• 0

Problematika Klasik ISC 2016: Dari "Flare" Hingga Bentrok Suporter

Problematika Klasik ISC 2016: Dari "Flare" Hingga Bentrok Suporter



Ferdinan Sinaga

Pemain PSM Makassar Ferdinan Sinaga memperotes keputusan wasit dalam pertandingan ISC A 2016 (Foto: Twitter @TorabikaSC2016)
"Pertandingan Perseru Serui vs @PusamaniaBorneo tak dapat dilaksanakan, karena tim tamu tidak hadir. Dengan demikian, tuan rumah Perseru Serui dinyatakan menang WO atas @PusamaniaBorneo.”
Cuitan dari akun Twitter resmi Indonesia Soccer Champioship (ISC) 2016 pada 31 Juli itu terasa menggelitik. Apalagi jika tahu bahwa alasan Pusamania Borneo FC tak bisa menjalani laga tandangnya karena kehabisan tiket penerbangan ke Serui.
Akal sehat kemudian berpikir: bagaimana mungkin di zaman serba canggih dan instan ini memesan tiket saja sulit? Padahal, cukup sekali sentuh layar smartphone, semua sudah beres. Sesederhana itu.
***
Dagelan semacam itu hanya lah satu dari sederet peristiwa yang tersaji selama perjalanan ISC 2016. Berangkat dengan semangat memperbaiki tata kelola sepak bola Indonesia, PT Gelora Trisula Semesta (GTS) sebagai operator ISC nyatanya masih gagap dalam memutar roda kompetisi yang sehat.
Masalah klasik masih kerap terjadi. Mulai dari menyalakan flare sampai jatuhnya korban jiwa akibat kekerasan antar suporter. Problematika semakin semrawut manakala PT GTS-- yang membuat regulasi-- malahan ikut melanggar regulasi yang mereka susun sendiri.
Dari berbagai kejadian, kumparan mencoba menghadirkan beberapa persitiwa yang dirasa cukup vital dalam perjalanan ISC A 2016. Berikut rangkumannya.
Kekerasan Antar Suporter
Partai “El Clasico” antara Persija Jakarta vs Persib Bandung selalu menghadirkan drama. Tak hanya di Indonesia Super Leagus (ISL), ajang ISC juga seakan menjadi wadah bagi kedua suporter melampiaskan dendam kesumatnya.
Bentrokan kedua suporter, The Jakmania dan Viking, pecah ketika Persija menjamu Persib di Stadion Manahan, Solo pada 5 November lalu. Persija yang harus terusir dari kandang seiring direnovasinya Stadion Utama Gelora Bung Karno memilih Manahan sebagai markasnya.
Pada laga panas itu, PT GTS membuat kebijakan bahwa Viking dilarang bertandang ke Solo, sementara The Jak diizinkan masuk stadion tetapi tidak menggunakan atribut.
Meski demikian, kerusuhan pecah di tribun penonton ketika laga masih berjalan. Salah seorang korban yang diduga sebagai Viking oleh The Jak, bahkan harus mengalami pendarahan  di kepala.
Tak berhenti di situ, keesokan harinya, ketika rombongan bus The Jak dalam perjalanan kembali ke Ibu Kota, bentrokan kembali terjadi. Kali ini lokasinya di Tol Palimanan, Kota Cirebon. Satu orang The Jak dinyatakan meninggal karena dikeroyok oleh massa sekitar yang diduga merupakan suporter Persib.
Kekerasan Terhadap Wasit
Insiden penganiayaan terhadap wasit terjadi di partai ISC B antara Persinga Ngawi melawan PSS Seleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY pada 7 Agustus silam. Tidak terima dengan kekalahan, pemain Persinga kemudian melakukan protes kepada wasit yang berujung aksi pemukulan. Sejumlah pemain PSS yang hendak melerai pun nyaris memicu baku hantam.
Atas tindakan itu, PT GTS mendiskualifikasi Persinga dari kompetisi ISC B. Adapun lima punggawa Persinga yang dinyatakan bersalah adalah Slamet Hariyadi, Andre Eka Prasetya, M Fatkhur Rosi, M Zamnur, dan Moch Pujiantoro. Mereka didakwa bersalah melakukan pelanggaran Komisi Disiplin ISC Pasal 46 dan 48 terkait tingkah laku buruk melakukan penyerangan dan penganiayaan.
Tak hanya itu, tindakan lebih horor harus diterima wasit asal Yogyakarta Cholid Dalyanto. Wajah dari sang pengadil tertangkap lensa kamera diinjak oleh pemain PS Bengkulu Tengah (Benteng), Budi Eka Putra. Kejadian ini bermula ketika Cholid mengusir salah seorang pemain PS Benteng, Gatut Bekti saat melawan Persiku Kudus di Stadion Wergu Wetan pada 25 November silam dalam laga Liga Nusantara.
Merasa tak terima, Budi yang kala itu duduk di bangku cadangan langsung lari menuju lapangan mengejar wasit yang sudah terjatuh. Tanpada tedeng aling-aling, dia menginjak wajah wasit dengan sepatunya.
Flare
Selama satu musim, beragam denda telah dijatuhkan oleh Komisi Disiplin (Komdis) ISC kepada kontenstan ISC. Besarannya pun beragam tergantung kesalahan yang dibuat. Yang paling sering adalah penyalaan flare di dalam stadion.
Laga pekan keenam ISC 2016, Persija kontra PS TNI pada 12 Mei yang berakhir dengan skor 1-0, sedikit menimbulkan noda bagi Macan Kemayoran. The Jak kedapatan melanggar regulasi setelah menyalakan flare, kembang api dan laser. Rentetan kejadian yang terjadi di SUGBK pun secara runut sudah dikeluarkan oleh PT GTS.

