News
·
23 Juli 2021 6:30
·
waktu baca 6 menit

Realnya, 150.000 - 200.000 Orang Positif COVID-19 Harian Indonesia?

Konten ini diproduksi oleh Hendra J Kede
Oleh: Hendra J Kede, Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI
Realnya, 150.000 - 200.000 Orang Positif COVID-19 Harian Indonesia? (38906)
searchPerbesar
Kredit foto: Irfan Adi Saputra/kumparan.
Membaca berita-berita berikut, lalu melakukan sedikit analisis matematis sederhana, itulah landasan pertanyaan yang menjadi judul tulisan di atas.
ADVERTISEMENT
*

Kelompok Berita Pertama

Menurut Juru Bicara Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi (22/7/2021):
Pertama.
Pada tingkat provinsi seluruh Jawa-Bali yang menerapkan PPKM Darurat belum ada perubahan di level pandemi ini, seluruh provinsi di Jawa-Bali masih ada di situasi level 4;
Kedua.
Seluruh Kabupaten/Kota di DKI Jakarta yang menerapkan Level 4, masih Level 4; di Jabar satu Kabupaten turun dari Level 4 ke Level 3; di Jateng dua Kabupaten turun ke Level 3 dan tiga Kabupaten naik ke Level 4; Semua Kabupaten/Kota di DIY masih di Level 4; di Jatim enam Kabupaten/Kota naik ke Level 4; di Banten satu Kota naik ke Level 4; Dan di Bali dua Kabupaten naik ke Level 4;
ADVERTISEMENT
Ketiga.
Sampai 21 Juli 2021, melihat data di atas, sehari setelah PPKM Darurat Jawa-Bali Tahap Pertama berakhir justru lebih banyak Kabupaten/Kota yang naik dari Level 3 ke Level 4 dibanding yang turun dari Level 4 ke Level 3;
*

Kelompok Berita Kedua

Pertama.
Persentase rata-rata jumlah tes harian yang dilakukan terhadap jumlah penduduk yang tertinggi adalah DKI Jakarta dibanding Provinsi lain, yaitu pada kisaran 30 ribuan tes dari sekitar 10,56 juta penduduk, yaitu sekitar 0,28%;
Kedua.
Tingkat positif harian DKI Jakarta, proporsi orang yang dites yang terinfeksi, pada kisaran 25-30 persen selama seminggu terakhir;
Ketiga.
WHO menyebut bahwa semua provinsi di Indonesia, kecuali Aceh, memiliki tingkat positif di atas 20 persen saat ini;
ADVERTISEMENT
Keempat.
Menurut WHO, tingkat di atas 20 persen berarti penularan 'sangat tinggi';
Kelima.
Jumlah penduduk Indonesia sekitar 271,3 juta; Banten sekitar 11,90 juta; Jabar sekitar 49,94 juta; Jateng sekitar 36,52 juta; DIY sekitar 3,67 juta; Jatim 40,67 juta, dan Bali sekitar 4,32 juta. Sehingga jumlah penduduk di Jawa-Bali yang menerapkan PPKM Darurat sekitar 157,58 juta atau sekitar 58,08% dari jumlah penduduk Indonesia.
*

