Ladd dan Calkins, Pejuang Perempuan Awal dalam Psikologi

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
1 Desember 2022 20:23
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Glen Christianov tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://pixabay.com/images/id-2422442/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://pixabay.com/images/id-2422442/
ADVERTISEMENT
Kalau ditanya apa jurusan kuliah yang paling diminati oleh perempuan, mungkin banyak orang akan menjawab psikologi. Tak bisa dimungkiri bahwa ruang kelas di tiap universitas dengan program studi psikologi dipenuhi dengan perempuan. Menurut data dari American Psychological Association, pada tahun 2017-2018 mahasiswi perempuan pascasarjana pada program studi psikologi di Amerika dan Kanada melebihi laki-laki sebesar tiga banding satu, dan hal ini sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Perempuan sekarang menempati jumlah sekitar tiga-perempat dari para Ph.D. baru di bidang psikologi.
ADVERTISEMENT
Perempuan biasanya lebih tertarik pada disiplin ilmu sosial humaniora dibandingkan dengan laki-laki yang lebih tertarik pada sains dan teknologi. Penelitian yang dilakukan oleh Harton dan Lyons menunjukkan bahwa perempuan tertarik pada psikologi karena mereka menganggap diri mereka lebih berempati daripada laki-laki. Harton dan Lyons mensurvei 451 perempuan dan laki-laki program sarjana psikologi maupun non-psikologi. Hampir semua responden setuju bahwa kepedulian terhadap orang lain merupakan faktor penting dalam memutuskan apakah akan menjadi seorang psikolog, dan perempuan menilai diri mereka lebih empatik. Itulah mengapa psikologi saat ini didominasi oleh perempuan.
Jika kita melihat ke belakang, psikologi masih jauh dari “sentuhan” perempuan. Di dalam sejarahnya, psikologi sama seperti disiplin ilmu lain yang mayoritas ilmuwannya adalah laki-laki kulit putih dengan latar belakang Eropa. Sulit sekali pada masa-masa awal psikologi modern berkembang perempuan bisa mengejar karier dalam bidang psikologi. Sangat sedikit universitas yang menyediakan tempat bagi perempuan untuk mendapatkan gelar di bidang psikologi.
ADVERTISEMENT
Perempuan pertama yang menjadi pelopor dalam dunia psikologi modern adalah Christine Ladd-Franklin (1847-1930). Dia adalah pakar dalam bidang penglihatan warna. Karya-karya Ladd seperti Colour and Colour Theories, Practical Logic and Color Theories, A New Theory of Light Sensation, dan beberapa karya lainnya telah memberikan kontribusi besar dalam dunia psikologi. Walaupun segudang karya telah dihasilkan oleh penerima gelar kehormatan “Legum Doctor” (LL.D.) oleh Vassar College ini, sejarah karier Ladd tidak begitu mulus. Pada tahun 1882, Ladd telah menyelesaikan semua persyaratan untuk mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang matematika di Universitas Johns Hopkins. Tapi Universitas Johns Hopkins menolak memberikan gelar itu kepada Ladd karena mereka tidak menerbitkan gelar itu untuk perempuan. Baru pada tahun 1926, empat puluh empat tahun setelah Ladd menyelesaikan disertasinya, Universitas Johns Hopkins akhirnya menganugerahkan gelar itu kepadanya. Ladd juga berusaha untuk bisa mengajar di Universitas Johns Hopkins. Walaupun sempat beberapa kali ditolak, pada tahun 1901 Ladd bisa mengajar dalam mata kuliah filsafat. Christine Ladd-Franklin menjadi salah satu wanita pertama yang mengajar di universitas di Amerika.
ADVERTISEMENT
Perempuan lain yang menjadi pelopor adalah murid dari William James (bapak psikologi Amerika), yaitu Mary Whiton Calkins (1863-1930). Calkins merampungkan semua persyaratan untuk mendapatkan gelar Ph.D di Universitas Harvard, tapi Harvard menolak memberikannya dengan alasan yang sama seperti Universitas Johns Hopkins, yaitu tidak memberikan gelar itu untuk perempuan. Meskipun Redcliffe College, sebuah akademi perempuan yang bernaung di bawah Harvard menawarinya gelar doktor pada tahun 1902, Calkins menolaknya. Tanpa patah semangat Calkins terus belajar dan melakukan penelitian sampai dia menjadi pakar dalam bidang psikologi, terutama dalam subjek pembelajaran dan memori jangka pendek. Karyanya An Introduction To Psychology menjadi magnum opus dalam sejarah karirnya. Karena kerja kerasnya, Calkins diangkat menjadi presiden perempuan pertama APA (American Psychological Association) pada tahun 1905.
ADVERTISEMENT
Psikologi adalah disiplin ilmu dengan pergeseran gender yang lebih tinggi dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lainnya. Ini menunjukkan fleksibilitas psikologi sebagai disiplin ilmu yang inklusif terhadap perempuan. Ketika disiplin ilmu lain masih didominasi oleh laki-laki, psikologi berada satu langkah di depan dengan masuknya banyak perempuan di dunia akademiknya. Orang-orang seperti Eleanor Maccoby, Virginia Satir, Martha Bernal, Joyce Brothers, Ruth Westheimer, Brene Brown, dan Marsha Linehan adalah beberapa akademisi perempuan dalam dunia psikologi. Kita bisa belajar bahwa sejarah dapat berubah dengan perjuangan, perempuan-perempuan hebat dalam dunia psikologi telah membuktikan itu.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020