Buzz
·
16 April 2021 22:34

Asyiknya Jadi Pranata Humas, Dari Benci Jadi Cinta Menulis

Konten ini diproduksi oleh I Gede Alfian Septamiarsa
Asyiknya Jadi Pranata Humas, Dari Benci Jadi Cinta Menulis (9404)
Ide menulis bisa dari kejadian saat peliputan

Tak pernah dibayangkan sebelumnya untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan Jabatan Fungsional Pranata Hubungan Masyarakat. Berawal dari keisengan Almarhumah Budhe meminta saya untuk mencoba bekerja di instansi pemerintah. 

ADVERTISEMENT
Saya pun mencoba peruntungan bekerja sebagai pegawai tidak tetap di Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur pada Bulan Desember 2009. 
Meskipun banyak pekerjaan terkait administrasi, tetapi Kepala Bagian Media dan Dokumentasi meminta saya untuk mencoba membuat siaran pers (press release). Diawali dari meliput kegiatan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur terkait Korpri bersama rekan kerja.
Berdasarkan insting dan ilmu dasar jurnalistik yang dimiliki, saya memberanikan diri untuk menulis siaran pers. Saat itu, saya masih terngiang bahwa lemah dalam penulisan berita pada masa kuliah.
Ketika kuliah dulu, bisa dikatakan saya tidak suka terhadap mata kuliah jurnalistik. Dan ternyata benar saja, tulisan saya mendapatkan revisi yang banyak dari atasan. Tulisan yang saya cetak seketika itu pun dirombak habis-habisan saat itu. Dan saya harus menulis ulang dari pertama. 
ADVERTISEMENT
Ada rasa kecewa dan kesal pada saat itu. Karena tidak bisa memenuhi keinginan atasan untuk menghasilkan siaran pers yang baik. 
Dari situ, saya belajar bagaimana cara menulis siaran pers yang baik dan benar dari atasan. Dimulai dari judul dan lead harus sesuai, diawali dari hal yang paling penting menuju yang biasa seperti segitiga terbalik. Selain itu, dalam awal paragraf harus meliputi 5W+1H. What (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), dan how (bagaimana). 
Bagi saya, menulis siaran pers itu benar-benar membutuhkan usaha yang ekstra. Tape recorder, notes kertas, dan ballpoint menjadi bekal dalam liputan saat itu.
Di tengah perjalanan, dibuka seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan jabatan Pranata Humas pada tahun 2010. Saya pun mencoba mendaftar untuk jabatan tersebut karena sesuai dengan pendidikan strata satu yaitu Ilmu Komunikasi. 
ADVERTISEMENT
Ketika itu, tes dilaksanakan di Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG). Ada soal mengenai kewarganegaraan, pengetahuan umum, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika, hingga kepribadian.
Setelah menunggu beberapa waktu lamanya, hasilnya pun diumumkan melalui website Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Timur. Dari sekian banyak peserta, hanya dua orang yang dinyatakan lulus seleksi CPNS sebagai pranata humas. 
Selanjutnya pada Bulan Maret 2011, penyerahan SK CPNS dari Badan Kepegawaian Daerah Jatim diberikan kepada peserta yang lulus seleksi CPNS. 
Pada Bulan April 2011, saya mulai bekerja sebagai CPNS di Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, yang terletak di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan No. 110 Surabaya.
