• 2

Di Atas Kertas, "Garuda" Tak Juga Juara

Di Atas Kertas, "Garuda" Tak Juga Juara



Boaz Solossa

Kapten Timnas Indonesia Boaz Solossa meratapi kegagalannya saat gagal membawa timnya menjuarai Piala AFF 2016 (Foto: Aditya Noviansyah)
“Indonesia Macan Asia”…“Indonesia Brasil-nya Asia”. Begitulah kira-kira julukan yang disematkan kepada Tim Nasional (Timnas) Indonesia ketika sedang jaya-jayanya. Periode 1950-1980 pernah dianggap sebagai era emas skuat “Garuda” menyusul kegagahannya saat berkiprah di kancah dunia.
Anda perlu bukti?
Jepang dan Korea Selatan, dua tim tertangguh Asia saat ini, pernah dipecundangi oleh 11 anak bangsa di atas lapangan hijau. Dari 1954-1981, Indonesia tercatat lima kali mampu mengandaskan Jepang. Salah satunya kala kedua tim bertemu di Asian Games 1954 Manila, Filipina. Tim “Merah Putih” ketika itu menang dengan skor meyakinkan 5-3 lewat sebiji gol sang legenda Andi Ramang, dua gol Tee San Long dan dua penalti Djamiat Dhalhar.
Sementara, Korea Selatan dibuat tak berkutik manakala dibabat empat gol tanpa balas di ajang Merdeka Tournament di Malaysia pada 31 Juli 1986. Jauh sebelumnya, Indonesia bahkan telah diakui Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) sebagai tim Asia pertama yang berlaga di Piala Dunia 1938 meskipun langsung gugur setelah kalah atas tim kuat Hongaria 6-0 pada babak pertama.
Namun, seiring berjalannya waktu, goretan tinta emas sepak bola Indonesia yang sempat terukir indah saat ini semakin luntur menyusul keringnya prestasi. Kini, jangankan mengalahkan Jepang dan Korea, bertemu Thailand saja sudah kalang kabut.    
Anda perlu bukti lagi?
Dari total lima partai final, terhitung tiga kali sudah Timnas Indonesia gagal mengangkat trofi di ajang Piala AFF karena hadangan Thailand. Pertama, Thailand mengandaskan Indonesia 4-1 di Stadion Rajamangala, Bangkok pada Piala AFF 2000.
Dua tahun berselang, Indonesia yang dilatih Peter White kembali merangsek hingga partai puncak. Akan tetapi, lagi-lagi tim “Gajah Putih” menjadi momok setelah menang melalui adu penalti 4-2 (2-2). Terkini, Stadion Rajamangala lagi-lagi menghadirkan mimpi buruk bagi Indonesia. Bermain dua leg, Thailand menang 2-0 di kandang setelah kalah 1-2 di Pakansari saat menjalani leg pertama.
Semua sepakat perjuangan Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 patut diapresiasi. Pasalnya, Boaz Solossa cs berangkat ke Filipina dengan kondisi tak ideal. Selain baru lepas dari sanksi FIFA, regulasi ngawur pembatasan dua pemain satu klub juga memperkeruh perfroma timnas. Belum lagi, minimnya persiapan serta uji tanding.
Kondisi sengkarut itu langsung terpampang jelas ketika Indonesia menjalani partai perdana Grup A melawan Thailand. Laga baru berjalan setengah jam lebih enam menit, gawang kawalan Kurnia Meiga sudah bobol dua kali. Meskipun sempat menyamakan kedudukan 2-2, lemahnya konsentrasi menyusul habisnya stamina pemain berakibat lahirnya dua gol tambahan lawan. Seusai laga, Kurnia Meiga menjadi sasaran tembak. Kiper Arema Cronus itu didakwa tampil buruk. Tiga dari tembakan Thailand semua menembus jalanya.

