• 0

Mencari Juru Taktik Asing yang Tak Lagi Asing

Mencari Juru Taktik Asing yang Tak Lagi Asing



Suporter Indonesia

Suporter Indonesia memberikan dukungan di Piala AFF 2016 (Foto: Aditia Noviansyah)


Sosok seorang pelatih selalu menjadi bagian penting dari sebuah tim. Kehadirannya bisa sangat menentukan sukses atau tidaknya tim tersebut. Karena itu, penunjukan juru latih seharusnya dilakukan dengan penuh pertimbangan.
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) juga tidak mau terburu-buru menentukan pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia pasca Piala AFF 2016. Meskipun Alfred Riedl secara pribadi menyatakan siap kembali melatih skuat “Garuda”, masa depan pelatih asal Austria ini masih mengambang. Seiring kosongnya posisi tersebut, nama-nama kandidat lain kemudian bermunculan. Sosok pelatih asing dikabarkan menjadi calon terkuat mengisi pos juru taktik timnas. Jika benar demikian, siapa saja sosok yang layak menangani Timnas Indonesia?
Kumparan menyodorkan beberapa nama yang dianggap mumpuni untuk menangani Timnas Indonesia, baik di level senior maupun U-23. Berikut daftarnya. 
Ivan Venkov Kolev
Sebuah nama yang tak asing bagi para pecinta Timnas Indonesia pada era 2000-an. Kolev sudah malang melintang di Tanah Air hampir 11 tahun lamanya. Arsitek asal Bulgaria ini pertama kali masuk ke Indonesia dengan melatih Persija Jakarta pada 1999.
Pada tahun pertama kepelatihannya, Kolev sukses membawa “Macan Kemayoran” tampil sebagai runner-up Liga Indonesia pada 2000.
Setelah sempat melatih Timnas Bulgaria U-20, Kolev kembali ke Indonesia pada 2002. Kali ini, dia diminta menangani timnas yang terjun di ajang Piala AFF 2002 dan meraih posisi kedua setelah kalah dari Thailand lewat adu penalti.
Dianggap sukses, kontrak pria kelahiran Sofia ini bersama timnas diperpanjang. Ia kemudian berhasil membawa Ponaryo Astaman cs melaju ke putaran final Piala Asia 2004 setelah menjadi runner-up babak kualifikasi.
Meskipun gagal melaju ke fase knock-out, Indonesia kala itu mampu menggebrak dunia setelah mengalahkan Qatar 2-1 dalam laga perdana grup. Qatar ketika itu dilatih Philippe Troussier, pelatih yang membawa Jepang lolos ke perdelapan final Piala Dunia 2002. Akan tetapi, Troussier langsung dipecat oleh federasi sepakbola Qatar menyusul kekalahan memalukan tersebut.
Seusai Piala Asia 2004, Kolev sempat dipecat, tetapi dia kembali dipanggil oleh PSSI untuk menangani Indonesia di Piala Asia 2007. Seperti edisi sebelumnya, Kolev kembali gagal mengantarkan Indonesia menembus babak 16 besar. Meski demikian, pelatih 59 tahun ini dianggap berhasil mengangkat performa timnas yang tampil ciamik di fase grup, termasuk saat mengemas kemenangan 2-1 melawan Bahrain di partai perdana penyisihan grup.

Publik kemudian mulai berharap timnas mampu berbicara banyak di kualifikasi Piala Dunia 2010. Sayangnya, Kolev gagal membawa timnas lolos ke babak berikutnya setelah takluk dari Suriah dalam sistem pertandingan kandang-tandang. Kariernya di Timnas Indonesia pun berakhir pada saat itu.
Peter Withe

Peter Withe

Peter Withe (Foto: Justin Jin/REUTERS)

