• 4

La Nyalla: Segala Kontroversi yang Menyelimutinya

La Nyalla: Segala Kontroversi yang Menyelimutinya



La  Nyalla

Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla (Foto: www.ligaindonesia.co.id)
Keluar mulut harimau, masuk ke mulut buaya.
Peribahasa itu tampaknya cocok menggambarkan perjalanan PSSI pada enam tahun belakangan ini.
Harapan membaiknya atmosfer sepak bola nasional seiring runtuhnya hegemoni Nurdin Halid, nyatanya bertambah buruk ketika Djohar Arifin Husin menjabat Ketua Umum (Ketum) PSSI sejak 2011.
Pergantian kepengurusan tak diiringi adanya perbaikan. Malahan menjadi lebih buruk karena terjadinya konflik antarsesama pengurus.
Semua bermula ketika PSSI berusaha menggelembungkan jumlah peserta Indonesia Super League (ISL) musim 2011/12 menjadi 24 dari 18 tim. Enam tim tambahan merupakan tim eks Liga Primer Indonesia (LPI) yang dileburkan bersama ISL dan membentuk kompetisi baru bernama Indonesia Premier League (IPL).
Hal itu memantik reaksi keras dari salah satu anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti. Menurutnya, kebijakan itu bertentangan dengan amanat Kongres Bali yang digelar pada Januari 2011. La Nyalla sebelumnya terpilih sebagai anggota Exco pada Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo pada 2011.
PSSI bergeming, La Nyalla pun semakin geram. Bersama Exco PSSI lainnya yaitu Erwin Dwi Budiawan, Tonny Apriliani, dan Robertho Rouw, mereka akhirnya didepak dari jabatannya masing-masing akibat terus memprotes keputusan Djohar Arifin Husin dan kawan-kawan. PSSI melalui komite etik memutuskan memecat La Nyalla dan ketiga rekannya karena dinilai melakukan pelanggaran Statuta PSSI (Pasal 36 ayat 5 dan Pasal 42), juga prinsip fair play dan kode etik PSSI (Pasal 6, Pasal 9, Pasal 12, dan Pasal 18). Pemecatan keempat Exco PSSI ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) bernomor 002/pts/M-KE-PSSI/XII/2011 pada 26 Desember 2011.
Hal itu menjadi titik balik bagi resistensi La Nyalla. Hanya dua hari berselang dari pemecatan, keempat mantan Exco PSSI itu menginisiasi pembentukan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) sekaligus melemparkan mosi tidak percaya kepada kepemimpinan Djohar Arifin. Toni Apriliani didapuk menjadi ketua, sementara La Nyalla menjadi wakil ketua. KPSI juga dihuni oleh eks pengurus Nurdin Halid seperti Gusti Randa dan Hinca Panjaitan. KPSI memutuskan bakal menggulirkan KLB pada maret 2011.
Meski tak diakui oleh Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) dan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), KPSI ngotot menggelar KLB pada 18 Maret 2012 di Ancol, Jakarta Utara. Sehari sebelumnya, sempat beredar 7 manifesto KPSI yang pada poin terakhir menyatakan siap menerima sanksi FIFA--dianulir beberapa jam setelah tersebar luas di media. La Nyalla akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PSSI versi KLB Ancol.
18 Maret 2012 kemudian tercatat sebagai sejarah kelam persepakbolaan Indonesia. PSSI terbelah menjadi dua. Sebelumnya, kompetisi juga sudah retak. Sejak saat itu, hari-hari di sekitaran Senayan (lokasi kantor PSSI dan PSSI versi KLB Ancol) berselimut konfilik. Saling caci dan maki menjadi sarapan kedua belah kubu. Santap malamnya apalagi kalau bukan saling fitnah.
Semakin lama, sepak terjang PSSI versi KLB Ancol semakin menjadi-jadi. Merasa didukung oleh sebagian besar Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI (sekarang bernama Asosiasi Provinsi), La Nyalla kembali melancarkan aksi devide et impera alias politik pecah belah. Belum puas membelah organisasi dan kompetisi, PSSI versi KLB Ancol kemudian membentuk Tim Nasional (Timnas) Indonesia tandingan pada Agustus 2012. Alfred Riedl didapuk sebagai juru taktik.

