kumparan
20 Jun 2018 14:29 WIB

Erdogan Kampanye Simpatik Gunakan Anjingnya Sementara Pendukungnya di Indonesia Masih Sibuk dengan Isu SARA

ADVERTISEMENT
Presiden Turki Erdogan sedang gencar menggalang kampanye untuk Pemilihan Presiden Turki, 24 Juni 2018. Akun media sosial Erdogan khususnya twitter, sangat aktif menerbitkan bahan-bahan kampanye Erdogan mulai kampanye aksi massa dan tentu saja keberhasilan-keberhasilan Erdogan selama menjadi Presiden Turki. Sebagai Petahana, Erdogan harus mengklaim kemajuan Turki adalah bagian dari kerja kerasnya.
Tapi yang menarik bagi saya adalah salah satu cuitan Erdogan yang mengajak warga Turki untuk menyayangi bintang. Yang lebih menarik lagi, cuitan itu diberi lampiran foto Erdogan sedang mengusap seekor anjing dengan penuh kasih sayang. Menurut pengakuannya dalam cuitan itu, anjing itu adalah milik Erdogan, yang bernama Ciko.
Nama Ciko untuk seekor anjing bukanlah nama asing. Ciko berasal dari nama Hatchiko, seekor anjing Jepang yang sudah difilmkan karena terkenal kesetiaannya, bahkan warga di sana membangun sebuah patung memorial untuk Hatchiko yang setiap sore menunggu tuannya pulang di stasiun kereta, yang menjadi kebiasannya saat tuannya masih hidup. Kesetiaan Hatchiko ini terus berlanjut meski tuannya sudah wafat secara mendadak, dan Hatchiko sendiri sudah tua dan akhirnya juga meninggal.
ADVERTISEMENT
Hayvan dostlarımız, bize Rabbimizin emanetidir. Onlara sahip çıkalım, onları koruyalım.
Kısıklı’da köpeğimiz Çiko ile...
Demikian cuit Erdogan. Yang kira-kira artinya seperti ini:
Teman-teman, hewan kita adalah kepercayaan Tuhan pada kita. Ayo ambil mereka, lindungi mereka.
Dengan anjing kami Çiko di Kısıklı ...
https://twitter.com/RT_Erdogan/status/1008353781262798848?s=19
Bagi yang mengerti relasi antara tuan dan anjingnya, pose Erdogan dan Ciko menunjukkan relasi yang kuat antara Erdogan dan anjingnya. Erdogan mengusap sayang kepala anjing, dan Ciko pun membalas mendongak manja dan menikmati usapan sayang itu.
Kampanye sayang binatang (termasuk anjing peliharaan) adalah bagian dari kampanye Pilpres Erdogan ini, untuk menunjukkan sisi manusiawi dan kasih sayang Erdogan, meski ia banyak dikritik karena kebijakan politiknya yang memberhangus lawan-lawan politiknya, membredel pers-pers yang kritis, menangkapi para aktivis loyalis Fathullah Gulen, yang disebut-sebut sebagai lawan politiknya. Tak hanya itu, menutup sekolah-sekolah, lembaga-lembaga dan yayasan amal yang terafiliasi dengan Gulen.
ADVERTISEMENT
Untuk mempercantik sisi manusiawi Erdogan pun membutuhkan foto yang menunjukkan kasih sayangnya pada seekor anjing.
Kampanye Erdogan ini bisa dikatakan bertolak belakang dengan kelompok-kelompok di Indonesia yang mengaku sebagai pengagum hingga fanatikus Erdogan. Bila Erdogan menjadikan sayang binatang termasuk anjing sebagai bagian dari kampanye Pilpresnya, justeru mereka, fanatikus Erodgan di sini masih sibuk memakai isu SARA atau sekadar cuap-cuap ganti presiden saja tanpa memberikan sosok alternatif yang jelas, hingga program-progam alternatif.