ADVERTISEMENT
Kegiatan pun tetap sama melakukan peliputan, menulis siaran pers pada kegiatan gubernur, wakil gubernur, sekretaris daerah, Ketua TP PKK, Ketua Perwosi, Ketua Dharma Wanita.
Kegiatan tulis menulis pun menjadi hal yang sudah mulai dinikmati. Dan ada kepuasan tersendiri, ketika siaran pers yang kita tulis dimuat pada media cetak. Bahkan dari menulis ini, saya bisa mendapatkan pengalaman meliput kegiatan tak hanya di dalam provinsi, tetapi juga luar provinsi, hingga luar negeri. 
Siapa yang menyangka bisa diikutkan untuk meliput kegiatan Gubernur Jawa Timur pada tahun 2018 ke tiga negara yaitu Georgia, Azerbaijan, dan India.
Asyiknya Jadi Pranata Humas, Dari Benci Jadi Cinta Menulis (9405)
Saat meliput kegiatan di India pada tahun 2018
Dari kunjungan tersebut, saya tidak hanya menulis siaran pers, tetapi juga mendokumentasikan kegiatan, hingga membantu protokol untuk menyiapkan acara. Hal tersebut membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam menulis siaran pers sekaligus multitasking yang dilakukan saat itu.
ADVERTISEMENT
Ditambah lagi setiap negara tidak selalu memiliki jaringan WiFi yang memadai. Sehingga untuk mencari data-data terkait atau mengirimkan siaran pers pada acara sempat mengalami kendala.
Sebagai contoh ketika di Georgia, WiFi hanya tersedia di tempat makan, hotel, atau fasilitas umum. Sementara untuk di luar itu tidak tersedia. Namun untungnya, WiFi tidak membutuhkan password untuk bisa akses.
Sementara di Azerbaijan juga sama tidak ada jaringan WiFi di luar tempat makan atau hotel. Di tempat makan pun perlu meminta password kepada pelayan. Ini pun menjadi kendala tersendiri untuk bisa mengirim tulisan ke atasan langsung saya yang berada di Surabaya.
Berbeda dengan di India, jaringan operator dari Indonesia tersedia di sana. Sehingga dengan paket data sejumlah sekian bisa digunakan untuk mengakses internet. Hal ini cukup melegakan karena saya bisa mengakses data-data yang dibutuhkan untuk menulis siaran pers.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya saya yang mendapatkan pengalaman serupa, rekan-rekan kerja lainnya juga ada yang pernah meliput ke Singapura, Maroko, hingga beberapa negara di Eropa.
Ada tanggung jawab moral dengan diikutkannya meliput pada negara-negara di atas. Setidaknya bisa menghasilkan siaran pers yang informatif dan baik bagi masyarakat.
Ada juga pengalaman yang sangat berkesan terkait penulisan kebencanaan. Saat itu pernah terjadi longsor di Kabupaten Ponorogo. Untuk menuju akses ke area longsor, kendaraan beroda empat tidak diperbolehkan masuk ke lokasi. Sehingga untuk meliput ke lokasi tersebut berjalan kaki sejauh 5-6 kilometer dengan tanjakan yang cukup tinggi, dengan membawa tas ransel berisi laptop.
Kondisi yang melelahkan seperti itu, sebagai pranata humas yang melakukan peliputan dituntut untuk tetap berkonsentrasi tinggi dalam menulis siaran pers. Berbagai angle penulisan bisa dituangkan, namun sebagai penulis siaran pers, kita harus memiliki kepekaan terhadap kejadian bencana.
ADVERTISEMENT

Bayangkan kita itu sebagai orang yang membaca, atau warga yang terdampak bencana. Seperti apa perasaannya jika kita tulis seperti itu. Ini menjadi catatan tersendiri bagi pranata humas yang akan menulis siaran pers terkait bencana.

Selain menulis siaran pers, selaku pranata humas juga diminta untuk menulis sebuah artikel pada majalah internal milik Biro Humas dan Protokol Setdaprov Jatim, yaitu Majalah Prasetya. Diawali dari artikel dimana sekarang yang berisi tentang para pensiunan PNS di Pemprov Jatim yang masih berkarya di luar instansi pemerintah. 
Kemudian diberikan tanggung jawab untuk menulis artikel Sosok Inspiratif. Artikel ini menarik sekali karena menampilkan sosok-sosok yang mampu menginspirasi masyarakat.
Ada tantangan tersendiri untuk menulis artikel ini. Sebab cara penulisannya berbeda dengan menulis siaran pers yang cenderung hard news. Penulisan artikel ini harus mampu membawa pembaca ikut terhanyut dalam jiwa sosok yang ditulis tersebut. Bisa dikatakan penulisan ini dinamakan soft news atau feature.
ADVERTISEMENT
Seiring berjalannya waktu, saya yang bergabung dalam organisasi Ikatan Pranata Humas (Iprahumas) Indonesia diberikan kesempatan untuk menulis artikel dalam Buku The Real GPR : 111 Tulisan Pranata Humas Indonesia. 
Beruntung sekali tak hanya menulis, saya juga mendapatkan mentoring dari Ketua Iprahumas Indonesia langsung dalam penyusunannya. Dengan telaten, saya diberikan masukan terkait penulisan artikel. Dari masukan tersebut, saya berhasil menyumbangkan dua tulisan. Adapun dua judul yang berhasil dimuat dalam buku tersebut yaitu Prinsip Kerja Pranata Humas Indonesia: Relasi & Kolaborasi; Media Sosial dan Komunikasi Humas Pemerintah.
Karena berhasil menuangkan tulisan tersebut, saya dimasukkan ke dalam grup Penulis Iprahumas. Dan di sana mendapatkan teman-teman yang luar biasa memacu semangat untuk terus produktif menulis di media massa maupun online. Grup tersebut dikomandani Pranata Humas dari Pemkot Depok yang banyak menghasilkan tulisan di media massa maupun buku.
ADVERTISEMENT

Mencoba dan terus mencoba menulis opini maupun artikel di media massa dan online terus saya lakukan dengan menggunakan gadget yang ada. Mulai dari Biskom, Majalah PR Indonesia, Kumparan.com, dan sebagainya dicoba untuk dikirimkan tulisan. Tidak semua berjalan mulus untutk pemuatannya. Seringkali juga mendapatkan penolakan atau tidak dimuat di media tersebut.

Setiap kejadian yang dialami saat liputan, membuat inspirasi tersendiri untuk dijadikan sebagai bahan tulisan di media massa atau online. Dan tak hanya kejadian, tetapi waktu atau momen yang tepat pun bisa menghasilkan tulisan.
Misalkan saat Hari Air Sedunia, momennya bertepatan dengan peresmian SPAM Umbulan oleh Presiden Jokowi. Dari situ, dikaitkan jadi satu ditambahkan dengan kesejahteraan masyarakat. Sehingga jadilah tulisan yang berjudul Hari Air Sedunia, SPAM Umbulan, dan Optimisme Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
Saat aplikasi Clubhouse sedang booming di Indonesia, coba saya tuangkan juga melalui tulisan dengan judul “Clubhouse, Kabar Gembira Pecinta Aplikasi Audio”. 
Kepekaan terhadap momen dan peristiwa menjadi dasar untuk bisa terus konsisten dalam menulis. Dan kepekaan tersebut dapat dilatih karena kebiasan dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Mungin memang benar pepatah Jawa “Witing tresno jalaran soko kulino”, cinta berawal karena terbiasa. Maksud dari ungkapan ini adalah seseorang dapat jatuh cinta karena sering bertemu atau berinteraksi dengan lawan jenisnya. Tetapi cinta (tresno) di sini memiliki arti yang sangat luas.
Seperti itulah awal mula kecintaan saya dalam menulis. Kebiasaan terus menerus digembleng dalam penulisan membuat jadi cinta menulis. Selain itu, untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik juga diperlukan berbagi informasi dan ide dengan rekan yang juga mempunyai passion menulis. 
ADVERTISEMENT
Biasanya memang sulit memulai untuk menulis, tetapi akan lebih mudah jika sudah terbiasa. Bahkan kalau orang sudah terbiasa menulis, akan ada yang kurang dalam dirinya jika tidak menulis. 
Seorang pranata humas itu harus mampu menulis dengan cinta. Sehingga hasil tulisannya mampu menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
Penulis : I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom
Jabatan : Pranata Humas Ahli Pertama Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur