News
·
16 Juni 2021 15:32
·
waktu baca 2 menit

Gunung Ile Lewotolok Erupsi, 3 Desa di Lembata Dihujani Abu Vulkanik

Konten ini diproduksi oleh florespedia.com
Gunung Ile Lewotolok Erupsi, 3 Desa di Lembata Dihujani Abu Vulkanik (153104)
searchPerbesar
Gunung Ile Lewotolok sedang mengeluarkan material vulkanik dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter dari pusat kawah. Foto : Istimewa
LEWOLEBA - Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali erupsi. Tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, beberapa desa di wilayah Kecamatan Ile Ape terkena dampak hujan abu vulkanik seperti Desa Bungamuda, Lamawara dan Desa Amakaka.
"Hujan abu terjadi hampir tiap waktu kalau asap erupsi mulai meninggi, tapi kadang juga tidak ada,” ungkap Reda Nihan, warga desa Bungamuda kepada wartawan, Rabu (16/6).
Dikatakannya, warga Bungamuda adalah yang paling parah terkena dampak hujan abu dan kerikil pada erupsi 29 November 2020 lalu.
Menurut dia, mereka selalu dalam keadaan takut, jika kondisi gunung masih terus bererupsi tanpa tahu kapan berakhir.
"Sejak masa tanggap darurat erupsi dan bencana banjir longsor pemerintah cabut kami mulai pulang dan tinggal sampai sekarang, tapi erupsi gunung tetap terjadi", tambahnya.
Hal yang sama diungkapkan, Moses Tobioan, Kepala Desa Lamawara. Moses menuturkan, sebagian besar penduduk desanya memilih tinggal dikebun.
ADVERTISEMENT
"Di kebun (parek walang.red) ada 57 KK yang mengungsi sampai sekarang, belum lagi pada rumah keluarga di Lewoleba,” ujar Kades Moses kepada wartawan di Parek Walang, Rabu (16/6).
Menurutnya, alasan warganya memilih mengungsi/menetap di beberapa tempat karena terjadi erupsi besar di 29 November 2020, tahun lalu, ditambah bencana banjir dan longsor pada 4 April 2021 lalu.
"Sejak masa tanggap darurat erupsi dan bencana banjir longsor pemerintah cabut ada sebagian warga kembali ke kampung tapi belakangan sering ada hujan abu makanya semua cari tempat aman karena takut,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian membenarkan hal itu.
Menurut Ara Kian, hujan abu yang terjadi karena dipicu hembusan angin, apalagi memasuki musim kemarau sehingga tekanan udara panas berpengaruh pada hembusan angin.
ADVERTISEMENT
"Adanya hembusan angin makanya abu saat erupsi jatuh di sekitar timur barat persis di beberapa desa itu,” terang Ara Kian ketika dikonfirmasi wartawan, Rabu (16/6).
Terkait hal ini, pihak PPGA menghimbau agar masyarakat selalau waspada saat beraktifitas, dan menghindari zona merah dalam radius 3 kilometer dari puncak.
"Hari ini pukul 12.23 Wita terjadi erupsi, tinggi abu vulkanik 1000 meter dari pusat kawah gunung. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 16 mm dan durasi ± 47 detik,” jelasnya.
"PPGA rekomendasikan supaya penduduk disekitar gunung gunakan masker/penutup mata dan lainnya mencegah terjadi ISPA,” imbaunya.