Final Piala AFF 2002 menjadi awal kisah Peter White melatih Timnas Indonesia. Ketika itu, dia masih menjadi pelatih Thailand yang sukses meraih trofi Piala AFF 2002 setelah menang atas tuan rumah Indonesia melalui adu penalti.
Berkat prestasinya tersebut membuat PSSI kepincut. Dua tahun berselang, Withe akhirnya dikontrak untuk menangani Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2004. Debutnya berjalan manis setelah mampu membawa tim “Merah Putih” melaju hingga babak final.
Namun, Indonesia lagi-lagi gagal naik podium setelah kandas dari Singapura di partai final dengan skor 3-1 dan 2-1. Meski demikian, PSSI tetap mempercayainya memegang timnas untuk turun di Piala AFF 2006.
Targetnya kembali membawa timnas menapak partai final pada turnamen yang dihelat di Singapura dan Thailand. Akan tetapi, harapan itu tak terwujud setelah dia gagal membawa Indonesia--untuk kali pertama--lolos ke semifinal.
Robert Rene Alberts
Nama Robert Rene Alberts mencuat ketika menangani Arema Indonesia di Indonesia Super League (ISL) musim 2009/10. Dalam debutnya, Rene sukses membawa “Singo Edan” menjadi kampiun. Meski berasal dari Belanda, karier kepelatihan pria berusia 62 tahun lebih banyak dihabiskan di wilayah Asia. Dia pernah menangani Kedah FA dan Sarawak FA (Malasyia), Tanjong Pagar dan Home United (Singapura).
Pada 2007, ia juga melatih Timnas Malaysia U-19 pada turnamen Champions Youth Cup yang disertai klub-klub Eropa U-19 seperti Chelsea dan Barcelona.Karier kepelatihan Alberts terhitung panjang. Pada 2002, dia menjadi direktur kepelatihan di Korea Selatan sekaligus menjabat pelatih kepala Timnas Korea Selatan U-17 hingga 2004. Pada 2005 hingga 2008, Alberts menjadi direktur teknik Football Association of Malaysia (FAM).
Selama memegang klub di Malaysia dan Singapura, Robert membuat timnya mempunyai rekor sebagai tim yang tak terkalahkan. Tercatat, di Liga Malaysia 4 tahun, dan di Liga Singapura 6 tahun ia menangi semua titel kompetisi.

Robert Rene Alberts

Pelatih PSM Makassar Robert Rene Alberts memberikan keterangan pers. (Foto: www.indonesiansc.com)
Setelah menangani Arema, ia sempat melatih PSM Makassar pada ISL 2010/11. Akan tetapi, karena adanya dualisme kompetisi, Rene tidak menghabiskan musim tersebut bersama “Juku Eja” Usai berkelana ke beberapa klub Asia Tenggara, Rene kembali ke PSM untuk tampil di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016. Saat itu, ia menggantikan posisi Luciano Leandro yang gagal mengangkat performa Ferdinan Alfred Sinaga dan kolega.
Awalnya, Alberts gagal membawa PSM meraih kemenangan di beberapa laga. Namun perlahan, performa PSM yang sempat terpuruk diawal musim melesat ke papan atas klasemen.
Hasilnya, di akhir musim ISC 2016, Alberts membawa PSM finis di posisi lima klasemen. Mengacu kepada prestasinya yang cukup bagus bersama klub, namanya belakangan semakin santer disebut masuk jajaran kandidat pelatih Timnas Indonesia.
Jacksen F. Tiago
Pelatih satu ini rasanya sudah tak perlu diperkenalkan. Jacksen bahkan sudah dianggap seperti WNI (Warga Negara Indonesia). Puluhan tahun tinggal di Indonesia, membuatnya amat lekat dengan budaya sepak bola Tanah Air. Malang-melintang sebagai pemain dilanjutkannya dengan melatih berbagai klub di Indonesia.
Pencapaian terbesar Jacksen sebagai pelatih terjadi ketika menangani Persipura Jayapura.  Bersama Jacksen, “Mutiara Hitam” menjadi jawara ISL dua kali (musim 2010/11 dan 2012/13) serta menjadi runner-up musim 2010.
Tak hanya itu, nama Persipura juga berkibar hingga level Asia. Jacksen mampu membawa skuat asuhannya menembus semifinal Piala AFC 2014. Sebelumnya, Persipura juga melaju hingga babak perempatfinal pada turnamen serupa pada 2011. Pengalaman serta keberhasilan Jacksen sebagai pelatih membuat PSSI meliriknya. Menggantikan posisi Luis Manuel Blanco dan Nil Maizar, dia resmi menjadi pelatih Timnas Indonesia pada Juni 2013. Debut Jacksen sebagai pelatih timnas Indonesia tidak berjalan manis.
Dalam pertandingan persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, timnas ditaklukkan oleh Belanda 0-3.Kiprahnya bersama Timnas Indonesia berlanjut ketika berjuang di babak kualifikasi Piala Asia 2015.

Sayangnya, Jacksen gagal membawa timnya meraih satu pun kemenangan. Hasil terbaik adalah seri 1-1 melawan China saat bertemu di Jakarta. Sementara, lima laga sisa berakhir dengan kekalahan.
Setelah sempat menyebrang ke Malaysia, Jacksen kini kembali menjejakkan kaki di Indonesia dengan menerima tawaran dari Barito Putra guna mengarungi Liga Indonesia musim mendatang. Meski sudah dikontrak, jika PSSI membutuhkan Jacksen, bukan tidak mungkin Barito harus rela melepasnya.

SportsSepak BolaTimnas Indonesia

500

Baca Lainnya