Suporter Persija

Suporter Persija The Jakmania menyalakan flare dalam pertandingan ISC A 2016 (Foto: Twitter @Ultras_Sector5)
Pada menit kesembilan, 16 dan 47 terlihat petasan dari tribun timur. Sementara pada menit ke-32 ada penyalaan petasan dari tribun utara. Menit ke-38, terlihat penyalaan laser. Pada menit ke-50 terlihat penyalaan kembang api dari tribun selatan. Sedangkan, pada menit ke-64 terlihat penyalaan kembang api dan flare dari tribun utara serta timur disusul menit ke-79.
Berdasarkan rentetan itu, PT GTS pun mengeluarkan sanksi denda sebesar 30 juta rupiah untuk Persija. Pelanggaran serupa terjadi ketika ISC A memasuki pekan ke-9. Tiga poin yang diraih Persegres Gresik United saat menjamu Persib Bandungdinoadi flare yang menyala dari tribun suporter Laskar Joko Samudro hingga sempat menghentikan pertandingan selama 10 menit. Akibatnya, manajemen Persegres dijatuhi denda sebesar Rp 10 juta.
Selain Gresik, tim tamu yakni Persib juga dijatuhi denda oleh Komdis ISC. Smoke bomb yang menyala dari tribun Bobotoh membuat Maung Bandung mendapat hukuman denda sekitar 25 juta rupiah.
Jadwal Pertandingan Tak Ideal
Permasalahan jadwal memang sudah sejak lama dikenal sebagai borok ISC 2016. Beberapa kesebelasan menuding PT GTS menganakemaskan Persib Bandung. Itu setelah perubahan jadwal secara mendadak sehingga membuat laga Persib menghadapi Pusamania Boerneo FC tertunda. Bukan hanya menganakemaskan sebuah tim, PT GTS juga menciptakan jadwal yang tidak bersahabat bagi kesebelasan yang bermain di ISC.
Salah satunya adalah Arema Cronus. Christian Gonzales dan rekan-rekan menjalani dua laga yang begitu melelahkan yakni melawan Persipura pada 24 Oktober di Jayapura dan Semen Padang hanya empat haru berselang. Padatnya jadwal yang akan mereka lakoni tentu saja berakibat buruk bagi tim. Betapa tidak, selain jarak antara Jayapura dan Padang yang begitu jauh (6.677 km dihitung lewat Google Maps).
Pelanggaran Regulasi
Dalam regulasi ISC, tertera pada pasal 1 poin e.i dijelaskan: ”Pelatih kepala sekurang-kurangnya sertifikat AFC “A” Coaching atau yang setara yang mendapatkan pengakuan dari AFC.” Sementara poin e.ii dipaparkan "Asisten pelatih sekurang-kurangnya sertifikat AFC “B” Coaching atau yang setara yang mendapatkan pengakuan dari AFC.”
Namun, aturan ini sepertinya hanya berlaku di atas kertas. Pasalnya, banyak pelatih kepala dan asisten pelatih di ISC A tidak memenuhi minimum standar kualifikasi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Save Our Soccer (Litbang SOS) hingga 1 September 2016, tercatat total 46 pelatih/asisten pelatih yang berkiprah di ISC A. Rinciannya, 18 pelatih kepala dan 28 asisten pelatih. Dari jumlah 18 pelatih kepala ada beberapa pelatih yang tidak memenuhi standar lisensi kepelatihan. Ada juga yang lisensinya masih harus dipertanyakan. Contohnya, Pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, dan pelatih PS TNI, Suharto AD, tak memenuhi standar yang ditetapkan. Djadjang hanya memegang lisensi AFC B. Sementara Suharto berlisensi AFC C.
Ada juga pelatih kepala asing yang standar lisensinya masih dipertanyakan. Sebut saja Wesley Gomes De Oliviera (Madura United), Jaino Matos (Persiba Balikpapan) dan Angel Alfredo Vera (Persipura Jayapura). Mereka memegang lisensi dari ABTF, yang merupakan Organisasi semacam Asosiasi Pelatih Sepakbola yang berada di Brasil, bukan dari Federasi Brasil (CBF). Tidak ada konfirmasi dari AFC apalah ABTF itu setara dengan AFC A. Sejatinya, ini juga perlu dipertegas. Standar lisensi kepelatihan sangat penting untuk menjaga kualitas kompetisi profesional sesuai standar yang ditentukan oleh AFC, apalagi salah satu muara dari kompetisi domestik profesional adalah agar klub dapat bersaing di Kompetisi Klub AFC. Utamanya, dalam menaikkan level dan kualitas kompetisi. AFC biasanya mengeluarkan yang namanya Recognition Of Competence untuk pelatih yang berlisensi di luar standar AFC atau UEFA ataupun FIFA. Semacam Keterangan Pengakuan dari AFC apakah lisensi itu selevel dengan AFC A atau tidak.

Sepak BolaLiga IndonesiaSports

500

Baca Lainnya