Erdogan yang telah melakukan liberalisasi ekonomi di Turki sampai-sampai menghapus pajak bagi para investor asing agar semakin banyak dana asing masuk ke Turki, paling gigih membela pasar besar dan anti proteksi (karena aturan proteksi merugikan Turki, yang beberapa produknya dilarang masuk di Eropa).
ADVERTISEMENT
Meski terkenal dengan retorika konfrontasinya dengan Israel menjelang Pemilu, tapi Erdogan tetap menjalin hubungan yang mesra dan saling menguntungkan dengan Israel, mulai dari mengimpor senjata dari Israel (agar tidak tergantung dengan Rusia dan AS), menjual jutaan barel minyak ke Israel, hingga mengekspor hasil pertanian Turki ke Israel.
Demikian pula kesetiaan Erdogan pada sistem sekuler di Turki dan kepercayaannya pada sistem demokrasi, meskipun banyak kritik Erdogan memanfaatkan demokrasi prosedural untuk memuluskan ambisi politiknya menjadi sosok yang paling berkuasa hingga dituding otoriter dengan mengubah sistem politik Turki dari parlementer menjadi presidensil, di mana ia sudah menjadi perdana menteri dua kali, dan secara konstitusi dia tidak bisa maju lagi, kemudian dia mengubah menjadi presidensil untuk menjadi pimpinan paling berkuasa di Turki tapi ini semua melalui referendum yang fair bukan melalui kekuatan senjata dan militer.
ADVERTISEMENT
Program-program Erdogan yang mendukung liberalisasi ekonomi, pro pasar bebas, kemesraannya dengan Israel, kesetiaannya pada sekularisme dan demokrasi hingga yang terakhir, ia memiliki seorang anjing bernama Ciko dan dijadikan sebagai bagian kampanye Pilpresnya, yang saya cermati tidak menjadi percakapan para pendukungnya di sini.
Para pendukung Erdogan di sini tak pernah berpikir kritik mengapa Erdogan berhasil berkuasa di Turki selama 15 tahun ini dengan cara yang demokratis? Warga Turki bukanlah warga yang bodoh, kalau mereka tidak melihat keberhasilan Erdogan tentulah mereka tidak akan memilihnya lagi. Dan keberhasilan Erdogan merupakan hasil dari kebijakan-kebijakan yang ia laksanakan yang sudah saya jelaskan di atas yang tak pernah menjadi percakapan para pendukungnya di sini.
ADVERTISEMENT
Adanya jarak yang lebar bahkan bertolak belakang antara apa yang dilaksanakan Erdogan dengan apa yang dipahami oleh pendukungnya di sini menunjukkan tidak adanya pendukung Erdogan yang cerdas di sini, artinya mereka bukan pendukung tapi fanatikus. Fanatikus tak perlu alasan rasional untuk mendukung seseorang. Fanatikus adalah produk manusia robot hasil dari propaganda.
Bagi para fanatikusnya Erdogan dipropagandakan sebagai anti Barat & AS, meski sampai sekarang Turki tetap jadi anggota NATO dan ngotot ingin beli pesawat siluman dan tercanggih produk AS, F-35 dan ingin membeli Rudal Rusia S-400, Erodgan dianggap anti Israel meski sampai sekarang hubungan diplomatik antara Turki dan Israel tetap berjalan, Turki mengimpor senjata dari Israel & Israel mengimpor minyak dan hasil pertanian dari Turki.
ADVERTISEMENT
Propaganda ini bertolak belakang dengan apa yang Erdogan kampanyekan menjelang Pilpres ini. Kampanye Erdogan membeberkan alasan-alasan rasional mengapa ia harus dipilih kembali dengan segunung klem-klem keberhasilannya.
Tapi, meskipun Erdogan sangat gencar memamerkan keberhasilannya memimpin Turki, tampaknya ia masih membutuhkan anjingnya Ciko untuk memperkuat sisi manusiawinya untuk meraih sebanyak-banyaknya simpati para pemilih di Turki.
Mohamad Guntur Romli
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan