• 2

Ibu Tentrem sang Kondektur Kopaja, Menyeka Peluh Tanpa Keluh

Ibu Tentrem sang Kondektur Kopaja, Menyeka Peluh Tanpa Keluh



Kernet Kopaja

Tentrem, perempuan 54 tahun yang menjadi kernet Kopaja. (Foto: Frendy Kurniawan/kumparan)
Tentrem hilir mudik di dalam Kopaja 608 jurusan Blok M-Tanah Abang. Perempuan 54 tahun itu mengulurkan tangan, menerima uang dari para penumpang, dan menghitungnya dengan cepat. Sesekali kala ada bangku kosong, Tentrem duduk sebentar sembari menyeka peluh.
Dibanding kondektur-kondektur Kopaja lain yang kerap berpenampilan “sangar”, Tentrem tampak berbeda. Wajahnya sungguh keibuan. Jika dilihat sepintas, orang tak bakal mengira ia kernet bus.

Tentrem, kernet bus Kopaja.

Tentrem, kernet bus Kopaja. (Foto: Frendy Kurniawan/kumparan)
Sopir Kopaja itu, Ripto, ialah suami Tentrem. Mereka sehari-hari mulai berkeliaran di jalanan ibu kota pukul 09.00 pagi. Hingga jam 17.00 petang, Tentrem dan Ripto bolak-balik Blok M-Tanah Abang sebanyak lima kali tanpa jeda, terik maupun hujan.
Tentrem melayani penumpang tanpa canggung dan malu. Ia dan suaminya mesti mengumpulkan uang Rp 450 ribu per hari untuk memenuhi setoran kepada pemilik bus. Kadang jika sedang apes, target setoran itu tak terpenuhi.
Namun kalau penumpang penuh, baru setengah perjalanan dari Blok M ke Tanah Abang, Tentrem bisa mengantongi Rp 200 ribu. Biasanya ini terjadi saat jam pergi dan pulang kantor.
Penghasilan sopir dan kondektur Kopaja sungguh tak menentu. Zaman berubah. Warga Jakarta kini punya beragam pilihan moda transportasi, dari ojek online sampai bus TransJakarta. Persaingan di atas aspal kian berat.
Meski begitu, peluh tak lantas berbuah keluh. Tentrem menerima sepaket suka-dukanya selaku kondektur bus kota dengan lapang dada. Ia mensyukuri setiap rezeki yang ia dapat.
"Pokoknya enjoy aja. Nikmatilah," ujar Tentrem, tersenyum simpul.
Pada Hari Ibu yang jatuh 22 Desember ini, Tentrem berdoa semoga para ibu dan perempuan Indonesia lain tak mesti merasakan kerja fisik berat seperti dia untuk beroleh sesuap nasi. Tentrem menyimpan harapan, suatu hari nanti dia dan suaminya dapat beralih profesi.
Senja menjemput. Tentrem pulang. Ia menyusuri gang kecil dan deretan rumah petak di pinggir jalur kereta rel listrik.
Tentrem dan suaminya tinggal bersama saudara mereka. Rumah petak di Pejompongan, Jakarta Pusat, jadi tempat Tentrem melepas penat sebelum kembali menjalani rutinitas di jalanan.
Jika Anda kerap menumpang bus Kopaja 698, jangan sungkan-sungkan menyapa Bu Tentrem. Menatap wajah kalemnya, paling tidak, bisa membuat hati tenteram.

KopajaInspirasiBusJakartaKondekturPerempuan Hari Ibu

500

Baca Lainnya