kumparan
search-gray
Bola & Sports4 September 2017 8:03

Mahalnya Rasa Nyaman Menikmati Sepak Bola Indonesia

Konten Redaksi kumparan
Suporter Indonesia di Stadion Patriot Candrabaga
Suporter Indonesia di Stadion Patriot Candrabaga (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Pertandingan persahabatan antara Tim Nasional (Timnas) Indonesia vs Fiji memang telah usai. Akan tetapi, eksesnya masih terasa hingga detik ini.
ADVERTISEMENT
Perkaranya apalagi jika bukan karena tewasnya Catur Yuliantoro akibat terkena petasan nyasar di Stadion Chandrabaga, Bekasi pada Sabtu (2/9/2017) lalu. Duka mendalam kini menyelimuti sepak bola Tanah Air yang harus kembali kehilangan salah satu penikmatnya.
Namun, laga yang berakhir tanpa gol itu masih menyisakan persoalan lain, yakni mengenai manajemen tiket. Sejatinya hal ini bukan lah persoalan baru, tetapi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terkesan tak juga belajar dari kesalahan sebelumnya.
Masih segar dalam ingatan bagaimana kacaunya antrean tiket saat Timnas Indonesia berlaga di semifinal dan final Piala AFF 2016. PSSI bahkan menunjuk Mabes TNI AD, Gambir, Jakarta Pusat, sebagai lokasi penjualan tiket--yang berujung kepada membludaknya antrean hingga sejumlah orang pingsan kelelahan.
ADVERTISEMENT
Keluhan akan buruknya manajemen tiket PSSI pun kembali mengemuka pada pertandingan Indonesia melawan Fiji. Frans Siringoringo (30) merasakan betul perjuangan melelahkan yang harus ditempuhnya hanya untuk masuk ke dalam stadion.
Frans memesan tiket melalui jalur online untuk kategori 1 seharga Rp 100.000. Awalnya, ia berpikir dengan memesan online bisa mempermudah aksesnya menuju tribune.
“Tapi, begitu sampai di stadion, penonton harus menukar tiket lagi berupa gelang kertas yang ada barcode-nya. Kalau memang begitu, buat apa ada barcode di print-out ticket-nya? Kalau toh ternyata harus ditukar lagi pakai gelang kertas,” ujar Frans dalam perbicangan dengan kumparan (kumparan.com) pada Senin (4/9/2017).
Suporter Timnas Indonesia
Antrean penukaran tiket online. (Foto: Frans Ringo)
Tak hanya itu, yang membuatnya lebih jengkel adalah koordinasi dari panitia yang hanya membuka satu loket untuk penukaran tiket online.
ADVERTISEMENT
“Seharusnya panita penyelenggara sudah memprediksi dengan hasil pembelian tiket online yang sekitar 9.000 tiket itu, untuk kebutuhan penukaran tiket artinya loket harus dibuka setidaknya 3-4 loket. Tapi, faktanya loket hanya dibuka satu pintu.”
“Saya yang datang jam 14.00, baru bisa masuk stadion kira-kira pukul 15.40. Setelah nukar tiket online pun, informasi mengenai pintu stadion juga sangat minim. Saya dapat informasi masuk stadion yang simpang-siur. Jadi, saya harus mutar-muter cari pintu masuk stadion yang sesuai dengan tiket saya.”
Antrean panjang itu pun sempat membuat para pengantre emosi. Selain hanya membuka satu loket, Frans menilai kerja dari petugas loket pun terkesan lamban. Alhasil, banyak dari mereka yang berteriak-teriak karena terlalu lama mengantre.
ADVERTISEMENT
“Entah ngapain di dalam, mereka (petugas loket) tetima kertas print-out kita, terus pergi sebentar, nggak tau ngapain, terus balik lagi. Nulis-nulis sesuatu lalu pergi lagi, baru dikasih tiketnya. Kira-kira satu orang butuh waktu 2-3 menit.”
“Tapi, yang bikin saya makin nyesek, karena antrean tiket on the spot malah nggak terlalu ramai seperti yang nukar tiket online,” ucap warga Bekasi itu.
Bukan hanya masalah penukaran tiket, Frans juga mengeluhkan akses menuju area parkir stadion yang tak beraturan. Ia mengaku butuh waktu hingga setengah jam hanya untuk memasuki area parkir resmi di stadion.
Suporter Indonesia di Stadion Patriot Candrabhaga
Suporter Indonesia di Stadion Patriot Candrabhaga (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Hal itu terjadi karena akses masuk menuju parkiran dipenuhi oleh pedangan kaki lima yang memakan hampir separuh jalan. Belum lagi ditambah adanya parkiran liar sepeda motor.
ADVERTISEMENT
“Untuk laga internasional, saya harap manajemen tiket harus dipersiapkan senyaman mungkin untuk penonton. PSSI harus berpikir bagaimana caranya supaya penonton hanya berpikir untuk datang, menonton, kemudian pulang dengan nyaman.”
“Saya pikir PSSI juga harus bersinergi dengan Dishub (Dinas Perhubungan) dan lembaga lain mengenai transportasi menuju venue. Apalagi, saya dengar Stadion Patriot mau dipakai untuk Asian Games 2018. Kalau memang benar, akses menuju stadion saat ini sangat memperihatinkan,” pungkasnya.
Jika rasa aman dan nyaman saja semahal itu, pada akhirnya hanya nasionalisme yang akan menggerakkan kaki mereka menuju stadion. Namun, sejauh mana itu akan bertahan?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white