• 0

Persipura: Terseok-seok Dahulu, Juara Kemudian

Persipura: Terseok-seok Dahulu, Juara Kemudian



Persipura Jayapura

Pemain Persipura Jayapura memperlihatkan trofi ISC A 2016 sesuai menjadi juara dengan memuncaki klasemen hingga pekan ke-34 (Foto: Twitter @PERSIPURA)
Harapan selalu menyeruak manakala kompetisi sepak bola nasional bersiap digulirkan. Meski kerap diwarnai beragam kontroversi, kehadirannya di tengah belenggu liga-liga luar negeri nyatanya masih dinantikan. Liga Indonesia pun seakan memiliki ruh tersendiri yang tak bisa tergantikan.
Di Indonesia, aktivitas sebelum bergulirnya kompetisi juga cukup ramai layaknya kompetisi top Eropa. Wara-wiri pelatih dan pemain terjadi begitu cepat. Malahan, jarang ditemui pelatih atau pemain yang bertahan lama di satu klub. Tradisi ini terjadi lantaran klub enggan mengontrak pelatih atau pemain lebih dari satu musim menyusul dinamika yang kerap terjadi pascakompetisi. Beberapa bahkan dikontrak dengan durasi bulanan.
Di tengah adat bongkar-pasang skuat jelang kompetisi, nyatanya masih terselip satu klub Tanah Air yang tetap loyal terhadap amunisi lamanya. Adalah Persipura Jayapura yang memegang teguh tradisi itu. Meski didukung kekuatan finansial, tim kebanggaan tanah Papua ini segan merevolusi skuatnya.Pembelian pemain pun dilakukan secara teliti sesuai kebutuhan. Hebatnya, Mutiara Hitam tak sungkan mempromosikan darah-darah mudanya ke tim senior. Berbeda dengan klub besar lainnya seperti Persib Bandung dan Arema Cronus yang hobi gonta-ganti pemain bintang sejak Liga Indonesia digulirkan.
Kebijakan itu pun kembali diambil manajemen tim kala mempersiapkan Persipura menyongsong Indonesian Soccer Championship (ISC) A 2016. Skuat utama masih didominasi nama-nama yang menjadi jaminan mutu semacam Imanuel Wanggai, Ian Louis Kabes, dan Tinus Pae. Beberapa muka baru didatangkan seperti Boakay Eddy Foday, Ordinary Kennedy Sengbah, Thiago Fernandes, dan James Koko Lomell. Sementara, Jafri Sastra yang sukses membawa Mitra Kukar menjuarai Piala Jendral Sudirman ditunjuk membesut Boaz  Solossa dan kawan-kawan.

Persipura Jayapura

Pemain Persipura Jayapura berdoa sebelum memulai pertandingan di ISC A 2016 (Foto: Twitter @PERSIPURA)
Meski demikian, Persipura terkesan telat mempersiapkan tim. Hal ini terjadi lantaran keputusan manajemen yang sempat membubarkan tim sehingga mengancam keikutsertaan mereka di ISC A. Sang ikon, Boaz, bahkan sempat melipir ke Pusamania Borneo FC di Piala Presiden. Akan tetapi, suntikan dana dari sponsor akhirnya mampu membuat mereka bernapas kembali.  
Berbekal persiapan tak lebih dari sebulan, Persipura melakoni partai perdananya menghadapi Persija Jakarta di Stadion Mandala, Jayapura pada 29 April 2016. Bisa ditebak, langkah awal tuan rumah tak begitu mulus menyusul raihan satu poin berkat hasil seri 1-1. Dua laga selanjutnya benar-benar menjadi ujian bagi Persipura. Stadion Mandala yang sedianya merupakan tempat angker kini kembali tak bertuah setelah mereka dipaksa bermain imbang tanpa gol melawan Bali United. Memasuki pekan ketiga bahkan lebih buruk. Bertandang ke markas Semen Padang, sang jawara ISL 2013 ini takluk 0-2.
Kekalahan perdana itu rupanya menjadi cambuk bagi Persipura. Perlahan, penampilan mereka membaik. Empat kemenangan beruntun berhasil diraih. Akan tetapi, lagi-lagi persoalan kembali muncul dari ruang ganti kesebelasan yang berdiri pada 1963 ini. Inkonsistensi begitu terlihat ketika memasuki pertengahan putaran pertama. Imbas rentetan hasil buruk yang diperoleh, Persipura hanya mampu memetik satu kemenangan dari enam pertandingan. Hasilnya: Jafri Sastra harus rela menanggalkan kursi kepelatihannya.
Manajemen tim bergerak cepat dengan mendatangkan pelatih baru yaitu Angel Alfredo Vera. Keraguan yang sempat muncul ketika Persipura tak kunjung menemukan penampilan terbaiknya di tangan Jafri, kembali menghampiri. Bhayangkara FC menjadi ujian pertama Vera menakhodai anak-anak Jayapura. Bukannya menurunkan skuat terbaik, Vera justru memainkan pemain-pemain muda dan dianggap melakukan perjudian di menit pertama perjalanan kariernya.
Cermat
Namun, sang arsitek ternyata mampu membalikan banyak prediksi. Marinus Mariyanto (20) yang dipercaya melakoni debut di laga tersebut bahkan tampil sebagai pahlawan. Satu gol yang ia buat ditambah gol lain dari Boaz hanya mampu dibalas satu oleh Bhayangkara melalui Thiago Firtuoso. Kemenangan itu bukan hanya membuat Marinus menangis karena gol tersebut menjadi gol di laga debutnya bersama Persipura, tetapi juga membukakan pintu Persipura untuk meraup kemenangan demi kemenangan dalam laga selanjutnya.

