kumparan
25 Mei 2018 15:41 WIB

Superioritas Jangan Lebih Besar dari Toleransi

*Notifikasi Grup WhatsApp* F: .... Mau share perihal doa berbuka Puasa. Mungkin selama ini yg selalu terdengar dan terucap itu yg "Allahumalakasumtu", yuk mulai sekarang diganti. "Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah" .... G: Ustad yang ngajarin pake "Allahumalakasumtu" gak sahih gitu ya? Hadeuh. F: Saya gak bilang yg "Allahumalakasumtu" itu ga sahih, Rald. Selama ada yg lebih sahih dan afdol kenapa tidak kan? G: (((Lebih Sahih)))
ADVERTISEMENT
Beberapa waktu belakangan ini setelah bom di Surabaya, saya jadi cukup respon terhadap chat-chat copy-paste yang masuk di grup WhatsApp, baik dari grup alumni sekolah atau teman sepermainan. Sebelumnya bisa dibilang sangat tak acuh terhadap narasi seperti itu. Bodoh amat, toh saya percaya apa yang diyakini ini tidak salah. Dan khalayak umum pun masih meng-amini Allahumalakasumtu. Serta lebih ke malas untuk berdebat. Sadar diri tidak memiliki dasar ilmu agama yang mendalam.
Karena saat itu pembahasan doa berbuka ini ramai di media sosial, Gus Nadir (Nadirsyah Hosen) sempat menjawab topik ini dengan bijak. “Doa itu tidak ada yang keliru, boleh baca doa apa saja. Kalau mau mengikuti hadits Nabi, kedua versi doa buka puasa ‘Allahumma laka shumtu’ dan ‘dzahaba al-zhama’ keduanya dianggap dhaif. Boleh baca doa apa saja. Jangan gara-gara beda teks doa saja sudah menyalah-nyalahkan orang lain”. Sejuk kan? Jawaban orang yang berilmu dan berimbang.
ADVERTISEMENT
Saat news feed atau timeline media sosial tentang bom di Surabaya dianggap pengalihan isu oleh beberapa kawan. Saya sadar bahwa sel tidur itu memang sudah menjamur pada lingkaran perkawanan. Sel tidur yang sering disemai dari rasa jumawa bahwa prinsip diri sendiri adalah yang lebih baik dari prinsip yang lain, hingga timbul rasa prinsip pribadi yang paling benar dan yang lain sesat.
Teologi kebenaran tunggal. Tidak ada toleransi di luar paham yang dia yakini. Mungkin kawan saya di atas masih cukup toleran dengan tidak menyatakan bahwa doa berbuka yang selama ini saya gunakan tidak sahih, tapi dengan jawaban “lebih sahih” saya kira itu bukan jawaban yang bijak. Muncul rasa superioritas bahwa doa yang dibacakannya lebih andal dari doa yang lain.
Ilustrasi toleransi beragama (Foto: Patathomas/Flickr)
Hampir dua tahun saya hidup menjadi minoritas sebagai muslim di Negeri Kincir Angin. Negara yang menurut data statistik masyarakat beragamanya semakin lama semakin berkurang dan lebih memilih menjadi tidak beragama. Di luar itu, mereka sangat terbuka kepada kita yang beragama, karena bagi mereka agama merupakan privasi seseorang yang tidak perlu dicampuri urusannya.
ADVERTISEMENT
Tidak ada diskriminasi atau stigma saat warga muslim berbondong-bondong jalan atau sepeda-an menuju bangunan yang terdapat ruangan studio untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah. Ruangan yang disewa oleh komunitas muslim di kota tempat saya tinggal sebelumnya, Wageningen, dijadikan masjid bersama. Komunitas muslim yang diisi oleh berbagai warga negara seperti Maroko, Indonesia, Bangladesh, Mesir, dan banyak juga dari Afrika serta Timur Tengah.
Masjid diisi oleh berbagai mazhab, yang secara internal muslim sendiri ada beberapa perbedaan tata cara ibadah. Tetapi perbedaan itu tak serta merta menjadikan kita pengaku mazhab paling sahih. Sama seperti di Indonesia dimana mesjid ada yang salat tarawih 8 rakaat dan 20 rakaat. Woles aja, dipilih berdasarkan keyakinan kalian. Tak perlu jadi superior dengan merasa sebagai umat yang paling sahih.
ADVERTISEMENT
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa yang sangat pas bagi saya untuk menjadi toleran dan menghormati adat istiadat saat melakukan salat di mesjid, di Belanda.
Salah satunya saat saya akan solat di mesjid Turki. Di sana, jamaah diharuskan untuk menggunakan kaos kaki saat memasuki mesjid. Sehingga selesai berwudhu, mau tidak mau kaki yang basah harus dikeringkan terlebih dahulu, lalu menggunakan kaos kaki.
Padahal di Indonesia beberapa ulama mengatakan bahwa tetesan wudhu akan menjadi pahala tersendiri saat kita salat. Tapi menurut masyarakat Turki penggunaan kaos kaki merupakan adab kesopanan, dan mungkin di sisi lain agar karpet mesjid tidak bau kaki.
