Opini & Cerita
·
7 Oktober 2020 15:41

Cerita Tipu Daya Pelaku Pesugihan

Konten ini diproduksi oleh Generasi Milenial
Cerita Tipu Daya Pelaku Pesugihan (361012)
Ilustrasi pesugihan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan.
“Sebentar lagi kita sampai,” ucap Pak Tomo sambil tersenyum kecil.
ADVERTISEMENT
Aku hanya mengikuti langkahnya yang sesekali terhenti akibat semak belukar. Sudah berkali-kali kami menemukan berbagai semak belukar dan jalur berlumpur karena tempat ini adalah hutan yang aku rasa jarang sekali orang berkunjung.
Adapun aku pergi bersama Pak Tomo karena dia adalah satu-satunya orang yang memberikanku harapan. Pabrik tempatku bekerja belum lama ini menendang pantatku ke luar sehingga membuatku mendarat dengan keras di atas nasib bernama pengangguran.
Hal tersebut terjadi karena seseorang entah siapa memberitahuku bahwa aku sering menyelundupkan sepatu reject atau cacat untuk dijual lagi. Aku bisa berbicara seperti itu karena tak mungkin HRD tiba-tiba memaki-makiku di ruangannya tanpa ada orang lain yang tertawa di belakangku.
Sudah dua bulan aku luntang-lantung mencari pekerjaan tetap, tapi belum ada yang mau menerima. Adapun aku pernah mencoba untuk menjadi ojek online dengan menggunakan akun yang aku pinjam dari seorang kawan. Tapi, hasilnya menurutku masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan aku, istriku, dan tiga orang anakku yang dua di antaranya gemar meminta uang jajan.
ADVERTISEMENT
Hampir saja aku berjabat tangan dengan lintah darat jika saja aku tidak bertemu dengan Pak Tomo. Pak Tomo adalah salah satu orang berada di kampungku. Rumahnya besar, mobilnya banyak, dan kecantikan istri keduanya tidak usah diragukan lagi.
Ia mengaku bahwa semua itu ia dapat karena bisnisnya yang ada di mana-mana. Pak Tomo menghasilkan uang dari bisnis pengolahan limbah plastik dan peternakan ikan lele yang berada tak jauh dari tempatnya tinggal.
Meski begitu, ia adalah pribadi yang baik hati, ramah, dan merakyat. Jika tidak, tak mungkin aku bisa bercerita tentang pak Tomo dan kesuksesannya. Pria berambut putih karena uban itu sering sekali datang ke warung kopi di jalan masuk desa lalu mulai membicarakan apa saja sambil minum kopi dan membakar berbatang-batang rokok.
ADVERTISEMENT
Aku senang mendengar pengalaman-pengalaman hidupnya. Dia dituakan bukan karena umur, tapi juga karena orang-orang takjub dengan pengalaman hidupnya, termasuk aku. Dulunya Pak Tomo hanyalah seorang pengayuh becak yang penghasilannya tak lebih untuk makan satu hari.
Meski begitu, Pak Tomo mampu menjalin relasi dengan banyak orang. Hal itu adalah salah satu faktor yang membuatnya bisa berkembang dan seperti sekarang. Adapun faktor lain yang membuatnya sukses selalu ia sebut-sebut dalam kisah suksesnya, tapi tak sedikitpun ia memberitahu itu kepada kami. Pak Tomo menyebutnya adalah faktor X.
Sejak pertama kali Pak Tomo membicarakan faktor X, aku selalu membayangkannya. Jika ia merahasikan faktor tersebut, aku yakin itu merupakan suatu jalan yang mulus untuk mencapai kesuksesan.
ADVERTISEMENT
Aku sempat beberapa kali bertanya kepada Pak Tomo mengenai faktor X, namun ia selalu menolak sambil tertawa. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun tentang faktor X hingga ia menemukanku sedang menangis di warung kopi karena pemecatan seakan membuat hidupku babak belur.
“Kalau kamu kaya gini terus, mending kamu ikut aku nanti,” ucap Pak Tomo setelah menghembuskan asap rokok kreteknya.
“Mau ke mana kita?” tanyaku.
“Lah, selama ini kamu suka nanyain aku soal faktor X kan?” jawabnya.
Percakapan tersebut kemudian membawaku ke sini. Sebuah hutan yang berada di kaki gunung yang tak jauh dari desa tempatku tinggal.
Hutan ini sekilas agak menyeramkan karena tidak ada siapapun kecuali aku dan Pak Tomo. Aku banyak mendengar cerita-cerita yang cukup menyeramkan terkait hutan ini, tapi untungnya Pak Tomo gemar bercanda, sehingga pikiran-pikiran tersebut teralihkan dengan canda tawa kami sepanjang perjalanan.
ADVERTISEMENT
“Ya, kita sudah sampai,” ucap Pak Tomo sambil mengambil posisi duduk.
Di hadapanku ada sebuah pohon beringin besar yang aku rasa usianya lebih tua dari usiaku sendiri. Hanya saja yang membuatku aneh, di bawah pohon tersebut terdapat banyak kembang berserakan dan sebuah kendi yang sudah pecah. Jika seperti ini, aku tahu bahwa tempat ini adalah tempat pesugihan.
Dugaanku benar, dari dalam tasnya, Pak Tomo mengeluarkan kembang, kemenyan, dan alat wadah untuk membakarnya. Ia sama sekali tidak terlihat takut. tangannya seperti sudah terbiasa mempersiapakan barang-barang tersebut karena dia bisa melakukannya sambil membakar rokok.
“Mau ngapain, Pak, kita di sini?” tanyaku.
“Ini faktor X nya,” ujar pak Tomo dengan santai.
“Tapi, ini pesugihan, Pak?” jawabku.
ADVERTISEMENT
“Ya memang pesugihan. Kamu kalau mau cepet sukses begini caranya,” ujar pak Tomo.
“Terus aku di sini harus ngapain?” aku bertanya lagi.
“Kamu perhatikan dan ikuti aku kalau mau kaya, tapi tolong jangan bilang siapa-siapa,” jawab Pak Tomo dengan memasang ekspresi serius.
Citra Pak Tomo di hadapanku hancur sudah. Sosok yang aku pikir bisa menjadi panutan hanya orang tua penggemar ritual klenik. Tak banyak bicara, aku berlari meninggalkan Pak Tomo.
Samar-samar, dari kejauhan aku mendengar Pak Tomo seperti melontarkan kalimat sumpah-serampah terhadapku. Aku tak menghiraukannya dan memilih untuk pulang.
Semenjak itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Pak Tomo. Bukan karena tidak ingin menemuinya, tapi aku sudah tidak mampu lagi berjalan. Untuk ke kamar mandi saja aku harus dibantu oleh istriku. Badanku rasanya seperti mau patah.
ADVERTISEMENT
Yang membuatku tak habis pikir adalah pernyataan dari setiap dokter yang aku temui. Aku sudah pergi ke tiga klinik dan satu rumah sakit. Namun, tidak ada dokter yang mengetahui penyakit yang aku derita sampai sekarang. (bel)