Pelatih Timnas Alfred Riedl menggelar latihan untuk menghadapi final Piala AFF 2016

Pelatih kepala timnnas Indonesia Alfred Riedl menggelar latihan untuk menghadapi final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Karawaci, Tangerang, Senin (12/12/2016). Timnas Indonesia akan kembali tampil di depan puluhan ribu suporternya saat menjamu Timnas Thailand di leg pertama Final Piala AFF 2016 yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (14/12/2016). (Foto: Aditia Noviansyah/Kumparan)
Meski demikian, secara agresivitas, Indonesia sejatinya mampu mengimbangi Thailand yang melepaskan 12 attempts dengan 4 on target. Skuat asuhan Alfred Riedl mengemas 5 attempts tepat sasaran dari total 12 kali percobaan. Bedanya, Thailand sangat dominan dalam menguasai jalannya pertandingan. Penguasaan bola mereka sangat mutlak (62:38). Ini menjadi pembeda karena serangan mereka lebih terorganisasi, sementara Indonesia lebih cenderung sporadis.
Penampilan Kurnia Meiga kemudian membaik di laga kedua saat menghadapi tuan rumah Filipina. Dalam pertandingan berkesudahan 2-2 itu, ia mencatatkan 6 saves dari 7 attempts yang mengarah ke gawangnya. Namun, Indonesia masih belum bisa menguasai jalannya pertandingan. Ini terlihat dari ball possession yang masih dikuasai Filipina (60:40).
Pada partai pamungkas, bekal sebiji poin membuat Indonesia wajib menang saat menantang Singapura sambil berharap Filipina gagal menang lawan Thailand. Riedl pun mengubah susunan pemain. Kali ini, Bayu Pradana tampil sejak menit awal dan diplot sebagai gelandang jangkar. Sedangkan, Evan Dimas dan Stefano Lilipaly bergantian mendukung Boaz Solossa yang ditempatkan sendirian di garis depan.
Perubahan itu ternyata membawa angin segar bagi Indonesia. Setidaknya, Singapura tak bisa leluasa memainkan bola. Untuk kali pertama, Timnas Indonesia unggul dalam penguasaan bola (63:37). Kesabaran para pemain mengalirkan si kulit bundar pun berdampak langsung terhadap serangan yang dibangun. Sebanyak 24 tembakan dengan 10 on target menjadi bukti keganasan timnas menggempur pertahanan The Lions. Indonesia lolos dari lubang jarum berkat kemenangan 2-1.
Meski demikian, catatan timnas dalam tiga laga di fase grup tak terlalu menggembirakan. Torehan 6 gol dan kemasukan 7 gol layaknya dua mata uang. Agresif dalam menyerang, tetapi buruk ketika bertahan. Jumlah kebobolan itu bahkan hanya terpaut satu bola dari Kamboja yang menjadi juru kunci Grup B.
Berbekal statistik tak begitu mumpuni, penderitaan Indonesia sebenarnya baru dimulai kala harus menghadapi Vietnam di babak semifinal. The Golden Stars sendiri tampil sebagai jawara Grup B dengan nilai sempurna. Kebalikan dengan Indonesia, Vietnam memiliki keseimbangan antarlini yang cukup baik dengan koleksi 5 gol dan hanya 2 kali kemasukan.
Berlaga pada semifinal leg 1, keadaan tak jua berubah bagi Indonesia. Penampilan mereka tak kunjung membaik. Masih menyerang secara sporadis dengan bertumpu kepada kecepatan dua sayap, Rizky Pora dan Andik Vermansah. Sedangkan, Vietnam terlihat lebih matang dengan memperagakan umpan pendek satu-dua.
Sama seperti tiga partai sebelumnya, agresivitas masih milik Indonesia tetapi bangun serangan yang dibangun kerap mentok. Dari 13 usaha ke gawang, 6 di antaranya mengarah ke gawang. Akan tetapi, hanya dua yang berhasil dikonversikan menjadi gol. Itu pun melalui bola mati (sepak pojok dan penalti).

