Pencarian populer

Moke dan Anggur Lontar, Oleh-Oleh Istimewa Jika Berlibur ke Maumere

Anggur Lontar salah satu produk olahan dari IKM Lontar, Desa Watugong, layak dibawa pulang sebagai oleh-oleh saat berlibur ke Maumere. Foto oleh: Mario WP Sina, florespedia/kumparan.com

Tak banyak oleh-oleh khas dari Maumere. Mungkin ungkapan ini sering terdengar ketika tamu atau pihak luar yang datang berkunjung ke Kota Maumere. Tamu yang datang, hampir kesulitan menemukan oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan saat berkunjung.

Saat ini, telah ada produk inovasi mimuman keras tradisional dalam kemasan yang menarik dan cantik, hasil kreasi dari kelompok IKM Lontar, di Desa Watugong, yang adalah salah satu desa penghasil utama miras lokal Moke di Kabupaten Sikka ini.

Rabu (15/5) siang, saya ditemani 3 orang wartawan berkunjung ke Desa Watugong untuk menemui pengelola IKM Lontar yang sudah dari akhir 2017 lalu memproduksi miras tradisional dalam kemasan. Siang itu, kami bertemu dengan Stefanus, Direktur IKM di rumahnya di Kampung Brai yang juga difungsikan sebagai home industry mengolah moke menjadi minuman dalam kemasan berlabel.

Stefanus menuturkan, IKM Lontar saat ini memproduksi minuman keras tradisional yang tetap diberi nama Moke dan juga memproduksi minuman dengan kadar alkolol lebih rendah dan rasa sedikit manis yang diberi nama Anggur Lontar. Kedua jenis minuman ini, dikemas dalam botol berukuran 485 ml dan diberi label.

Moke, minuman tradisional khas Sikka dalam kemasan hasil produksi IKM Lontar, Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. Foto oleh: Mario WP Sina, florespedia/kumparan.com

Kepada rekan – rekan media, Stefanus pun meminta untuk merasakan perbedaan kedua jenis minuman keras tradisional ini. Moke dengan ciri berwarna putih bening dalam botol bekas kemasan sirup memiliki rasa yang menyengat di lidah dan dada karena tingginya kadar alkohol. Sedangkan Anggur Lontar yang sudah diracik dengan rempah dan karamel gula terasa sedikit manis saat dicecap lidah.

Usai kami merasakan perbedaan kedua jenis miras tradisional ini, Stefanus menjelaskan dalam mengolah miras tradisional Moke, IKM Lontar berinovasi dalam aspek rasa, aroma, kemasan dan kadar alkohol. Yang pertama, miras yang diberi nama Moke dengan kadar alkohol 25 – 30 persen dan berkadar alkohol 10 persen yang dinamakan Anggur Lontar.

Lanjut Stefanus, pada moke, jenis minuman berwarna putih bening dengan kadar alhokol 25 – 30 persen. Dijual dengan harga Rp. 60.000 per botol seukuran 485 ml.Sedangkan Anggur Lontar berwarna kuning kecoklatan, dengan kadar alkohol 5 – 10 persen dan dijual dengan harga Rp.50.000 per botol ukuran 485 ml.

“ Kami berinovasi dalam hal rasa, aroma, kemasan dan kadar alkoholnya sehingga minuman ini bagi kami layak menjadi oleh – oleh khas bagi tamu yang berkunjung ke Kabupaten Sikka”ungkap Stefanus.

Lanjutnya, untuk mengolah kedua jenis miras dalam kemasan ini, ia membeli Moke dari petani dengan harga Rp.500.000 per 20 liter. Dari bahan mentah yang ada tersebut, kemudian dengan peralatan penyulingan atau destilator, kemudian dimasak kembali untuk menghasilkan moke berkadar alkohol 25 – 30 persen.

“ kami juga punya alat ukur alkohol namanya alkoholmeter. Jadi kadar alkohol sudah terukur baik melalui alat yang ada ini”ungkap Stefanus.

Ia melanjutkan, untuk mengolah Anggur Lontar, bahan dasar moke yang ada kemudian dicampur dengan gula yang sudah dikaramelisasi dan campuran rempah berupa cengkeh dan kayu manis.

“ Aroma moke yang menyengat di hidung, dibuat jadi lebih lembut dengan memberikan rempah dan karamelisasi gula. Anggur lontar ini kalau makin lama disimpan, rasanya makin enak” jelasnya.

Ingin Naikkan Derajad Miras Tradisional

Stefanus, Direktur IKM Lontar, kelompok yang mengolah miras tradisional menjadi minuman beralkohol dalam kemasan. Foto oleh : Mario WP Sina, florespedia/kumparan.com

Kepada kami, Stefanus mengungkapkan, dirinya tertarik untuk mengolah moke menjadi minuman keras tradisional berlabel karena merasa moke adalah warisan budaya yang bernilai ekonomis.

Saat ini, menurut Stefanus, Kota Maumere menjadi pintu gerbang wisata di Flores denga tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi. Peluang yang ada, belum dimaksimalkan salah satunya dengan menyediakan bagi wisatawan atau tamu yang datang, oleh-oleh khas dari Sikka. Dirinya melihat Moke dan Anggur Lontar dalam kemasan layak menjadi oleh - oleh khas Kabupaten Sikka ini.

Ia mencontohkan, wisatawan atau tamu yang berkunjung ke Bali dan Manado, dengan bangganya dapat membawa pulang oleh-oleh khas berupa miras tradisional Arak Bali dan Cap Tikus. Semestinya, peluang itu dapat dimanfaaatkan dengan menjual miras legendaris moke ke dalam kemasan yang menarik, berlabel dan mendapatkan perizinan dari Badan POM.

Saat ini, lanjut Stefanus, dirinya dengan didukung Pemdes Watugong terus berusaha agar moke mendapatkan perizinan dari Badan POM sebagai minuman beralkohol tradisional. Ia berharap langkah yang sudah dijalankan oleh IKM Lontar dan Desa Watugong ini mendapatkan perhatian dan dukungan dari Pemkab Sikka dan Pemprov NTT.

Apalagi Stefanus mendengar kalau Gubernur NTT mau melegalisasikan miras lokal yang dijual dengan nama Sophia. Bagi Stefanus, jika benar teralisasi maka ini adalah awal kebangkitan dan pengakuan terhadap miras tradisional.

“ Kami pelan – pelan sudah menyesuaikan label kami dengan standar yang diatur dalam peraturan Badan POM tentang standar kemanan minuman beralkohol” ungkap Stefanus.

Lanjutnya, saat ini, Moke dan Anggur Lontar dalam kemasan sudah dipasarkan di tempat penjualan oleh-oleh di Kota Maumere. Tak hanya itu, ia juga sudah mengantarkan ke beberapa cafe yang berminat menjadikan Anggur Lontar sebagai minuman yang dijual di cafe.

Stefanus juga menuturkan, moke adalah minuman tradisional legendaris dari Kabupaten Sikka. Sehingga pihaknya memberi tagline atau slogan produknya “ Legend of Maumere”. Hal ini mau menunjukkan kepada konsumen luar bahwa, moke adalah miras tradisional yang legendaris dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sikka.

“ Moke itu kan sarana untuk mempersatukan. Kalau ada persoalan dalam masyarakat, pasti selalu menggunakan moke untuk mempersatukan kembali. Moke juga adalah minuman tradisional yang diminum dalam berbagai kesempatan. Sejak dari nenek moyang sampai sekarang, moke tetap ada. Moke memang minuman legendaris di Sikka ini”ungkap Stefanus. (FP – 01).

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Selasa,21/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.21