kumparan
18 Jan 2019 11:26 WIB

Review Debat Pilpres 2019 Edisi I : Jokowi yang tidak tenang vs Bromance Prabowo-Sandi

Euforia politik dan edukasi politik di Indonesia mulai terjadi sejak Pilpres 2014, Pilkada Jakarta 2017 dan sekarang Pilpres 2019. Sejak itu pula negara Indonesia berhasil mencetak banyak Sarjana Teori Konspirasi dan Sarjana Terbawa Perasaan.
ADVERTISEMENT
April 2019 adalah bulan yang menarik bagi rakyat Indonesia, selain Finale Season Game of Thrones dan Avengers : End Game , kita akan disuguhi pertarungan final "Jokowi vs Prabowo" yang kisahnya dimulai sejak Prabowo "membawa" Jokowi dari Solo ke panggung Pilkada Jakarta 2012. Layaknya sebuah kisah, pasti ada permulaan dan akhir. Sebuah perseteruan klasik antara dua orang yang dulunya dekat telah memasuki babak akhir. Seperti kisah Charles Xavier & Erik Lenshher, kisah Obiwan Kenobi & Anakin Skywalker atau kisah epik Maia Estianty & Mulan Jameela. Sebuah akhir dari Trilogi (Pilkada Jakarta 2012 - Pilpres 2014 - Pilpres 2019), disebut akhir karena jika Prabowo kalah maka duel "guru vs murid" ini tidak akan terjadi lagi. Prabowo dipastikan tidak akan maju Pilpres lagi jika kalah. Kecuali setelah Pilpres 2019 berakhir Prabowo dan Jokowi memutuskan diam-diam bertemu untuk duel Pokemon.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya saya akan mencoba membahas performa masing-masing para komika , maaf maksud saya peserta Debat Pilpres 2019.
1. Joko Widodo
Performa Jokowi tidak lebih baik daripada yang sudah beliau lakukan di Debat Pilpres 2014. Gekstur, tatapan mata dan cara berbicara Jokowi tidak sepercaya diri seperti biasanya. Tampak sekali Jokowi seperti cowok yang lagi insecure karena 95% beban debat ada di pundaknya. Iya, di pundak Jokowi ada seorang kakek tua. Pasti ada sedikit penyesalan kenapa bukan Mahfud MD yang berdiri di sebelahnya.
Ibarat main bulu tangkis, Jokowi ini main sendirian. Menyerang dilakukan Jokowi, bertahan pun dilakukan Jokowi. Bahkan saat lapangan basah karena keringat Ma'ruf Amin pun Jokowi yang mengepelnya. Ma'ruf Amin bantu kok, membantu dengan doa.
ADVERTISEMENT
Konon, peran Ma'ruf Amin adalah sebagai perisai Jokowi. Perisai agar tidak ditembak untuk isu agama. Memang kehadiran Ma'ruf Amin ini sangat menenangkan. Sangat tenang. Saya lihat beliau juga jadi adem. Adem kaya ubin mushola.
Jangan salah sangka, Ma'ruf Amin ini adalah tipe orang yang sedikit bicara, tapi banyak diam. Entah karena tidak menguasai permasalahan atau beliau agak masuk angin karena sudah jam 22.00 malam. Maklum, angin malam tidak baik bagi sesepuh.
Kembali ke Jokowi. Jokowi sendiri sebenarnya tampak menguasai permasalahan tema debat edisi pertama ini. Cuma mungkin selanjutnya agar lebih tenang. Ada banyak hal terpendam di hatinya yang bisa kita lihat, yaitu Jokowi ini sebal kalau Prabowo nuduh-nuduh.
"Saya itu gak suka ya kalau kamu nuduh-nuduh aku nyontek, seakan-akan kamu gak percaya sama aku. Kalau kamu gak percaya, lapor aja ke guru BP Sekolah."
ADVERTISEMENT
Jokowi seperti Ketua OSIS SMU yang Kepala Sekolah-nya adalah Bude-nya sendiri dan Guru BP adalah Pakde-nya sendiri.
Untuk debat selanjutnya, semoga Timses bisa meyakinkan Jokowi agar tampak lebih tenang di cara komunikasi dan geksturnya. Untuk ide dan visi misi tidak ada yang baru dari Jokowi, terlihat jawaban-jawaban dan kalimat-kalimat untuk menjawab selalu diulang-ulang, bahkan cenderung sama dengan Pilpres 2014.
