• 4

Sejuta Makna Air Mata Ayahanda Rizky Pora

Sejuta Makna Air Mata Ayahanda Rizky Pora



Rizky Pora

Pemain Timnas Indonesia Rizky Pora merayakan golnya ke gawang Thailand di leg II final Piala AFF 2016 melawan Thailand (Foto: Aditia Noviansyah)
Jarum pendek jam tangan saya terlihat telah menyentuh angka enam, sementara jarum panjang bergerak meninggalkan angka sembilan. Kurang dari 15 menit jelang laga hidup-mati, ruangan yang tepat berada di pintu masuk gedung Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) tampak masih sepi.
Aula bercat kelam itu rencananya hendak dijadikan venue nonton bareng leg II final Piala AFF 2016 antara Thailand melawan Indonesia. Kemenkumham menjadi inisator acara, dengan mengundang keluarga salah satu pemain Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Rizky Rizaldi Pora.
Jika acara ini diadakan dua tahun lalu, Piala AFF 2014, saya pasti tak akan hadir. Bukannya sarkastik, tetapi Rizky Pora bukan lah siapa-siapa ketika itu. Debutnya di Piala AFF bahkan berakhir tragis setelah hanya dijalaninya selama beberapa menit. Itu menyusul kartu merah langsung yang diberikan sang pengadil saat menghadapi Filipina.
Kini, siapa yang tak mengenal Rizky Pora? Penampilan ciamiknya bersama skuat “Garuda” di Piala AFF 2016 seketika membuat namanya berpendar terang. Saya semakin tertarik menelisik kisah pribadi pemain Barito Putra ini. Kedatangan keluarga Rizky Pora ke Ibu Kota pun enggan saya sia-siakan. “Momentum tepat nih!” gumam saya dalam hati.

Rizky Pora

Winger Timnas Indonesia Rizky Pora melewati hadangan pemain Vietnam dalam pertandingan leg I semifinal Piala AFF 2016 (Foto: Aditia Noviansyah)

Bersamaan dengan gumaman itu, rasa gelisah seketika menyeruak manakala waktu hampir menyentuh pukul 19.00 WIB. Keadaan ruangan seluas setengah lapangan bola itu masih sama seperti 15 menit yang lalu. Untuk mengusir rasa penasaran, saya lantas memutuskan untuk menunggu di depan pintu.
Tak lama berdiri, terlihat dari kejauhan rombongan orang memakai jersey Timnas Indonesia. Saya menebak mungkin ini rombongan keluarga Rizky Pora. Ternyata dugaan saya benar. Mereka bahkan sempat menyalami saya yang berdiri tepat di pintu masuk ruangan tak ubahnya seperti door man.
Didampingi pejabat Sekretariat Jenderal (Setjen) Kemenkumham, mereka kemudian duduk di meja bundar paling depan. Ayah Rizky Pora, Abdullah Pora, duduk berbeda dengan rombongan keluarga lainnya. Selain Abdullah, hadir pula adik kandung Rizky Pora, Risaldi Pora.
“Priiittt!” peluit tanda dimulainya laga terdengar nyaring. Kesunyian tetiba berubah riuh. Suara pekikan semangat menggelegar dibarengi bunyi terompet gas berulang kali. Dari belakang ruangan, terdengar suara orang memukul galon air mineral. Ah, khas sekali memang suporter Indonesia ini. Kontras, kondisi lebih serius terlihat di barisan meja keluarga Rizky Pora. Tak ada ekspresi berlebihan. Semua tampak tegang dengan mata terus menatap layar putih besar di depan ruangan.  
Terperanjat
Ketegangan sedikit mencair seiring sajian ringan berupa buah-buahan yang dihidangkan oleh panitia. Abdullah yang wajahnya cukup tegang langsung mengambil kelengkeng--buah kesukaannya. Tangannya terlihat sibuk mengupas kulit kelengkeng tanpa melepaskan tatapannya ke layar.
Sebaliknya, Risaldi tampaknya tak tertarik dengan sajian di hadapannya. Ekspresinya datar. Tak berteriak. Duduknya pun tampak tegap. Mulutnya lebih sering terlihat komat-kamit, terutama ketika kakaknya tersorot kamera.
Komat-kamit Risaldi sontak terhenti ketika pertandingan memasuki menit ke-38. Aksi Siroch Chatthong menjebol gawang Kurnia Meiga membuat semua orang di dalam ruangan terperanjat. “Aaahh!” akhirnya Risaldi bersuara. Teriakan yang tak seberapa lantang tersebut menggambarkan betapa Risaldi cukup kecewa.
Tatapannya semakin serius pascagol tersebut. Tetapi, pandangannya teralihkan ketika melihat keponakannya menari-nari di depan meja. Babak pertama pun ditutup bersama dengan berakhirnya tawa Risaldi.  
Orang-orang beranjak dari tempat duduknya, termasuk Risaldi. Sadar ini adalah momentum tepat, saya mencoba menghampirinya. Permintaan wawancara pun saya lontarkan. Tak disangka, pria pendiam ini begitu ramah meladeni pertanyaan saya. Smartphone saya lantas merekam harapannya pada sisa 45 menit kedua.

