News
·
19 Oktober 2020 6:55

3 Srikandi di Matim Tanam Holtikultura saat Pandemi, Dapat Belasan Juta Rupiah

Konten ini diproduksi oleh florespedia.com
3 Srikandi di Matim Tanam Holtikultura saat Pandemi, Dapat Belasan Juta Rupiah (72281)
Foto : Maria Sedis (36), Kristina anut (37), dan Vantia Jemina (37) bersama Pastor Paroki Tilir, Romo Ferry Rusmiadin, saat memetik lombok di kebun paroki, Minggu (18/10/2020).
BORONG- Maria Sedis (36), Kristina anut (37), dan Vantia Jemina (37), 3 wanita hebat asal Kampung Tilir, Desa Benteng Riwu, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, mengisi waktu di rumah saja di karena pandemi Covid-19 dengan menanam tanaman holtikulura. 
ADVERTISEMENT
Ketiga srikandi ini menanam tanaman holtikutural di kebun paroki Tilir. Kebun itu sebelumya hanya lahan kosong yang ditumbuh ilalang. 
Awalnya mereka mendapat kepercayaan dari Pastor Paroki Tilir, Romo Ferry Rusmiadin yakni meduduki psosisi seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE). 
Sesuai dengan bagian tersebut, pastor meminta mereka agar mengolah kebun paroki yang belum diolah tersebut. Luas kebun tersebut sekitar 1 hektare.
3 Srikandi di Matim Tanam Holtikultura saat Pandemi, Dapat Belasan Juta Rupiah (72282)
Maria Sedis (36), Wakil Ketua seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), menceritakan, awalnya mereka membuat pupuk bokasi selama 2 minggu. Pupuk bokasi itu terbuat dari kotoran kambing dan dedaunan hijau yang ada di kebun tersebut. 
Sementara itu, ada laki-laki yang membuat bedengan untuk tanam bibit sayur dan lombok yang sudah disiapkan.
ADVERTISEMENT
Setelah membuat pupuk bokasi, mereka taruh pupuk di lubang yang akan ditanam bibit sayur dan lombok. Kemudian, sayur dan lombok ditanam pada lubang yang sudah diatur. Lalu, masuk tanah untuk tutup kompos yang sudah taruh di awal.
Maria menuturkan, mereka tertarik menanam sayur dan lombok karena usia tanamnya tidak lama.  
"Awalnya kami tidak menyangka akan menghasilkan uang. Dari sini kami mendapat uang Rp. 50 ribu per hari. 
Sementara hasil jual sayur dan lombok ini menjadi tanggung jawab paroki. Tahun lalua hasilnya sampai belasan juta," tutur Maria kepada media ini, Minggu, di kebun paroki Tilir. 
Maria mengungkapkan, hasil kerja di kebun paroki tersebut cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia dan rekan kerjanya, merasa bersyukur bisa dipercayakan oleh pastor paroki untuk mengolah kebun tersebut hingga bisa menghasilkan uang.
ADVERTISEMENT
Pastor Paroki Tilir, Romo Ferry Rusmiadin, mengatakan, dirinya mengolah kebun yang sebelumnya lahan kering itu untuk membuka lapangan kerja bagi para umat. 
3 Srikandi di Matim Tanam Holtikultura saat Pandemi, Dapat Belasan Juta Rupiah (72283)
Ia mengatakan, umat yang bekerja di kebun milik paroki tersebut diberi upah per hari. 
"Mereka tidak kerja cuma-cuma. Per hari mereka diberi upah Rp.50 ribu," kata Romo Ferry.
Pastor Ferry menyebut, tahun lalu, ketiga wanita yang mengurus kebun paroki itu fokus menanam sayur. Sayur yang ada di kebun itu pun jadi pasarnya umat. Umat datang langsung beli sayur di kebun tersebut.
"Mereka datang beli sambil rekreasi. Saat datang beli sayur, mereka juga foto-foto. Tahun lalu hasilnya sampai belasan juta," ujarnya.
Ia menambahkan, kebun holtikultura itu merupakan hasil  inovasi dan kreasi paroki  yang bisa dijadikan contoh bagi masyarakat. Kebun ini jadi pelajaran, menanam sayur itu bisa mendapatkan uang.  
ADVERTISEMENT
"Semoga dengan melihat hasil, masyaraka di paroki Tilir ini bisa ikut," tambah Romo Ferry.