Kondisi ini mewajibkan saya mengikuti adat mereka, bukan menjadi keukeuh dengan prinsip sendiri dan akhirnya tidak ikut salat berjamaah di mesjid. Apalagi mencari dalil adab ini untuk mendapatkan kesahihannya. Ohemjey.
Ilustrasi keberagaman (Foto: Pixabay)
Ramadhan tahun ini karena kebetulan saya berpindah ke pinggiran Amsterdam, Reigersbos namanya. Di sana mayoritas adalah warga Afrika, dan mesjidnya pun dikelola oleh mereka. Mesjid-mesjid di Belanda ini bervariasi, ada yang dibangun oleh masyarakat Turki, Pakistan, Maroko, Arab Saudi, Warga Afrika, dan juga mesjid masyarakat Indonesia. Untuk yang terakhir baru ada dua, di Den Haag dan Amsterdam.
ADVERTISEMENT
Ada perbedaan salat terawih di sini dengan di Indonesia, di sini Witir rakaat terakhir setelah Iktidal membaca Qunut sebelum Sujud. Mungkin ada beberapa mesjid di Indonesia yang sama, tapi doa Qunut imam di mesjid ini sangat panjang sekali. Durasinya mungkin sama dengan kita solat empat rakaat. Hampir seminggu ini, meski imam-nya berbeda, durasi dan pelafalan doanya kurang lebih sama.
Uniknya bukan perihal Qunut-nya, tetapi saat semua makmum membaca “aamiin” untuk setiap doa dalam Qunut. Sebelum Witir dimulai, imam akan mengingatkan untuk mengecilkan volume suara “aamiin” dari jamaah saat Qunut. Anjuran itu dikeluarkan agar tidak mengganggu masyarakat sekitar yang sedang istirahat.
Hal ini dikarenakan, intensitas “aamiin” yang banyak dan durasi yang panjang. Terlebih lagi, solat Isya baru dimulai pukul 23.00, yang mana jalanan sudah sepi. Otomatis, jika volume “aamiin”-nya kencang akan menggema ke luar ruangan sehingga mengganggu orang yang sedang tidur.
ADVERTISEMENT
Dari hal ini saya tersenyum, betapa tolerannya mereka kepada masyarakat lain.
Mayoritas warga Belanda pun selalu menciptakan suasana aman saat muslim sedang beribadah, selama ini saya tidak pernah mengalami stigma dan diskriminasi.
Umat muslim saat beribadah (Foto: AFP PHOTO / Olivier Douliery)
Di Indonesia beberapa hari belakang muncul lagi berita penyerangan (19/05/2018) kepada jemaat Ahmadiyah yang dilakukan sebanyak tiga kali dan mengakibatkan delapan rumah rusak, empat sepeda motor hancur, serta sebanyak 24 orang harus dievakuasi ke Kantor Polres Lombok Timur. Peristiwa ini menambah lagi daftar kejadian intoleran di Indonesia.
Ini bukan pertama kalinya Jemaat Ahmadiyah mendapat penyerangan dari masyarakat intoleran. Derita jemaat Ahmadiyah dimulai sekitar tahun 1999, saat itu Ahmadiyah Lombok kali pertama diserang oleh orang-orang yang menginginkan mereka keluar dari keyakinannya. Mesjid Ahmadiyah di Bayan, Lombok Barat dibakar. Kasus intoleran lain yang sampai saat ini tidak menemukan penyelesaiannya adalah umat Syiah di Sampang Madura, yang terusir dari kampung halamannya sendiri.
ADVERTISEMENT
Betapa mirisnya perbedaan ini menjadikan orang-orang intoleran ini melakukan kekerasan kepada sesama masyarakat Indonesia. Jika memang dianggap aliran mereka berbeda, apa memang kita sebagai manusia tidak bisa hidup berdampingan, rukun, dan berbahagia?
Berikut ini saya kutip dari potongan-potongan tulisan Quraish Shihab yang sangat cocok bagi kaum intoleran untuk ditelaah. “Jika Anda telah menemukan 99% dalil yang menunjukkan kekufuran seseorang, jangan tetapkan kekufurannya sampai bulat 100%. Maksudnya, biarlah kita berbeda sambil menyerahkan kepada Allah untuk memutuskan pada hari kemudian siapa di antara kita yang benar. Biarlah masing-masing kita mengikuti apa yang kita anggap benar, tanpa saling mempersalahkan dalam kehidupan dunia ini. Satu hal yang perlu dicatat bahwa toleransi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan agama, sebagaimana keyakinan agama tidak boleh dikorbankan demi toleransi.”
ADVERTISEMENT
Teruntuk kalian yang merasa selama ini menjadi silent reader dan menganggap isu toleransi itu penting, sudah saatnya tidak mentolerir kaum intoleran. Seperti kata Karl Popper. “The paradox of tolerance: Unlimited tolerance must lead to the disappearance of tolerance. If we extend unlimited tolerance even to those who are intolerant, if we are not prepared to defend a tolerant society against the onslaught of the intolerant, then the tolerant will be destroyed, and tolerance with them.”
Geraldine Fakhmi Akbar, loper koran di Belanda.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan