• 4

Ujian Masuk PTN yang Ternyata Gak Susah Susah Amat

Ujian Masuk PTN yang Ternyata Gak Susah Susah Amat


Denger denger sih hari ini (26/4) adalah hari yang menegangkan bagi beberapa anak Indonesia: pengumuman SNMPTN. Buat yang lulus, selamat. Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Kalau gak salah masih ada yang namanya SBMPTN atau apalah itu. Masih ada waktu selama beberapa minggu untuk mempersiapkannya.
Beberapa tahun yang lalu, saat itu saya masih kelas 3 SMA dan akan menghadapi ujian nasional. Mimpi saya saat itu sangat ambisius, masuk STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB yang mana di tahun sebelumnya passing grade-nya tertinggi dibanding fakultas lain. Ya, saat itu saya hanya ingin berkuliah di ITB karena semenjak balita sudah kagum dengan sosok Pak Habibie. Tapi badai menghantam, keluarga kami menghadapi kesulitan ekonomi (bagaimana sulitnya tidak bisa saya ceritakan di sini biar jadi bahan obrolan pas pdkt aja). Manakala teman-teman saya saat itu pulang sekolah berbondong-bondong pergi les, saya mati kutu. Boro-boro punya uang untuk les, buat makan aja ngirit. Namun tekad yang memuncak membuat saya stay di sekolah sampai malam menjelang, ya untuk lanjut belajar. Saya sadar diri, kelajuan saya dalam menyerap materi pasti kalah dibanding teman-teman yang ikut les. Maka saat itu saya membuat keputusan penting: lupakan ujian nasional, fokus ke SNMPTN. Betul sekali, saat itu SNMPTN tidak ditentukan dari nilai ujian nasional dan nilai raport. Dan SNMPTN yang saya maksud di sini adalah SBMPTN. Hanya bermodal keyakinan yang penting lulus ujian nasional, gak perlu mengejar 10 besar di sekolah (faktanya saat itu 8 dari 10 nilai ujian nasional terbaik terdapat di kelas saya dan saya boro-boro masuk ke daftar itu).
Semangat saya memuncak. Beruntunglah berada di kelas "terbaik" di sekolah dan memiliki teman sebangku yang pernah jadi juara lomba matematika satu provinsi yang selalu sabar mengajari saya konsep matematika, bukan hanya cara cepat. Namun semua keinginan itu hampir sirna ketika orang tua saya meminta setelah lulus SMA kerja saja, tidak ada uang untuk membiayai kuliah (bayangkan, ketika orang tua sendiri sudah realistis dengan keadaan, gimana bisa hahaha). Hal itu yang sempat membuat saya patah hati. Lupakan SIMAK UI, lupakan USM ITB (HALO, UNTUK SEORANG KELAS MENENGAH BIAYA 55 JUTA DARIMANA HAH, MAU NGAJUIN SKTM PUN GAK MASUK KRITERIA), lupakan UM UGM. Apalagi kampus swasta seperti IT Telkom, Binus, dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan. Saat itu entah bagaimana saya bisa mengubah energi negatif itu menjadi motivasi yang lebih besar lagi. Beberapa hari kemudian pun saya minta uang untuk pendaftaran SNMPTN ke orang tua sambil mengatakan tidak perlu khawatir masalah biaya, minta doanya aja yang penting lolos dulu. Berbekal buku-buku ujian masuk PTN tahun sebelumnya saya pun terus belajar tanpa henti.
Semakin hari saya pun semakin realistis. Teman-teman saat itu sudah diterima di beberapa perguruan tinggi, saya adalah satu dari sedikit yang belum mendapat tempat dimana-mana. SNMPTN saat itu adalah satu-satunya tes yang saya ikuti. Pilihan pun dibuat lebih realistis, yang sebelumnya memilih STEI ITB, saat itu saya menurunkannya ke FTTM (Fakultas Teknik Pertambangan Dan Perminyakan) ITB (sama aja itu dari peringkat 1 ke peringkat 3) (terus kerjanya malah di perusahaan media sebagai digital marketing, RAMASHOOOK) (gak apa-apa yang penting hidupnya enjoy), dengan pilihan kedua dan ketiga yang sama ambisiusnya, keduanya dari universitas sebelah. Nothing to lose. Apabila tidak lolos SNMPTN ya sudah mungkin Tuhan punya rencana lain yang entah apa. Mission impossible dimulai. Halah, ternyata SNMPTN gak susah-susah amat. Eits, jangan sombong, dari kuota 100 orang lo cuma salah 3 soal tapi ternyata 100 orang yang lain cuma salah 1 soal ya gak bakal lolos juga. Namun ternyata kesombongan berbuah manis. Akhirnya saya diterima di salah satu perguruan teknik negeri di Bandung (lah gausah sok-sok misterius juga keles udah diceritain di awal). Meskipun semenjak tes sudah optimis bakal lolos namun tetap saja kebahagiaan saat pengumuman itu bikin terharu sampai beberapa tahun berselang. Saya terharu akan perjuangan yang sama sekali gak mudah ini.
Tapi jangan senang dulu, gimana cara bayar kuliahnya? ketik amin pada kolom komentar apabila penasaran.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Demikian cerita sombong saya. Dari cerita yang saya sajikan, mungkin ada beberapa teman yang mengalami nasib yang sama dengan saya ketika dahulu. Percayalah, ketika kuliah saya bertemu beberapa teman yang mengalami nasib yang bahkan lebih buruk dari saya. Gunakanlah waktu sebaik mungkin sampai tes SBMPTN, atau apalah itu namanya, dimulai. Untuk yang masih bersedih hati, stop dulu lah, jalan masih panjang. Stop dulu nangisnya, stop dulu drama koreanya, stop dulu fangirling-nya, stop dulu tinderannya, stop dulu bigonya. Lagu buat klean nih:


PersonalSNMPTNPendidikan

presentation
500

Baca Lainnya