Timnas Indonesia

Pemain Timnas Indonesia merayakan keberhasilannya memenangi partai leg 1 semifinal Piala AFF 2016 melawan Vietnam (Foto: Aditya Novinasyah)
Tertinggal 1-2 pada leg pertama, Vietnam langsung tancap gas begitu gantian bertindak sebagai tuan rumah. Hanya butuh satu gol, jawara Piala AFF 2008 ini menggempur habis jantung pertahanan Indonesia. Total, 28 usaha ke gawang dilepaskan dengan 7 tepat sasaran. Mereka juga menang mutlak dalam penguasaan bola (74:26). Beruntung, Kurnia Meiga tampil gemilang dengan melakukan 5 saves. Lebih mujur lagi, Lilipaly menceploskan gol “hadiah” tandang, ditambah sepakan penalti Manahati Lestusen di babak perpanjangan waktu. Indonesia pun melaju ke final berbekal hanya 2 attempts on target.
Tim “Merah Putih” kembali berhadapan dengan Thailand di final leg 1. Skenario pertandingan pun tak jauh berbeda dari pertemuan perdana kedua tim di babak grup. Thailand menguasai bola, Indonesia menyerang secara sporadis. Setelah kecolongan lewat tandukan Teerasil Dangda -- gol keenam dari hanya 9 attempts, tuan rumah menyamakan kedudukan lewat tendangan jarak jauh Rizky Pora. Gol Rizky dari luar kotak penalti kemudian menjadi yang pertama sekaligus satu-satunya bagi Timnas Indonesia selama turnamen. Sundulan Hansamu Yama kemudian membuat Stadion Pakansari seakan runtuh sekaligus membawa timnas berbalik unggul 2-1.
00:00:00/00:00:00

Gol Hansamu Yama
Sayangnya, perjalanan dongeng Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 harus terhenti di final leg 2. Indonesia lagi-lagi mengulangi kesalahan sama seperti  semifinal leg 2 di markas Vietnam. Bermain terlalu dalam membuat pemain Thailand leluasa menguasai bola (62:38). Disusul gelombang serangan “Gajah Putih” yang amat menakutkan. 6 usaha tepat sasaran dari 10 kali usaha rasanya cukup untuk mendeskripsikannya.
Sementara, Indonesia tertekan selama 90 menit. Hanya mampu melepaskan 3 tembakan. Itu pun melenceng semua. Ini adalah jumlah attempts terendah Timnas Indonesia dari 6 partai yang telah dijalani sebelumnya. Agresivitas serangan seakan hilang tersapu angin. Jauh berbeda dengan apa yang terjadi di leg 1 (11 tembakan, 3 tepat sasaran).

Kiatisuk Senamuang

Pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang tersenyum sebelum menjalani partai final melawan Indonesia di Piala AFF 2016 (Foto: Aditya Noviansyah)
Secara statistik, harus diakui Thailand jauh lebih unggul. Dari 7 laga Piala AFF 2016, mereka selalu tampil dominan atas lawan-lawannya. Skuat asuhan Kiatisuk Senamuang ini hanya kehilangan penguasaan bola saat melawan Filipina (48:52). Itu pun ketika turun dengan tim lapis kedua.
Secara numerik Thailand juga amat mengagumkan. Mereka menjadi tim terproduktif turnamen dengan koleksi 14 gol dan hanya kemasukan 4 gol. Produktivitas mencetak gol berjalan seiring dengan agresivitas ke gawang lawan. Selama 630 menit, Thailand total mencatatkan 91 attempts dengan 37 di antaranya on target.
Bagaimana dengan Indonesia? Secara keseluruhan, Andik Vermansah cs sejatinya tak jelek-jelek amat. Riedl malahan mampu membawa pasukannya bermain agresif. Dari 7 laga, Indonesia mencatatkan 73 kali usaha ke gawang dengan 30 di antaranya tepat sasaran. Boaz bahkan dinobatkan sebagai sriker teragresif turnamen, bahkan melampaui Teerasil. Ikon Persipura Jayapura itu total melesakkan 24 tendangan dan 13 di antaranya mengarah ke gawang. Sedangkan, Teerasil “hanya” mampu melepaskan 20 attempts, dengan 9 attempts on goal.
Namun, sekali lagi, agresivitas tak dibarengi kokohnya lini belakang menjadi masalah serius. Kebobolan 14 gol dari 7 laga bukanlah memori yang indah untuk dikenang.
Keinginan untuk melihat “Garuda” mengangkat trofi tentu menjadi hasrat seluruh pencinta sepak bola di Tanah Air. Akan tetapi, keberuntungan tak melulu bisa menjadi syarat utama merengkuh gelar juara. Ada deretan angka yang lebih bisa dipercaya guna merujuk hasil akhir laga. Sayangnya, statistik tak juga memihak Indonesia untuk menjadi juara tahun ini.
Indonesia bukan hanya tak menjadi kampiun di atas lapangan, tetapi juga tak menjadi juara di atas kertas.

SportsSepak BolaPiala AFF 2016Timnas Indonesia

500

Baca Lainnya