Entertainment
·
27 Agustus 2021 22:27
·
waktu baca 6 menit

Pandemi dan Pola Hidup Sehat

Konten ini diproduksi oleh I Gede Alfian Septamiarsa
Pandemi dan Pola Hidup Sehat (40609)
searchPerbesar
Kondisi sebelum dan sesudah menerapkan pola hidup sehat (foto : dokumen pribadi)

Pandemi COVID-19 ini membuat berbagai kondisi tidak menentu. Hingga kini Indonesia dan berbagai negara masih berjuang untuk melawan virus COVID-19. 

ADVERTISEMENT
Setiap harinya terdapat penambahan kasus angka positif COVID-19. Masyarakat pun selalu diperingatkan oleh pemerintah untuk mengikuti protokol kesehatan karena hal tersebut menjadi kebutuhan kita semua.
Tentu tidak mudah untuk menghentikan penyebaran virus COVID-19. Salah satunya, kita dianjurkan untuk meningkatkan imun tubuh supaya dapat menangkal COVID-19. Untuk meningkatkan imun tubuh yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat, selain juga disiplin terhadap protokol kesehatan (prokes). Seperti pakai masker, menjaga jarak yang aman, dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. 
Di masa pandemi seperti saat ini, berdasarkan hasil penelitian dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan AS, obesitas bisa meningkatkan risiko penyakit kronis yang terkait dengan Covid-19.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Obesity Review yang meneliti sekitar 399.000 pasien yang dirawat di rumah sakit. Dalam penelitian itu, periset membuktikan orang dengan obesitas menjadi komorbid yang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi atau tertular COVID-19.
ADVERTISEMENT
Bahkan presentase risiko tersebut bahkan mencapai 113 persen lebih tinggi daripada orang dengan berat badan ideal.
Melihat kondisi demikian, menjadikan diri sendiri dan istri was-was dengan berat badan yang semakin menambah dari hari ke hari. 
Berawal dari kesadaran diri, membuat saya memberanikan diri bersama istri saya untuk menerapkan pola hidup sehat. Tepatnya Bulan Juni 2020, kami berkonsultasi dengan rekan sejawat istri yang sama-sama dokter untuk menanyakan bagaimana agar berat badan menjadi lebih berkurang.
Apalagi dengan riwayat genetik dari keluarga saya terdapat hipertensi, kolesterol, diabetes. Begitu juga dengan istri saya juga terdapat riwayat genetik kanker. Dan memang benar untuk hasil laboratorium rutin saya, kondisi kolesterol berada di atas rata-rata normal.
ADVERTISEMENT
Dengan penjelasan dari rekan sejawatnya istri tersebut, akhirnya kami memulai menerapkan pola hidup sehat yang diajarkan. Setiap hari kita dipantau dan diajarkan bagaimana menerapkan pola hidup sehat. 
Pandemi dan Pola Hidup Sehat (40610)
searchPerbesar
Ilustrasi Olahraga Lari. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Pola hidup sehat tersebut salah satunya melalui diet yang sehat. Cara ini memang merupakan salah satu cara yang efektif untuk menurunkan berat badan sekaligus mengurangi kolesterol.
Ada yang bilang untuk diet itu tidak makan nasi, tidak makan mi? Ada yang bilang minum banyak biar mengurangi rasa lapar? Ada yang bilang harus minum obat tertentu agar bisa kurus? Ada yang bilang juga makan makanan tanpa gula dan garam? 
Memang semua itu ada benarnya, namun tidak semuanya baik diterapkan untuk semua orang. Karena setiap kondisi badan itu memerlukan cara yang berbeda-beda. 
ADVERTISEMENT

Namun sayangnya, masih banyak orang yang melakukan diet tidak sehat misalnya dengan menyiksa diri dengan rasa lapar berlebihan serta mengonsumsi obat diet berbahan kimia, hingga pencahar.