Pak Jokowi harus lebih banyak senyum dan kalem untuk selanjutnya.
2. Ma'ruf Amin
"Cukup. Saya mendukung pernyataan Pak Jokowi."
3. Prabowo Subianto
Demi apa Prabowo joget di panggung politik?
Demi apa Sandiaga Uno mijitin Prabowo di forum sepenting ini?
Demi Squidward, entah karena sudah nothing to lose , atau memang ini strategi persona yang ingin diperlihatkan ke publik. Prabowo tampak sangat tenang, tertata dan sangat menggemaskan pipi chubby-nya.
ADVERTISEMENT
Setiap serangan dari Jokowi ditepis dengan gekstur tenang dan jawaban yang tidak panik (jawaban yang tidak panik belum tentu benar). Prabowo coba memperlihatkan bahwa "sedikit beda lebih baik daripada baik". Maka dari itu Prabowo selama dimulai kampanye hingga sekarang selalu menampilkan perspektif yang berbeda. Di Debat Pilpers 2019 Edisi I semalam, Prabowo fokus menampilkan bahwa "uang/gaji" adalah sumber pejabat/PNS korup. Prabowo coba menggoda kalangan PNS (bukan pejabat) agar memilihnya.
Saking mencoba terlihat "baik", Prabowo bahkan tidak mau menyerang Jokowi untuk kasus Novel Baswedan. Walaupun Prabowo ini juga memiliki beban masa lalu.
Terlihat menarik juga bagaimana relasi "Bromance" antara Prabowo dan Sandiaga Uno. Hubungan mereka sangat cair. Saling menggoda. Saling memuji. Saling memijat. Saling menjilat. Terus diputar. Terus dicelupin.
ADVERTISEMENT
Dari sisi persepsi secara duet, hubungan "Bromance" ini cukup menyenangkan dan enak ditonton. Probowo-Sandi mencoba strategi "Bromance' yang sukses lebih dulu diterapkan oleh "Anies-Sandi". Pembagian waktu berbicara antara duet ini pun pas. Timses harus menyuapi Prabowo dengan data yang akurat.
4. Sandiaga Uno
Selain menjadi penyandang dana acara pensi di sekolah bernama Gerindra, Sandiaga Uno ini seperti Spongebob, selalu senyum, tertawa, tenang dan mencairkan suasana. Persona dan ketampanan Sandiaga Uno ini gawat buat para pemilih Ibu-Ibu di daerah. Ma'ruf Amin harus cepat-cepat menyaingi persona Sandiaga Uno, tentu saja diawali dengan doa.
Jurusnya masih sama dari Sandiaga Uno, yaitu Jurus Bango ; semua pertanyaan akan dijawab ke masalah ekonomi rakyat/UKM dan menceritakan kisah sedih salah satu rakyat. Menurut Sandiaga Uno, masalah HAM-Hukum-Teroris adalah penyebab kemiskinan. Kalimat "Hukum jangan tumpul keatas tapi tajam kebawah" - pun adalah kalimat yang sama diutarakan Sandiaga Uno di Debat Pilkada Jakarta 2017.
ADVERTISEMENT
Di akhir sesi debat pun, ada manufer sangat menarik dari Sandiaga Uno saat menyalami dan mencium tangan Ma'ruf Amin. Sedikit berbisik, Sandiaga Uno berkata pada Ma'ruf Amin "Pak Kyai, doain saya menang ya..". Dengan polos Ma'ruf Amin menjawab "Insya Allah saya doain ya."
--
Debat Politik (dhi Debat Pilpres) hanya merupakan salah satu poin penting dalam strategi politik, banyak poin penting lainya yang bisa menentukan siapa pemenangnya. Mesin politik di lapangan tetap memegang peranan penting.
Ada poin penting juga, seperti kenapa Ira Koesno tetap terlihat cantik di usia 50 tahun dan entah kenapa kita semua para netizen yang budiman sangat merindukan sosok seperti AHY, Mpok Sylvi dan Pak Djarot di arena ini.
ADVERTISEMENT
Untuk KPU, saya menyarankan Debat Pilpres 2019 Edisi II agar diisi oleh band pembuka yang diisi AHY, Mpok Sylvi dan Pak Djarot.
--
Oleh @firdzaradiany
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan