kumparan
18 Mei 2019 12:13

Moke dan Anggur Lontar Dalam Kemasan, Inovasi dari Watugong - Sikka

WhatsApp Image 2019-05-18 at 11.59.31 (1).jpeg
Dua jenis miras tradisional dalam kemasaan inovasi dari Desa Watugong, Kabupaten Sikka. Foto oleh: Mario WP Sina, florespedia/kumparan.com
Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka yang berjarak kurang lebih 5 Km dari Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, sudah lama dikenal sebagai desa penghasil minuman keras tradisional yang dikenal dengan nama Moke.
ADVERTISEMENT
Desa yang berpenduduk 2.200 jiwa ini, hampir sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pengrajin minuman keras tradisional moke. Dapat dikatakan miras lokal legendaris Sikka yang beredar di Sikka maupun dikirim ke daerah lainnya, berasal dari Desa Watugong.
Pada Rabu (15/5) siang, saya bersama 3 orang rekan wartawan berkunjung ke Desa Watugong. Kami disambut oleh Kepala Desa Watugong di kantor desa. Kepada kami, Kepala Desa Yohanes Kapisrano bercerita tentang moke yang saat ini tengah dikembangan sebagai salah satu produk inovasi unggulan dari desa ini.
WhatsApp Image 2019-05-18 at 11.56.29.jpeg
Miras tradisional dengan nama Moke dalam kemasan yang diproduksi oleh IKM Lontar, Desa Watugong, Kecamatan Alok Timu, Kabupaten Sikka. Foto oleh: Mario WP Sina,florespedia/kumparan.com
Yohanes Kapisrano mengatakan, pohon lontar atau disebut pohon koli (bahasa Sikka,red) adalah pohon yang paling banyak di Desa Watugong. Dari pohon lontar inilah, sebagaian besar warga menggantungkan hidup dengan menjadi pengiris lontar dan pemasak nira untuk menghasilkan minuman keras tradisional moke.
ADVERTISEMENT
Lanjutnya, selama ini, moke yang dihasilkan pengrajin, dijual ke pasar. Kadang dijual dengan harga tinggi tetapi lebih banyak dijual dengan harga yang rendah. Moke yang dijual, ditaruh dalam botol ataupun jerigen tanpa ada pengolahan atau proses pengemasan lebih lanjut.
Untuk itu, pihaknya ketika ada dukungan dari dana desa, mulai berpikir mencari inovasi agar harga jual moke sebagai minuman tradisional menjadi lebih bagus. Pada akhir 2017, Pemdes mengalokasikan dana sebesar Rp.150 juta kepada Bumdes Mitra Usaha. Dana itu digunakan untuk berbagai jenis usaha yang salah satunya adalah inovasi pengolahan moke menjadi minuman tradisional dalam kemasan.
“ Pengolahan moke belum menjadi satu unit usaha. Masih semacam inovasi. Kalau konsumen banyak tertarik maka akan dijadikan unit usaha Bumdes”ungkap Yohanis Kapisrano.
ADVERTISEMENT
Lanjutnya, pihak desa memang berkomitmen untuk mengembangkan produk olahan moke ini karena melihat ini sebagai potensi unggulan desa yang perlu digarap secara maksimal.
“ Untuk perencanaan desa melalui RPJMDes, secara dokumen, Desa Watugong mendapat predikat juara 2 se NTT pada 2017 dalam kategori prakarsa dan inovasi. Saya mengangkat produk lokal yang menjadi unggulan desa yakni moke,”ungkapnya.
Lanjut Yohanis Kapisrano, saat ini, pihaknya melalui IKM Lontar sudah berinovasi menghasilkan produk moke dalam kemasan yang mana sudah dilakukan proses penyulingan ulang. Moke yang dibeli dari petani, kemudian disuling ulang untuk menciptakan warna dan rasa yang sama dengan kadar alkohol yang sudah diatur.
Untuk itu, pihaknya menyiapkan alat ukur alkohor atau alkoholmeter untuk mengukur kadar alkohol moke yang dibeli dari pengrajin moke. Moke yang dibeli kemudian disuling ulang untuk menjadi moke dalam kemasan botol 485 ml dengan kadar alkohol 25 –30 persen.
ADVERTISEMENT
Untuk kadar alkohol yang lebih rendah dengan kadar 10 persen, IKM Lontar juga memproduksi satu jenis minuman yang diberi nama Anggur Lontar dalam kemasan botol 485 ml.
WhatsApp Image 2019-05-18 at 12.07.49.jpeg
Direktur IKM Lontar, Stefanus saat menunjukan 2 produk dari IKM Lontar, Moke dan Anggur Lontar. Foto oleh: Mario WP Sina, florespedia/kumparan.com
Direktur IKM Lontar, Stefanus menuturkan, dengan dukungan pendanaan dari pemerintah desa, saat ini IKM Lontar memproduksi 2 jenis minuman tradisional beralkohol dalam kemasan yakni dengan kadar alkohol 25 – 30 persen diberi nama Moke dan berkadar alkohol 10 persen yang dinamakan Anggur Lontar.
Lanjut Stefanus, perbedaan kedua jenis minuman ini yakni pada kadar alkohol, rasa, dan warna. Ia menjelaskan, pada moke, jenis minuman berwarna putih bening dengan kadar alhokol 25 – 30 persen. Dijual dengan harga Rp. 60.000 per botol seukuran 485 ml. Sedangkan Anggur Lontar berwarna kuning kecoklatan, dengan kadar alkohol 5 – 10 persen dan dijual dengan harga Rp.50.000 per botol ukuran 485 ml.
ADVERTISEMENT
Stefanus berharap Moke dan Anggur Lontar yang sudah diminati pasar ini, ke depan bisa mendapatkan perizinan sebagai minuman keras dalam kemasan oleh Badan POM dan instansi berwenang lainnya sehingga bisa dipasarkan secara lebih meluas atau tidak hanya di wilayah Kabupaten Sikka saja.
Stefanus sungguh berharap, legalisasi minuman keras tradisional yang sedang diupayakan oleh pihaknya mendapatkan dukungan dari Pemkab Sikka dan Pemrpov NTT sehingga miras tradisional moke bisa berdiri sejajar dengan minuman keras semacam Arak Bali dan Cap Tikus yang sudah mendapatkan perizinan dari Badan POM. (FP - 01).
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan