• 1

Piala AFF 2010 & 2016, Serupa Tapi Tak Sama

Piala AFF 2010 & 2016, Serupa Tapi Tak Sama



Suporter Indonesia

Suporter Indonesia memberikan dukungan secara maksimal saat pertandingan leg 1 semifinal Piala AFF 2016 (Foto: Aditya Noviansyah)

Kami berada di tengah kompetisi yang sehat ketika itu. Sedangkan, skuat saat ini ada di tengah kondisi karut-marut

- Mantan Bek Timnas Indonesia Maman Abdurahman

Nama Maman Abdurahman bersama rekan-rekan setimnya seperti Irfan Bachdim, Christian Gonzales dan Achmad Bustomi pernah melambung tatkala Tim Nasional (Timnas) Indonesia berkiprah di Piala AFF 2010.
Meski sudah enam tahun berlalu, memori indah itu seakan tak lekang termakan waktu. Sepak terjang Timnas Indonesia yang tadinya hanya menjadi perhatian penggila bola Tanah Air, saat itu bahkan menjadi konsumsi publik untuk kali pertama dalam sejarah. Dari kantoran hingga warung kopi, tidak ada obrolan lebih menarik selain aksi ciamik penggawa timnas menggilas lawan-lawannya. Timnas Indonesia pun menjelma sebagai fenomena.
Sejarah mencatat skuat “Garuda” pernah tampil amat perkasa di hadapan publik sendiri dengan memenangi 5 partai beruntun hingga melaju ke babak final menghadapi Malaysia. Namun, kisah heroik seketika berubah sendu. Maman sendiri menjadi pelaku bagaimana Timnas Indonesia yang tadinya gagah seketika berubah menjadi ayam sayur setelah kecolongan tiga gol tanpa balas di Stadion Bukit Jalil.
Meskipun mampu membalas saat gantian menjamu Harimau Malaya di Jakarta dengan kemenangan 2-1, Indonesia tetap gagal mengangkat piala untuk kali keempat setelah kalah agregat 2-4.
Jika menilik lebih dalam, sejatinya terdapat banyak persamaan antara Timnas Indonesia angkatan Piala AFF 2010 dengan skuat yang baru saja berjibaku tahun ini. Kedua tim sama-sama mampu melaju hingga partai puncak dengan pelatih serupa, Alfred Riedl. Akan tetapi, terdapat perbedaan mencolok terkait kondisi persepakbolaan Tanah Air pada enam tahun silam dengan saat ini.  

Boaz Solossa

Kapten Timnas Indonesia Boaz Solossa beraksi saat melawan Thailand di leg 1 final Piala AFF 2016 (Foto: www.affsuzukicup.com)
Tantangan lebih besar tentu dirasakan Boaz Solossa dan kawan-kawan ketimbang pada 2010 lalu menyusul sanksi Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) terhadap Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Selama setahun belakangan, timnas praktis vakum dari kancah Internasional. Roda kompetisi pun terhenti. Belakangan, muncul Indonesian Soccer Championship (ISC), sebuah liga independen tidak resmi.
“Kondisi tim ini (skuat Piala AFF 2016) benar-benar tidak bagus. Masa persiapan yang mereka miliki tidak cukup panjang. Ditambah jumlah pemain per klub yang dibatasi oleh PSSI. Mereka juga hanya berlaga di sebuah kompetisi yang lebih mirip turnamen,” kata Maman ketika dihubungi kumparan di Jakarta, Selasa (20/12/2016).
Kondisi kontras dirasakan Maman saat memperkuat timnas di Piala AFF 2010. Ketika itu, kondisi persepakbolaan nasional cukup kondusif. Meskipun muncul riak-riak yang menuntut Nurdin Halid mundur dari kursi Ketua Umum PSSI, roda kompetisi resmi tetap bergulir. Persiapan tim serta luji coba juga bisa dilakukan secara maksimal.
“Jika mengacu pada Piala AFF 2010, jelas apa yang dibebankan kepada kedua tim sangat berbeda. Kami saat itu berada di tengah kompetisi yang sehat. Sedangkan skuat saat ini ada di tengah kondisi karut-marut sepak bola nasional,” katanya.

Maman Abdurahman

Maman Abdurahman (Foto: Instagram @memendurehmen56)
PSSI yang kini berada dalam nakhoda baru, sudah sepatutnya berkaca untuk mau memperbaiki tata kelola sepak bola nasional. Mantan kapten Timnas Indonesia Ponaryo Astaman menilai kegagalan kelima kalinya Timnas Indonesia mengangkat trofi sudah sepatutnya dijadikan cerminan bagi kepengurusan baru PSSI.
“Ini bisa dijadikan pelajaran berharga bagi PSSI. PSSI sebagai badan tertinggi sepak bola Indonesia harus mau berubah agar sepak bola kita bisa lebih maju ke depannya,” tandasnya.
Meski demikian, Ponaryo mengatakan apresiasi layak diberikan kepada Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Apalagi, timnas berangkat dalam kondisi yang tidak ideal ke Filipina guna melakoni babak penyisihan grup.
“Keterbatasan rasanya bukan menjadi penghalang bagi mereka. Di tengah kondisi sulit yang dihadapi, mereka mampu terus berjuang dan berhasil jadi runner-up. Perjuangan yang ditunjukan oleh pemain saya pikir patur diapresiasi,” ucap Ponaryo yang mencapai final di Piala AFF 2004 itu.

Sepak BolaPiala AFF 2016Timnas IndonesiaSports

500

Baca Lainnya