Immanuel Wanggai

Gelandang Immanuel Wanggai terlihat terharu seusai mencetak gol ke gawang Persegres Gresik United di ISC A 2016 (Foto: Twitter @PERSIPURA)
Posisi Persipura perlahan merangkak naik dan finis di posisi keempat klasemen pada putaran pertama, terpaut delapan angka dari Madura United di puncak klasemen. Posisi yang sejatinya tak lazim bagi tim sekelas Persipura. Manajemen tim pun tak puas. Mereka langsung melakukan evaluasi.
Barisan penyerang menjadi sorotan utama menyusul buruknya penyelesaian akhir Persipura di putaran pertama (17 pertandingan, 21 gol). Alhasil, trio penyerang asing Boakai Edy Foday, Thiago Fernandes, dan James Koko Lomell dilepas. Sebagai penggantinya, mereka mendatangkan Ricardo Silva de Almeida dan Edward Wilson Junior untuk mengisi slot pemain asing.
Kecermatan manajemen dalam mendatangkan pemain terbukti mampu mengangkat performa tim. Edward Wilson yang diproyeksikan sebagai pengganti Eddy Foday langsung menunjukkan peran vitalnya. Ia tampil sebagai pahlawan kemenangan lewat satu golnya pada pekan ke-26 saat menjamu Sriwijaya FC sekaligus membawa The Black Pearl menorehkan 6 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 1 kekalahan sejak putaran kedua dimulai.
Titik Balik
Hasil itu lantas menjadi titik balik Persipura untuk mengudeta puncak klasemen sementara dengan bekal 49 poin. Mereka hanya unggul agresivitas gol dari Madura United dan Arema Cronus yang menempati posisi kedua dan ketiga. Ini adalah kali pertama Persipura merasakan indahnya bertengger di puncak klasemen sejak pekan pertama ISC A 2016 bergulir.
Namun, tren positif Persipura harus terhenti di tangan Persib Bandung setelah menyerah 0-2. Pangeran Biru tercatat menjadi satu-satunya tim ISC A yang mengandaskan Persipura dua kali. Sebelumnya, Atep cs juga sukses menaklukan Persipura di Mandala dengan skor serupa. Kekalahan atas Persib rupanya memacu Persipura untuk bekerja lebih keras.
Sadar peluang juara masih terbuka lebar, mereka langsung tancap gas. Langkah semifinalis Piala AFC 2014 ini kemudian tak terhentikan dalam tiga laga selanjutnya. Alhasil, Persipura kembali mengambilalih puncak klasemen pada pekan ke-31.
Keberhasilan kembali ke pucuk juga tak lepas dari kesialan yang menimpa dua pesaing terdekatnya. Madura United, kejutan besar di putaran pertama ISC A 2016, seakan kehabisan energi di putaran kedua. Sementara, Arema yang menjadi calon juara terkuat terkena efek padatnya kompetisi yang membuat beberapa pilar mereka rontok sebelum kompetisi berakhir.
Pada pekan terakhir, Persipura yang hanya membutuhkan minimal hasil seri untuk menggenggam titel juara, tampil trengginas. Tampil di hadapan puluhan ribu pendukungnya, mereka menggasak PSM Makassar dengan skor telak 4 gol berbalas 2. Stadion Mandala, sekali lagi, menjadi saksi kehebatan Persipura dengan memboyong trofi ISC 2016.
Apa yang diraih Persipura saat ini memang istimewa. Perjalanan penuh liku dibumbui penampilan inkonsisten mereka di awal musim, justru mampu diputarbalikan jelang liga berakhir. Tercatat, Persipura hanya kehilangan 10 poin dari 51 total poin hingga pekan ke-34. Mereka total mengemas 20 menang, 8 seri dan 6 kalah dengan 68 poin.

Persipura Jayapura

Pemain Persipura Jayapura melakukan selebrasi di pertandingan ISC A 2016 (Foto: )
Ya, gelar juara Persipura memang berbau sedikit keberuntungan. Namun, ada satu formulasi yang tak terbantahkan: kerja keras dan kebersamaan. Hal itu dipercaya menjadi pondasi utama merengkuh gelar juara di penghujung musim. Selamat.

Sepak BolaLiga IndonesiaSports

500

Baca Lainnya