasus pedofilia antara lain:
  1. Hukuman kurungan penjara (kriminalitas) pedofilia mendapat hukuman kurungan penjara karena menyebabkan korban menderita bahkan trauma.
  2. Rehabilitasi, rehabilitasi dapat menjadi salah satu alternatif yang tepat dalam penanganan pedofilia. Pelaku pedofilia akan direhabilitasi selama kurun waktu tertentu untuk dapat mengurangi tindakan pedofilnya.
  3. Farmakologi memberikan obat anti androgen yang bertujuan untuk dapat menurunkan rangsangan seksual, mood stabilizer, atypical antipsikotic dan antidepresan untuk menangani gangguan seksual kompulsif dan penurunan libido. Namun obat ini tidak spesifik terhadap seluruh penyimpangan seks.
  4. Psikoterapi yang diberikan kepada individu pedofilia atau kelompok pedofilia (Satyrasa., 2016)
ADVERTISEMENT
Penggunaan solusi di atas tidak serta merta dapat dilakukan pada seluruh penderita pedofilia. Pelaku pedofilia harus diklasifikasikan terlebih dahulu sehingga dapat diketahui solusi mana yang sesuai untuk dapat dilakukan.
Maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu dari segi keluarga dan masyarakat untuk lebih waspada dan memahami bahwa kasus pedofilia bukan kasus biasa. Kemudian, perlu adanya edukasi terkait pedofilia sehingga wawasan atas gangguan tersebut dapat diketahui oleh seluruh masyarakat.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020