Analisis Matematis Sederhana

Pertama.
Jika rasio jumlah tes harian terhadap jumlah penduduk di seluruh provinsi Jawa-Bali sesuai rasio yang diterapkan di DKI Jakarta, yaitu 0,28%, maka jumlah tes harian seharusnya untuk tiap provinsi yang menerapkan PPKM Darurat di Jawa-Bali adalah Banten sekitar 33.320 tes; Jabar sekitar 139.832 tes; Jateng sekitar 102.256 tes; DIY sekitar 10.276 tes; Jatim sekitar 113.876 tes; dan Bali sekitar 12.096 tes. Sehingga total tes harian di Jawa-Bali sekitar 441.656 tes/hari; dan tes seluruh Indonesia sekitar 759.640/hari.
ADVERTISEMENT
Kedua.
Jika merujuk kepada rata-rata tingkat positif harian DKI Jakarta, proporsi orang yang dites yang terinfeksi, pada kisaran 25-30 persen selama seminggu terakhir, yaitu 27,5 persen, maka prediksi jumlah positif harian adalah Banten sekitar 9.163 orang; DKI sekitar 8.250 orang; Jabar sekitar 38.454 orang; Jateng sekitar 28.121 orang; DIY sekitar 2.826 orang; Jatim sekitar 31.316 orang; dan Bali sekitar 3.327 orang;
Perhatikan angka DKI yang 'hanya' 8.250 orang, padahal kita tahu DKI lebih sering pada kisaran belasan ribu tiap harinya selama PPKM Darurat.
Ketiga.
Sehingga, jika merujuk pada perhitungan di atas, prediksi total positif harian di Jawa-Bali yang menerapkan PPKM Darurat ada pada angka sekitar 121.457 orang/hari; dan jika cara perhitungan ini digunakan untuk memprediksi nasional maka prediksi jumlah positif harian nasional adalah sekitar 208.901 orang/hari;
ADVERTISEMENT
Keempat.
Jika merujuk pada pernyataan WHO yang mengatakan bahwa bahwa semua provinsi di Indonesia, kecuali Aceh, memiliki tingkat positif di atas 20 persen dan mengambil angka terendah di atas 20% yaitu 21% dan dengan pelaksanaan tes 0,28% terhadap jumlah penduduk maka prediksi jumlah positif harian nasional Indonesia adalah sekitar 159.525 orang/hari.
*
Baik angka 208.901 maupun angka 159.525 merupakan angka yang patut membuat kita pada posisi kewaspadaan sangat tinggi, baik masyarakat maupun pemerintah.
Angka yang seharusnya, menurut hemat penulis, mampu untuk menyatukan kita semua sebagai anak bangsa, bergandengan tangan saling bergotong-royong dan sementara waktu mengesampingkan segala perbedaan, termasuk perbedaan politik, dan fokus menyamakan gerak langkah bersama di bawah pimpinan Presiden, baik selaku Kepala Negara maupun selaku Kepala Pemerintahan mengatasi pandemi COVID-19 ini dan seluruh dampaknya pada sektor kehidupan.
ADVERTISEMENT
*
Tentu saja penulis tidak tahu kenapa pada Kamis (22/7/2021) Ketua DPR RI, Ibu Puan Maharani, menyampaikan pernyataan dan dimuat banyak media yang nampaknya terkait hal ini. Penulis kutipkan pernyataan beliau yang dimuat media online kumparan (22/7/2021) sebagai berikut:
“Kepala daerah harus jujur dan transparan tentang data di daerahnya. Jangan demi dibilang berhasil menangani COVID-19 lalu data sesungguhnya di lapangan tidak dibuka ke publik bahkan tidak dikerjakan dengan benar,”
Apakah pernyataan Ketua DPR tersebut karena beliau melakukan kalkulasi sederhana seperti yang penulis lakukan di atas atau karena beliau mendapat laporan yang tidak terpublikasikan selaku Ketua DPR RI, laporan intelijen misalnya, entahlah, penulis tidak tahu dan penulis tidak melakukan analisis terkait hal tersebut.
ADVERTISEMENT
Penulis hanya membaca lebih lanjut laporan jurnalistik kumparan yang menuliskan:
Puan juga mengingatkan, data yang salah akan berpengaruh pada kredibilitas pemerintah. Sebab, jika data tak sesuai dengan fakta di lapangan, maka tingkat kepercayaan kepada pemerintah akan terus dipertanyakan dan kebijakan-kebijakannya tak akan sepenuhnya diikuti.
“Penanganan pandemi harus berdasarkan sains, ilmu pengetahuan, bukan intuisi. Indikator yang dipakai juga harus sesuai dengan konsensus sains dan medis,” ujarnya
Silahkan pembaca yang budiman menilai dan menyimpulkannya sendiri.
*
Pada kesempatan ini, penulis tidak bosannya mengingatkan kita semua bahwa Keterbukaan Informasi dalam masa pandemi COVID-19 ini tidak saja merupakan Hak Asasi dan Hak Konstitusional serta Hak Legal masyarakat Indonesia yang digariskan Pasal 28F UUD NRI 1945, UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dan Peraturan turunannya, namun, lebih dari itu, keterbukaan informasi juga merupakan perisai pelindung sangat kuat yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam ikhtiar untuk melindungi diri dan keluarganya dari ganasnya serangan COVID-19 ini pada semua sektor kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat terlemah secara ekonomi dan daya tahan mental.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana yang disampaikan juga oleh Ibu Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI, Komisi di DPR RI yang merupakan mitra Komisi Informasi Pusat, dalam salah satu Webinar yang diselenggarakan oleh Komisi Informasi Pusat beberapa waktu lalu saat varian Delta belum ada, yang pada intinya mengatakan: sudah saatnya kita memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa masyarakat mampu melindungi diri dan keluarganya dari segala dampak COVID-19 dengan cara membekali masyarakat dengan informasi yang luas, tepat, akurat, dan up to date, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
*
Realnya, 150.000 - 200.000 Orang Positif COVID-19 Harian Indonesia? (38907)
searchPerbesar
Kredit foto: Shutterstock.
Mengakhiri tulisan ini, mari kita ingat selalu dan jalankan imbauan Kepala Negara, Presiden Jokowi, dan para pemuka agama, bahwa di samping ikhtiar terus menerus marilah kita senantiasa setiap saat berusaha mengetuk pintu langit melalui untaian do'a agar Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, berkenan ikut campur tangan membantu ikhtiar kita untuk mengakhiri pandemi COVID-19 dan segala dampaknya pada semua sektor kehidupan ini.
ADVERTISEMENT
Akhirnya hanya kepada-Nya kita berserah diri, semoga pandemi COVID-19 segera berlalu, Allahumma aamiin.