00:00:00/00:00:00

Risaldi Pora

“Priittt!” peluit sang pengadil menandakan babak kedua dimulai. Semua kembali ke kursinya masing-masing. Suara terompet dan galon air mineral tetap terdengar, tetapi dengan desibel lebih rendah. Entah karena patah arang atau kelelahan.
Kali ini perhatian saya lebih tertuju kepada Abdullah yang terlihat tak nyaman duduknya. Cukup sering dia mengernyitkan dahi sambil sesekali mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Untuk kedua kalinya, tabuhan galon dan tiupan terompet mendadak berhenti. Lagi-lagi gawang Indonesia kebobolan lewat sepakan Chattong.
Gol itu bukan hanya menyakiti jutaan hati rakyat Indonesia, tetapi juga Abdullah dan Risaldi. Tak ada kata-kata yang keluar dari Abdullah. Guratan wajahnya menunjukan kekecewaan teramat dalam. Pikirannya melayang jauh, entah memikirkan apa.
Pandangan saya tak lepas dari gerak-gerik Abdullah. Tetiba, momen menyentuh hati kemudian terjadi. Di tengah nada kekecewaan yang terlontar, raut wajah Abdullah memperlihatkan perbedaan dari sebelumnya. Bola matanya terlihat memerah. Kepalanya sedikit tertunduk tetapi bangkit lagi.
Di situ, saya melihat dengan jelas air mata pria Ternate ini jatuh. Setetes demi setetes membasahi pipi keriputnya.
Saya paham betul makna dari butiran air mata itu. Bagaimana kesedihan sang ayah melihat anaknya sebentar lagi akan gagal meraih mimpinya. Tetapi, saya juga paham benar ada sebuah kebanggan yang teramat sangat di balik tangisan itu.  
Peristiwa menggetarkan kalbu itu hanya terjadi kurang dari lima menit. Abdullah mencoba menenangkan dirinya dengan meminum air mineral kemasan.

Ayah Rizky Pora, Abdullah Pora

Ayah Rizky Pora, Abdullah Pora (kiri) ketika menghadiri nonton bareng leg II final Piala AFF 2016 di Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) (Foto: Abrar Firdiansyah)

Bersamaan dengan itu, Rizky Pora ditarik keluar dan digantikan Ferdinan Sinaga. Tepuk tangan Abdullah dan Risaldi mengiringi perjalanan Rizky Pora keluar lapangan. Tak lain karena pergantian tersebut menandai akhir dari cerita Rizky Pora di Piala AFF 2016. Kisah yang akan dikenang semasa hidupnya.
Harapan tinggal harapan. Perjuangan Timnas Indonesia harus terhenti dengan akhir cerita yang sama: gagal juara. Meski begitu, Abdullah dan Risaldi, yang menempuh perjalanan jauh ke Ibu Kota--Abdullah berangkat dari Ternate, sementara Risaldi dari Yogyakarta--tetap mengucap syukur atas pencapaian anak dan kakaknya.  
Abdullah mengisahkan dia sempat berbincang dengan Iki, panggilan Rizky Pora, sehari sebelum pertandingan. “Saya tanya ‘Iki, apa kamu sudah siap?’, Iki lalu jawab ‘Siap Pak. Iki sudah siap pertaruhkan semua kemampuan untuk pertandingan besok malam’.”
Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya terus mengingat momen magis ketika ayahanda Rizky Pora menangis. Tangisan yang mungkin saja berubah menjadi senyum bahagia dua tahun mendatang. Ketika Timnas Indonesia mengangkat trofi Piala AFF 2018. Semoga.

SportsSepak BolaTimnas IndonesiaPiala AFF 2016

500

Baca Lainnya