• 5

Lebih Baik Mana: Pelatih Asing atau Lokal?

Lebih Baik Mana: Pelatih Asing atau Lokal?



Timnas Indonesia (ilustrasi)

Timnas Indonesia merayakan gol ke gawang Thailand di leg 1 final PIala AFF 2016 (ilustrasi). (Foto: Aditia Noviansyah )
Di atas lapangan hijau, 11 orang terlihat berjibaku melawan 11 orang lainnya. Mengolah si kulit bundar sedemikian rupa dengan gayanya masing-masing demi meraih satu tujuan: kemenangan. Namun, hanya ada satu kepala yang bisa menggerakkan mereka: pelatih.
Hanya pelatih yang memiliki kewenangan untuk mengatur bagaimana 11 orang di atas lapangan bergerak. Dari mulai mengatur menu latihan sampai menentukan formasi, semuanya merupakan otoritas dari sang juru latih. Tak heran, peran pelatih dalam membangun kesuksesan sebuah tim sangatlah besar.
Lantas, merupakan hal lazim ketika penunjukan pelatih menjadi momen yang banyak disorot. Kondisi demikian juga tengah terjadi di Tanah Air. Para pecinta sepak bola nasional kini masih menantikan siapa yang akan mengisi pos juru taktik timnas. Pascakegagalan di Piala AFF 2016, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) belum menentukan masa depan Alfred Riedl. Secara resmi, posisi pelatih Timnas Indonesia (segala umur) masih kosong.
Untuk senior, timnas praktis tidak akan mengikuti turnamen apa pun pada 2017. Sejatinya, tahun depan terdapat lanjutan babak kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019. Akan tetapi, Indonesia tidak akan ambil bagian menyusul sanksi FIFA yang dijatuhkan kepada PSSI sejak 2015. Satu-satunya agenda untuk timnas senior adalah melakoni pertandingan uji coba resmi FIFA pada 20-27 Februari, 5-13 Juni, 28-31 Agustus, 1-5 September, 2-10 Oktober dan 6-14 November 2017.
Sementara, agenda lebih padat akan dijalani oleh timnas kategori umur (U-16, U-19, dan U-23) pada tahun depan. Event terdekat akan dilakoni Timnas U-23 di SEA Games 2017 Malaysia pada 19-31 Agustus. Sedangkan, untuk Timnas U-16 dihadapkan kepada jadwal kualifikasi Piala Asia 2018 (16-24 September 2017) dan Timnas U-19 melakoni kualifikasi Piala Asia 2018 (21-29 Oktober 2017). Namun, belum diketahui apakah PSSI akan mengirimkan Timnas U-16 dan U-19 ke ajang tersebut.
Sejarah mencatat, Tim Nasional (Timnas) Indonesia telah dilatih sebanyak 45 pelatih dari kurun waktu 1938-2016. Dari total tersebut, pelatih lokal masih dominan dengan jumlah 26 orang. Sementara, pelatih asing yang pernah membesut skuat "Garuda" berjumlah 19 orang. Mereka berasal dari beragam negara yakni Singapura, Belanda, Polandia, Yugoslavia, Turki, Jerman, Rusia, Italia, Bulgaria, Argentina, Brasil dan Austria.
Prestasi
Secara umum dari 19 pelatih asing dan 29 arsitek lokal yang pernah menangani Timnas Indonesia, beberapa di antara mereka pernah menghadirkan prestasi di ajang resmi.
Di jajaran pelatih asing, nama Anatoli Polosin masih dikenang hingga kini. Pasalnya, arsitek asal Rusia itu menjadi orang yang mampu menghadirkan gelar juara bagi timnas senior. Ketika itu, ia membawa Timnas Indonesia meraih medali emas di SEA Games 1991 Filipina.
Selain Polosin, pelatih asing yang sukses memberikan gelar adalah Toni Pogacnik di Piala Asia U-19 pada 1961. Namun, gelar itu tidak begitu sahih setelah Indonesia diputuskan menjadi juara bersama dengan Burma. Saat itu, setelah bermain imbang 0-0 selama 90 menit, Indonesia dan Burma dipaksa berhenti bermain oleh Raja Thailand saat itu Bhumibol Adulyadej dengan alasan nonteknis.
Bagaimana dengan talenta lokal?
Bertje Matulapelwa menjadi nama pertama yang menghadirkan medali emas bagi Timnas Indonesia di ajang SEA Games. Bertindak sebagai tuan rumah pada 1987, Bertje memberikan kado manis di hadapan puluhan ribu penonton yang memadati Stadion Senayan. Melawan Malaysia di final, sebiji gol Ribut Waidi pada menit-menit akhir memastikan raihan medali emas.
Kesuksesan Bertje baru bisa diikuti pelatih lokal lainnya yakni Indra Sjafri. Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana Indra sukses membawa Timnas U-19 merengkuh trofi di Piala AFF 2013. Cerita Indra hampir serupa dengan Bertje yang mampu memberikan hadiah juara saat berlaga di rumah sendiri.