Suporter

Dukungan maksimal diberikan para suporter ketika Timnas Indonesia menjamu Thailand dalam Leg 1 Final Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kab. Bogor (Foto: )
Tak ayal, langkah kelewat off-side itu semakin memperkeruh suasana. Toh, La Nyalla beserta kroninya tak ambil pusing. Mereka pede bahwa timnasnya, yang dijuluki "The Real Garuda", akan mewakili Indonesia di ajang Piala AFF 2012. Berbagai persiapan pun dilakukan mulai dari melakukan pemusatan latihan nasional (pelatnas) hingga menggelar "uji coba" di Australia.
Lucunya, pada Oktober 2012, PSSI versi KLB Ancol pernah menantang PSSI untuk menggelar pertandingan antara Timnas Indonesia melawan Timnas tandingan versi PSSI KLB Ancol. Pemenangnya berhak mewakili Indonesia di Piala AFF 2012. PSSI menolak. Usaha La Nyalla untuk mengirimkan timnasnya ke Piala AFF 2012 di Malaysia akhirnya sia-sia setelah Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF) hanya mengakui Timnas Indonesia yang didaftarkan PSSI dengan pelatihnya Nilmaizar.
Namun, langkah La Nyalla tak pernah goyah. Sesuai slogannya, "Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang", ia tetap gigih melegalkan PSSI versi KLB Ancol. Berbagai usaha telah dilakukan dari mulai bertemu Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang saat itu dipimpin Roy Suryo hingga mengirim surat ke FIFA.
Legal
Jerih payahnya terjawab seusai FIFA merestui PSSI menggelar KLB pada 17 Maret 2013 dengan garis besar sebagai wadah penyatuan (unifikasi) organisasi dan kompetisi. Di situ, La Nyalla menemukan jalannya menuju kepengurusan legal PSSI. Ia disetujui peserta kongres menjadi Wakil Ketua Umum (Waketum) PSSI menggantikan Farid Rahman yang diskors karena meninggalkan arena kongres saat itu. KPSI alias PSSI versi KLB Ancol pun resmi membubarkan diri.
Baru sebulan resmi menjadi Waketum PSSI, La Nyalla kemudian menjalani rangkap jabatan setelah diangkat sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN)--menggantikan ketua sebelumnya Isran Noor yang diturunkan sebagai wakil. Isran yang merasa jabatannya dicaplok La Nyalla tak terima.
Seperti dilansir Sindonews, La Nyalla menyebut Isran Noor tak mengerti sepak bola. Karena itu, posisinya pantas diganti. "Isran Noor itu tidak mengerti bola. Kalau mengerti, dia tidak akan banyak bicara soal internal BTN. Sebab, keributan di internal tidak boleh diungkap keluar," kata La Nyalla mengomentari keributan yang terjadi antara Isran Noor dengan Wakil Ketua BTN Harbiansyah.
Kebijakan tangan besi La Nyalla kembali diperlihatkan kala ia mengganti Luis Manuel Blanco yang sebelumnya ditunjuk PSSI untuk menangani Timnas Indonesia di ajang kualifikasi Piala Asia 2015. Belum sempat turun di ajang resmi, Blanco harus rela digantikan duet pelatih Rahmad Darmawan-Jacksen F. Tiago. BTN kemudian lebih memilih Jacksen menangani skuat "Garuda" di sisa laga. Indonesia gagal lolos ke putaran final Piala Asia setelah menempati juru kunci klasemen berkat lima kekalahan dan sekali imbang.
La Nyalla kembali sibuk memilih pelatih ketika Timnas Indonesia hendak terjun di Piala AFF 2014. Ketika itu santer pernyataan dari La Nyalla bahwa "timnas harus diisi pelatih terbaik dari liga terbaik dengan pemain terbaik". Lagi-lagi, pilihannya jatuh kepada Alfred Riedl. Hasilnya, Indonesia justru harus pulang lebih cepat karena gagal lolos dari babak penyisihan grup, termasuk menelan kekalahan pertama dalam sejarah atas Filipina (0-4).

Alfred Riedl

Pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Masa jabatan Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum (Ketum) PSSI tiba pada penghujung. PSSI kembali mengadakan KLB pada 18 April 2015. Seperti telah diduga sebelumnya, La Nyalla yang mencalonkan diri menang mutlak dengan total 94 suara, mengalahkan Syarif Bastaman (14 suara). Kandidat lainya seperti Subardi, Sarman, Muhammad Zein, dan Benhard Limbong tak mendapat suara.
Namun, belum juga merasakan nikmatnya duduk di singgasana PSSI, impian La Nyalla harus buyar setelah Kemenpora tak mengakui kepengurusannya. Berawal dari perintah verifikasi 18 klub yang tak ditaati PSSI, pada 17 April 2015, Menpora Imam Nahrawi menandatangani Keputusan Menpora No. 0137 Tahun 2015 tentang Pengenaan Sanksi Administratif Berupa Kegiatan Keolahragaan PSSI Tidak Diakui. Artinya, PSSI dibekukan sehari sebelum pelaksanaan KLB tersebut.
Pembekuan oleh Kemenpora berujung kepada pemberian sanksi kepada PSSI per 30 Mei 2015. Nasib La Nyalla sebagai Ketum PSSI pun berada di ujung tanduk. La Nyalla yang dahulu mengudeta PSSI seakan menerima senjata makan tuan manakala Kemenpora gantian "mengudeta" kepengurusannya.
La Nyalla lantas menulis surat terbuka kepada Menpora Imam Nahrawai. "Saya jadi bertanya. Kejahatan luar biasa apa yang sudah saya lakukan sebagai Presiden PSSI? Sehingga PSSI diperlakukan seolah organisasi terlarang yang harus dibinasakan dari bumi pertiwi ini?" demikian salah satu petikan surat itu.
Setahun berselang, harapan La Nyalla untuk melanjutkan sepak terjang di PSSI kembali terbuka setelah FIFA mencabut sanksi kepada Indonesia pada 13 Mei 2016. Meskipun saat itu La Nyalla telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan pencucian uang dalam pengelolaan dana hibah yang diterima Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur dari pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2011 sampai 2014. Surat dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sendiri dikeluarkan pada 22 April 2016. Akan tetapi, ia bersikukuh tak akan mundur dari jabatannya sebagai Ketum PSSI.
Setelah sempat menjadi buron, kisah La Nyalla bersama PSSI benar-benar terkubur seiring digelarnya KLB pada 3 Agustus 2016. Posisi La Nyalla sebagai Ketum PSSI resmi dicopot. Namanya pun terhapus dari situs resmi FIFA dan digantikan plt Hinca Panjaitan. Kini, PSSI telah memiliki pemimpin baru: Edy Rahmayadi.
Konfirmasi terbaru dari sidang putusan kasus korupsi dana hibah Kadin Jatim 2012, Selasa (27/12), memutuskan bahwa La Nyalla bebas dari segala tuntuan hukum. Apakah nantinya La Nyalla akan kembali terjun ke dunia si kulit bundar? Patut ditunggu.

La NyallaSepak BolaPSSISports

500

Baca Lainnya