Food & Travel
·
21 Juli 2021 15:32
·
waktu baca 4 menit

Taman Nasional Salonga Dikeluarkan dari Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya

Konten ini diproduksi oleh Harley B Sastha
Taman Nasional Salonga Dikeluarkan dari Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya (38934)
searchPerbesar
Salonga National Park (Democratic Republic of the Congo), Sumber: UNESCO/© Kim S. Gjerstad. whc.unesco.org
Selamat, Taman Nasional (TN) Salonga – taman nasional terbesar di Afrika – dikeluarkan dari Daftar Warisan Dunia yang Dalam Bahaya.
ADVERTISEMENT
Demikian UNESCO, melalui akun twitter resminya mengumumkan berhasil dikeluarkannya taman nasional yang berada di Negara Demoratik Rakyat Congo (DRC), pada Senin (19/7/2021).
Keputusan tersebut dikeluarkan oleh badan PBB tersebut, pada sidang tahunan Komite Warisan Dunia, yang tahun ini merupakan sesi ke-44, di Fuzhou, China. Para anggotanya bersidang secara online, mulai 16 Juli – 31 Juli, 2021. Mereka menilai kondisi dan pengelolaan lebih dari 1.100 Situs Warisan Dunia yang ada saat ini. Juga, menerima dan mempertimbangkan 39 nominasi Situs Warisan Dunia Baru dari negara-negara yang mengajukannya.
Sebelumnya, Taman Nasional Afrika, bersama 52 Situs Warisan Dunia lainnya, termasuk Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan Selatan) di Indonesia, masuk dalam Daftar Situs Warisan Dunia yang Berbahaya atau terancam.
ADVERTISEMENT
Sebuah perjalanan yang cukup panjang dan komitmen yang kuat bagi DRC untuk dapat mengeluarkan Taman Nasional Salonga dari daftar tersebut. Setelah 20 tahun, akhirnya dapat diwujudkan.
Pada 2020, UNESCO bersama International Union for Conservation of Nature (IUCN) melakukan misi dan penilaian dengan melihat kondisi dan pengelolaan Salonga. Hasilnya, terlihat ada peningkatan yang signifikan dalam rencana kegiatan dan pengelolaan kawasan hutan hujan terbesar di Afrika yang menjadi rumah bagi 40 persen kera Bonobo atau simpanse kerdil.
“Keputusan hari ini menunjukkan pentingnya pemerintah serta industri minyak dan gas untuk tidak melakukan kegiatan ekstratif di Situs Warisan Dunia,” kata Tim Badman, Direktur Program Warisan Dunia IUCN.
Dikutip dari website resmi IUCN – penasihat resmi Komite Warisan Dunia tentang alam, sekarang Taman Nasional Salonga, dapat merayakan hasil upaya berkelanjutan yang telah membantu mengatasi berbagai ancaman yang memengaruhi situs.
ADVERTISEMENT
Sedangkan, melalui situs resminya, UNESCO, mengatakan, Komite Warisan Dunia, menyambut baik klarifikasi yang diberikan oleh otoritas nasional, bahwa konsesi minyak yang tumpang tindih dengan situs tersebut, batal demi hukum dan bahwa blok-blok ini akan dikeluarkan dari lelang di masa mendatang. Menurut pengamatan, bahwa, pengelolaan taman telah sangat ditingkatkan, terutama berkaitan dengan penguatan anti-perburuan liar.
Pemantauan satwa liar secara teratur menunjukkan, bahwa populasi bonobo tetap stabil dalam situs tersebut. Meskipun ada tekanan di masa lalu dan populasi gajah hutan perlahan mulai kembali pulih.
Taman Nasional Salonga Dikeluarkan dari Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya (38935)
searchPerbesar
Salonga National Park (Democratic Republic of the Congo), Sumber: UNESCO/© Kim S. Gjerstad. whc.unesco.org
Upaya yang dilakukan selama ini bertahun-tahun oleh otoritas nasional, Pusat Warisan Dunia UNESCO dan IUCN, untuk pencapaian ini menjadi sangat penting. Pada tahun 1984, Taman Nasional Salonga masuk dalam Daftar Warisan Dunia Alam. Tetapi, pada 1999, masuk dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya. Lalu, pada 2021, berhasil keluar dari Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya.
ADVERTISEMENT
Taman Nasional Salonga merupakan cagar hutan hujan tropis terbesar di Afrika yang terletak di jantung cekungan tengah sungai Kongo. Sangat terisolasi dan hanya dapat diakses oleh air. Habitat dari banyak spesies endemik yang terancam punah. Selain itu, kawasan ini merupakan rumah bagi banyak spesies yang terancam lainnya, Seperti: bonobo, merak Kongo, gajah hutan dan buaya bermoncong ramping Afrika.
Salonga mewakili salah satu biotop langka yang benar-benar utuh di Afrika tengah. Terdiri dari rawa yang luas dan hutan yang praktis tidak dapat diakses, yang belum pernah dieksplorasi dan mungkin masih dianggap perawan.
Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) Masih Berupaya Untuk Keluar dari Daftar Situs Warisan Dunia yang Dalam Bahaya
ADVERTISEMENT
Bagaimana dengan Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) yang sejak 2011 hingga saat ini masih berada dalam Daftar Situs Warisan Dunia yang Berbahaya bersama 51 situs lainnya di dunia. Kata kuncinya adalah harus terlihat improvement atau perbaikannya yang signifikan. Tidak bisa satu taman nasional, tetapi ketiga-tiganya. Karena, ini merupakan satu kesatuan.
Menurut Direktu Orangutan Center (OIC) Panut Hadisiswoyo, yang sebelumnya menjadi juru bicara masyarakat sipil, pada Sidang Komite Warisan Dunia ke-41, pada 2017, ini memang kerja barat. Tetapi, bisa dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah dengan berbagai pihak. Dengan semua sektor. Harus ada lobby diplomasi yang lebih kuat lagi dari pemerintah Indonesia pada Sidang Komite Warisan Dunia, untuk mengeluarkan TRHS dari daftar yang berbahaya.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno, sejak 2020, sedang berupaya melakukan boundary modification dari TRHS. “Intinya, kawasan yang telah mengalami berbagai tingkat kerusakan dari TRHS, akan dikeluarkan daro batas TRHS tersebut. Di samping itu, kebijakan baru sejak 2018, yaitu kemitraan konservasi telah memberikan dampak positif, dikuranginya kegiatan ilegal. Karena, masyarakat anggota kemitraan konservasi tersebut, turut menjaga, berpatroli dan melaporkan apabila terjadi tindakan ilegal logging dan perambahan baru,” pungkasnya.
Yuk, sobat Kumparan, semangat, sama-sama kita semua berupaya untuk mengeluarkan salah satu Situs Warisan Dunia yang ada di tanah air, TRHS, dari daftar yang berbahaya dan terancam. Salah satunya dengan melakukan aktivitas di dalamnya secara baik, benar, cerdas dan bertanggung jawab. Melakukan riset sederhana, misalnya mencari tahu mengenai kawasan yang akan dikunjungi dan mengikuti tata aturan yang berlaku yang ditetapkan oleh pengelola.
ADVERTISEMENT