Padahal, menerapkan diet yang salah dapat menimbulkan efek samping seperti sakit. Cara diet sehat tidak hanya membuat diri kita mendapatkan berat badan ideal, tetapi juga memiliki tubuh yang sehat.
Kita tidak perlu menyiksa diri dengan mengurangi porsi makan secara drastis, mengonsumsi makanan yang tidak enak, ataupun membuat diri sendiri kelaparan.
Ada yang perlu diperhatikan dalam diet, bahwa tubuh kita itu terdiri dari empat elemen penting. Di antaranya, lemak, otot, tulang, dan air. Keempatnya saling berkaitan satu sama lain. Jika selama ini kebanyakan orang berpatokan dengan timbangan kilogram, ternyata ada komposisi tubuh lainnya yang perlu diperhatikan seperti viceral fat, prosentase lemak, presentase otot, BMI.
ADVERTISEMENT
Diet sendiri ada restriksi kalori. Tentunya hal ini juga mempengaruhi otot. Otot bisa semakin menurun kinerjanya jika tidak diimbangi olahraga dan protein yang cukup. Sementara peran otot merupakan mesin untuk pembakaran lemak.
Semakin besar otot yang kita bentuk, maka akan semakin cepat pula pembakaran lemak. Jika semakin kecil otot yang kita miliki, akan memperlambat kerja pembakaran terhadap lemak dalam tubuh.
Inilah mengapa banyak orang diet, tanpa makan, tanpa olahraga ototnya semakin kecil. Tetapi perut masih terlihat buncit. Meskipun di anggota tubuh sudah mengecil. Karena dengan otot kecil akan memperlambat kerja pembakaran lemak.
Padahal cara diet sehat juga merupakan cara mencintai tubuh dengan mengonsumsi makanan dan minuman sehat serta gaya hidup yang sehat.
ADVERTISEMENT
Kita perlu menghilangkan kebiasaan yang membuat tubuh diri sendiri sampai kelaparan. Diet dengan menahan lapar secara berlebihan biasanya justru akan menjadi jalan untuk balas dendam dengan makan berlebihan.
Kasus ini sudah banyak terjadi dan seringkali akan berakhir dengan kegagalan. Meninggalkan perut hingga kondisi lapar hanya akan membuat Anda semakin sulit menahan nafsu saat ada makanan. Akibatnya, kita akan melupakan cara diet sehat dan malah memakan apa pun yang ada di depan diri kita sendiri. Bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit karena tidak makan berhari-hari atas nama diet.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, selalu sediakan bekal sehat di dalam tasmu. Makanan porsi yang cukup tapi bergizi tinggi cukup lengkap karbohidrat, protein untuk dapat memenuhi kebutuhan tubuh kamu seketika tanpa meninggalkan kalori yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
Bahkan saya dan istri dengan menerapkan pola hidup sehat ini, membuat kami kompak untuk sering mengutak-atik menu masakan di dapur. Memasak jadi hobi baru kami berdua. Dan kami berdua tetap makan nasi putih, mi maupun roti untuk asupan gizi yang cukup.
Pola hidup sehat lainnya yang bisa diterapkan yaitu dengan olahraga. Olahraga adalah kebutuhan setiap orang, apalagi untuk orang yang kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas. Olahraga merupakan kunci penting untuk menurunkan berat badan. Sebab mengatur pola makan saja tidak cukup untuk menurunkan berat badan secara sehat. 
Namun ada yang perlu diperhatikan bagi seseorang dengan berat badan yang lebih atau overweight. Orang yang memiliki berat badan berlebih atau sampai obesitas akan merasakan beban tekanan yang sangat besar pada lutut, pinggang, panggul, dan pergelangan kaki saat beraktivitas.
ADVERTISEMENT
Sehingga untuk tetap menjaga kesehatan tulang, olahraga untuk orang obesitas yang dianjurkan adalah jenis olahraga low-impact.
Olahraga low-impact adalah segala jenis olahraga yang sangat minim tekanan pada tubuh dan persendian. Oleh karena itu, olahraga low-impact tidak pakai gerakan melompat dan biasanya ada satu kaki yang tetap di tanah atau lantai sepanjang waktu.
Olahraga ini bisa dilakukan dalam kurun waktu setidaknya 30 menit, dilakukan 4-5 kali seminggu. Kita bisa mulai latihan dengan pemanasan 5 menit dan mengakhiri dengan pendinginan selama 5 menit. Ada banyak contoh video olahraga low-impact yang bisa dilakukan dengan melihat YouTube. 
Selain itu, olahraga untuk obesitas yang paling murah dan mudah adalah jalan kaki. Anda bahkan tidak butuh banyak perlengkapan untuk melakukan olahraga ini. Berjalan memang tidak terlalu banyak membakar kalori. Namun, harus diingat, ketika orang yang obesitas menjalankannya, maka pembakaran bisa lebih banyak. Sebab, dibutuhkan energi lebih banyak yang dikeluarkan oleh orang obesitas dibandingkan orang yang berat badannya normal.
ADVERTISEMENT
Dan jangan lupa tubuh kita perlu ditunjang dengan multivitamin yang lengkap agar tetap segar di badan meskipun kita sedang melakukan pola hidup sehat ini. Untuk menjaga otot perlu juga ditunjang dengan protein yang cukup bisa dengan protein nabati maupun hewani. 
Dengan cara-cara yang diajarkan oleh kami biasa menyebut mereka sebagai mentor tersebut mampu membuahkan hasil yang terbaik bagi tubuh saya dan istri. Istri saya sampai turun 20 kg, sementara saya turun dari 73 kg ke 66 kg. Viceral fat istri saya dari 15 menjadi 7,5. Sementara saya dari viceral fat 11,5 turun menjadi 8,5. Kolesterol saya pun berhasil turun, tidak lagi di atas normal.
Meski demikian, kebiasaan pola hidup sehat ini terus kami teruskan. Kami pun menularkan pola hidup sehat ini ke keluarga kami berdua. Dan bersyukur berat badan tidak lagi naik ke kondisi semula.
ADVERTISEMENT
Penulis : I Gede Alfian Septamiarsa
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020