Indra Sjafri

Indra Sjafri pernah melatih Timnas U-19 dan Bali United. (Foto: https://www.instagram.com/indrasjafri/)
Memasuki era Milenium hilir-mudik pelatih terus terjadi. Sejak Piala AFF digelar pada 1996, dominasi pelatih asing jelas terlihat. Dari 10 perhelatan (absen di Piala AFF 1996), tim "Merah Putih" tercatat enam kali ditukangi pelatih asing, sementara sisanya dilatih lokal. Dari lima partai final yang telah dijalani, empat di antaranya berkat polesan pelatih asing. Sementara, hanya Dananjaya yang tercatat sebagai pelatih lokal yang mampu membawa Indonesia ke final Piala AFF pada edisi 2000.
Sejak SEA Games mengharuskan cabang olahraga sepakbola turun dengan Timnas U-23, pelatih lokal memiliki catatan lebih bagus. Adalah Rahmad Darmawan yang berhasil membawa "Garuda Muda" back-to-back melaju ke final yakni pada SEA Games 2011 dan 2013. Pelatih asing semacam Sergei Dubrovin (SEA Games 2003), Ivan Kolev (SEA Games 2007), dan Alberto Bica (SEA Games 2009) malah tidak mampu membawa Timnas U-23 lolos babak penyisihan grup.
Favorit
Jika menilik rekam jejak serta sejarah pelatih Timnas Indonesia, kumparan menilai pelatih asing tampaknya masih bisa dijadikan favorit untuk menangani timnas senior. Di tengah segala keterbatasan, Alfred Riedl dianggap "sukses" membawa Boaz Solossa ke final Piala 2016. Kans Riedl kembali menukangi timnas dipercaya terbuka lebar.
Namun, kemungkinan lain juga terbuka. Karena agenda timnas senior tahun depan hanyalah menjalani pertandingan uji coba, PSSI bisa saja belum akan mengumumkan nama pelatih hingga mendekati tanggal uji coba internasional. Itu pun jika otoritas sepak bola tertinggi Tanah Air menggelar uji coba.
PSSI diprediksi akan lebih fokus untuk menentukan pelatih Timnas U-23 di ajang SEA Games. Sekali lagi, jika menilik rekam jejak, pelatih lokal tampaknya lebih cocok untuk menangani Timnas U-23. Beberapa nama seperti Rahmad Darmawan, Indra Sjafri, Widodo C. Putro pantas dikedepankan.

Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan pernah menjadi pelatih T-Team FC, klub dari Malaysia. (Foto: https://www.instagram.com/tteamofficial/)
Pemilihan pelatih lokal akan menguntungkan karena lebih mengetahui talenta para pemain muda dibandingkan pemain asing. Pasalnya, banyak pemain berusia di bawah 23 tahun belum mendapatkan tempat inti di klubnya masing-masing. Pelatih lokal dipercaya akan lebih jeli memilih para talenta lokal terbaik.
Sejujurnya, pelatih asing atau lokal akan memiliki akhir cerita serupa: kegagalan. Selama, PSSI tidak mau serius melakukan pembinaan terhadap usia dini. Satu lagi, kompetisi yang sehat juga akan sangat berpengaruh terhadap kualitas Timnas Indonesia.
Karena pada akhirnya kegagalan demi kegagalan yang diraih timnas selama ini, bukanlah kesalahan satu kepala semata.

SportsSepak BolaTimnas Indonesia

500

Baca Lainnya