Penut: Teka-teki Kematian Suami Kak Siseh (Part 5)

Generasi Milenial
Konten dari Pengguna
6 Oktober 2022 16:16
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerita horor Penut bagian 5 Teka-teki Kematian Suami Kak Siseh. FotO: Pixabay/ArtTower
zoom-in-whitePerbesar
Cerita horor Penut bagian 5 Teka-teki Kematian Suami Kak Siseh. FotO: Pixabay/ArtTower
ADVERTISEMENT
Namanya Mat Hanu. Orang-orang memanggilnya Mathan. Sejak kecil hidupnya sudah sengsara semenjak ditinggal kedua orang tuanya yang meninggal dalam tragedi kebakaran.
ADVERTISEMENT
Sudah ditinggal orang tua, dalam semalam Mathan juga sudah tidak memiliki rumah lagi akibat tragedi itu. Untung saja ada kakeknya yang bersedia mengurus Mathan sampai besar.
Belum sepenuhnya dewas, Mathan sudah harus bekerja banting tulang di sawah. Dia hanya mampu menyelesaikan pendidikan SMP karena kemauannya sendiri. Katanya, pendidikan bukan untuknya.
Dia menjadi buruh tani yang selalu datang tepat waktu ke sawah orang lain. Kerjanya pun bisa dibilang sangat memuaskan. Saat menjadi buruh tani itulah dia bertemu Siseh.
Bapaknya Siseh adalah salah satu orang yang menggunakan jasa Mathan untuk menggarap sawah ketika itu. Siseh sendiri punya tugas untuk mengantarkan makanan ke sawah. Ketika mereka bertemu, sepertinya obrolan mereka cukup cocok.
Dua bulan kemudian, rumor mengatakan kalau mereka sudah pacaran. Namun, orang tua Siseh dikenal religius. Ketika mendengar rumor pacaran itu, mereka langsung memaksa Siseh dan Mathan untuk menikah.
ADVERTISEMENT
Pernikahan itu terjadi secara sederhana dan tidak neko-neko. Semua kerabat senang. Mathan dan Siseh pun bahagia. Namun, setelah menjadi kepala keluarga, Mathan tidak bisa menjadi buruh tani lagi. Uang dari menjadi buruh tani tidak cukup membiayai keluarganya.
Dia pun kemudian mencoba menjadi sopir truk. Uang yang didapatnya menjadi sopir terbilang lumayan. Tapi pekerjaan itu memaksanya sering berada di luar rumah.
Saat menjadi sopir truk itulah Mathan sering cari musuh. Dia sering menabrak truk saingannya dengan sembrono, sering mengajak bertengkar, dan suka mabuk-mabukan.
Waktu kecelakaan dan meninggal, banyak yang berspekulasi soal kemungkinan musuhlah yang menjadi dalang di balik kematian Mathan. Namun, karena tidak ada bukti, kematian Mathan dianggap hanya kecelakaan biasa. Kecelakaan biasa yang membuat wajah Mathan tidak berbentuk seolah habis dikuliti setan.
ADVERTISEMENT
***
Paman Kadrun berhenti bercerita untuk menghabiskan rokoknya. Dia melirik ke belakang untuk melihat apakah Bapak sudah kembali. Aku yang bertanya tentang suami Kak Siseh pada Paman Kadrun masih penasaran kenapa penut itu menyamar sebagai suami Kak Siseh.
“Itulah, Din. Kalau orang punya banyak musuh waktu masih hidup, pas dia mati, yang hidup juga masih dimusuhi.” Paman Kadrun mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, “Mathan itu orang teledor, gegabah, suka cari masalah. Paman yakin, penut yang ngincar mayat anaknya Siseh itu dari suruhan musuh Mathan.”
“Lalu, bagaimana cara mengusir penut itu, Paman?”
“Waduh, gimana ya? Paman juga tidak tahu. Yang penting kita jaga kuburan ini selama 40 hari.”
Aku mengangguk tanda mengerti. Paman Kadrun menyuruhku tidur setelah perbincangan panjang kami. Tapi, harusnya aku tidak mengikuti ucapan Paman Kadrun. Harusnya aku bangun.
ADVERTISEMENT
Ketika aku bangun dini harinya, mayat keponakanku sudah dicuri. Kuburannya menganga lebar seolah menertawakan usaha kita semua selama ini untuk menjaganya. (day)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020