Buzz
·
20 Juli 2021 14:55
·
waktu baca 2 menit

Toxic Parents dan Sandwich Generation

Konten ini diproduksi oleh Gideon Budiyanto
Toxic Parents dan Sandwich Generation (81758)
searchPerbesar
Image by Ulrike Mai from Pixabay
Menjadi orang tua tentu tidak mudah. Mereka harus merawat dan memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Terkadang, orang tua harus membanting tulang sedemikian rupa agar anak-anaknya bisa terpenuhi kebutuhannya, baik secara jasmani maupun pendidikan.
ADVERTISEMENT
Menjadi seorang anak juga tidak mudah. Mereka harus selalu mentaati dan mendengarkan apa kata orang tua meski terkadang tidak sesuai dengan keinginannya.
Kata berbakti pun sering dilontarkan oleh orang tua agar supaya si anak terus menurut. Apalagi berbakti itu sering kali disertai dengan berbagai ‘ancaman’ dan ‘peringatan’, agar tidak dilaknat oleh Tuhan atau menjadi seperti Malin Kundang.
Sering kali orang tua tidak menyadari bahwa hal-hal yang dibalut dengan sikap berbakti bisa menjadi toxic bagi kehidupan si anak.
Sebagai seorang anak, tentunya kita ingin membahagiakan orang tua kita sebatas kemampuan kita.
Namun terkadang, tuntutan dari orang tua membuat kita akhirnya melakukan segala cara supaya mereka bahagia, bahkan kalau perlu sampai mengorbankan kehidupan dan kebahagiaan kita sendiri.
ADVERTISEMENT
Hubungan antara orang tua dan anak yang seharusnya berlandaskan cinta kasih dan pengertian berubah menjadi hubungan yang penuh dengan toxic.
Akibatnya, kita akan menuntut anak kita juga untuk melakukan hal yang sama karena mindset kita sudah dibentuk bahwa untuk berbakti dan membahagiakan orang tua harus seperti itu.
Jadi akhirnya, si anak akan berusaha membahagiakan orang tuanya, juga keluarganya sendiri dan anaknya apabila ia sudah memilikinya sama seperti sandwich yang bertumpuk.
Ditambah lagi apabila kondisi keuangan si anak pas-pas an, pasti akan menambah beban mental tersendiri.
Hal seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila ada kesadaran dari kedua belah pihak untuk memutusnya.
Orang tua mau mengerti kondisi anaknya dan anak mengetahui kemampuan yang bisa ia berikan kepada orang tuanya.
ADVERTISEMENT
Jangan jadikan hubungan orang tua dan anak sebagai hubungan transaksional.
Mungkin kita sebagai anak tidak bisa lagi mengubah apa yang telah terjadi dengan orang tua kita tapi kita sebagai orang tua bisa mengubah apa yang harus kita lakukan untuk anak kita.
Berikan anak-anak kita yang paling baik dan biarkan mereka bertumbuh secara sehat.
Jangan jadikan anak kita sebagai investasi atau tabungan yang pada saatnya kita dapat menuntut mereka memberikan semua yang kita mau karena kita sudah membesarkan mereka.
Aturlah kehidupan kita sebagai orang tua agar tidak menjadi beban anak di kemudian hari.
Sehingga kita bisa bertanggung jawab sebagai healthy parents buat anak-anak kita demi masa depan mereka.