Opini & Cerita11 September 2020 9:00

Uni Puan

Konten kiriman user
Uni Puan (629601)
Puan Maharani Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Uni Puan Maharani, kaponakan padusi urang Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang sedang mengemban amanah Ketua DPR .
ADVERTISEMENT
Anak kanduang dari Puti Megawati Soekarnoputri, Presiden perempuan pertama Republik Indonesia, jo Taufik Kiemas Datuak Basa Batuah, penghulu kaum di Kanagarian Sabu, Batipuh Ateh, Luhak Nan Tuo Tanah Datar.
Cucu dari Bundo Kanduang Fatmawati, Ibu Negara pertama Republik Indonesia, penjahit Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan, anak kemenakan urang Minang nan lahir di parantauan.
Cicit dari Putri Siti Chadijah, bernasab langsung sesuai adat Minangkabau yang bergaris Ibu ke kerajaraan Ujung Pagaruyuang yang membentang dari Kota Padang sekarang sepanjang pesisir, dikenal juga dengan Kerajaan Indrapura.
Putri Siti Chadijah inilah yang setelah menikah dengan Hasan Din merantau ke Bengkulu dan melahirkan Bundo Kanduang Fatmawati disana.
*
Penulis lahir dan besar di Jorong Mandahiling, Nagari Lawang Mandahiling, Salimpaung, Luhak Nan Tuo Tanah Datar. Pagi pergi kesekolah, malam pergi dan tidur di surau belajar mengaji dan belajar adat., selama kurang lebih 9 (sembilan) tahun, semenjak masuk SD sampai tamat MTsN, sebelum merantau ke Koto Baru Padang Panjang.
ADVERTISEMENT
Merantau setelah tamat sekolah MAN Koto Baru Padang Panjang ke Jogja, sampai akhirnya menjadi Putra Mantu (Sumando) orang Wonogiri, Jawa Tengah.
Kira-kira umur penulis saat merantau seumuran dengan Hasan Din, Ayahanda Ibu Fatmawati, saat pergi merantau ke Bengkulu.
Secara sepihak penulis menyimpulkan kalau penulis bisa merasakan bagaimana jiwa dan karakter ke-Minang-an serta jiwa dan karakter ke-Indonesia-an menyatu padu dalam jiwa raga pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah.
Jiwa ke-Minang-an dan jiwa ke-Indonesia-an yang telah menyatu menjadi karakter itulah yang menurut hemat penulis telah membentuk jiwa dan karakter seorang Fatmawati sedari kecilnya, disamping lingkungan sosial tempat tinggalnya, budaya Bengkulu, tentunya.
Dan tidak bisa dibantah sedikitpun, dengan jiwa dan karakter itulah Fatmawati membesarkan dan mendidik anak-anaknya, termasuk anaknya Megawati Soekarnoputri.
ADVERTISEMENT
Jiwa dan karakter yang terbentuk hasil didikan Ibu Fatmawati itu jugalah yang menghantarkan Megawati sebagai Presiden perempuan pertama Indonesia dan Ketua Umum dari sebuah partai terbesar dan paling solid untuk jangka waktu paling lama, PDI Perjuangan. Presiden yang mempersembahkan Pilpres langsung kepada bangsa Indonesia.
Dan semua sangat tahu, jiwa dan karakter kuat seorang Megawati itulah yang tampak jelas diwarisi dan mengakar dalam diri seorang Uni Puan Maharani, anak kemenakan urang Minang yang saat ini mengemban amanah bergengsi, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
**
Kaum penulis, yaitu kaum Datuak Majosindo di pasukuan Mandahiling, bukanlah kaum yang berkembang, dalam artian tidak memiliki banyak anggota keluarga, terutama anggota keluarga perempuan yang akan melanjutkan garis keturunan.
ADVERTISEMENT
Generasi nenek buyut yang seumuran dengan Hasan Din, awal abad ke dua puluh, hanya ada dua perempuan. Generasi nenek hanya ada satu perempuan yaitu nenek kanduang penulis, generasi Ibu ada tiga perempuan, generasi penulis hanya ada dua perempuan yaitu adik dan sepupu penulis, generasi di bawah penulis belum ada perempuan sampai saat ini.
Penulis masih bisa merasakan bagaimana kegelisahan anggota keluarga kaum penulis pada akhir tahun 1980-an karena perempuan anggota keluarga generasi penulis baru satu orang, yaitu sepupu penulis.
Kegelisahan yang berujung dorongan agar Ibunda penulis melahirkan kembali, walaupun anak bungsunya sudah berumur 13 (tiga belas) tahun.
Dan penulis masih bisa merasakan sampai saat ini euforia dan kegembiraan luar biasa keluarga saat Ibu melahirkan anak perempuan, adik bungsu penulis, perempuan kedua dan terakhir anggota keluarga kaum Datuak Majosindo yang lahir sebagai satu generasi dengan penulis.
ADVERTISEMENT
Kenapa penulis merasa perlu menuliskan pengalaman penulis di atas dalam tulisan ini? Itu mungkin pertanyaan yang muncul dalam benak pembaca.
Penulis meyakini kalau hal yang sama juga dirasakan Hasan Din dan Siti Chadijah. Perasaan sama yang dimiliki oleh keluarga Minangkabau manapun yang memiliki sedikit perempuan dalam keluarganya.
Kenapa? Karena salah satu ketakutan terbesar orang Minangkabau adalah punah. Punah dalam artian tidak ada lagi generasi berikutnya yang perempuan. Apalagi kalau benar-benar sudah tidak ada anggota keluarga yang perempuan, hanya tinggal yang laki-laki.
Pulang kampung terasa hambar bagi yang merantau. Rumah gadang kosong dan serasa kehilangan tuahnya dan hanya menunggu runtuh. Masa tua serasa tidak ada yang akan menjaga. Menikahkan anak perempuan tidak ada yang akan memakaikan baju anak daro.
ADVERTISEMENT
Hasan Din dan Siti Chadijah hanya memiliki satu anak perempuan sebagai penerus garis keturunan yaitu Fatmawati. Tidak ada yang lain.
Sehingga bisa dimaklumi kegembiraan yang dirasakan Hasan Din dan Siti Chadijah ketika anak semata wayang mereka melahirkan seorang anak perempuan bernama Megawati.
Dan tidak perlu dilukiskan disini bagaimana kasih sayang seorang kakek dan nenek Minangkabau kepada cucu perempuan pertamanya yang dilahirkan anak perempuan semata wayang mereka.
Betapa hilang beban terkait garis keturunan dari pikiran Siti Chadijah ketika anaknya Fatmawati melahirkan anak padusi bernama Megawati.
Dan itu pulalah nampaknya kenapa Hasan Din memberi nama Perseroan Terbatas (PT) , perusahaan yang didirikannya pada awal kemerdekaan dengan nama P.T. Mega, bukan P.T. Guruh, nama cucu laki-laki pertama, Uda dari Megawati.
ADVERTISEMENT
Kebahagiaan yang sama penulis yakini dirasakan oleh Bapak Taufik Kiemas Datuak Batuah dengan Ibu Megawati saat anak perempuan pertamanya lahir, Puan Maharani.
Kegembiraan khas orang Minangkabau, walaupun lahir dan besar di perantauan.
*
Uni Puan (629602)
Ketua DPR RI, Puan Maharani saat mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pancasila secara virtual di rumah dinasnya. Foto: Dok. DPR
Sebagai penutup, penulis ingin mengatakan kalau termasuk orang yang mengedepankan husnuzhon atas ucapan Uni Puan yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Jangankan disengaja, terpikirkan pun rasanya tidak mungkin oleh Uni Puan untuk menyakiti perasaan niniak mamak, cadiak pandai, dan ulama urang kampuangnya sendiri, apalagi sampai menghina.
Apalagi ucapan itu diucapkan dalam satu tarikan napas dengan kalimat toyib, bismillahirrahmanirrahim.
Belum pernah penulis mendengar dan membaca sepanjang hidup penulis ada orang melontarkan hinaan diiringi dengan bismillah, belum pernah.
ADVERTISEMENT
Karena itulah penulis meyakini, ucapan Uni Puan Maharani bukanlah dimaksudkan untuk menyakiti apalagi menghina, terlepas dari segala tafsir dari orang yang mendengarnya.
Seperti kata Ustadz Abduk Somad di ILC, tafsir tetaplah tafsir, yang bisa salah dan benar. Kebenaran hakiki hanya diketahui Allah SWT dan orang yang mengucapkannya.
Dan penulis memilih mentafsir ucapan Uni Puan Maharani dengan tafsir yang diwarnai kalimat bismillah yang ada dalam kalimat yang diucapkan Uni Puan tersebut.
Kenapa begitu? Karena menurut guru-guru mengaji penulis, menurut instruktur-instruktur Pelajar Islam Indonesia (PII) tempat di mana penulis aktif semenjak remaja, kesaktian kalimat bismillahirrahmanirrahim itu adalah dia tidak pernah bisa digandengkan dengan kalimat buruk.
Bismillahirrahmanirrahim hanya bisa keluar dari mulut seseorang yang sedang berniat baik.
ADVERTISEMENT
Kalimat pembuka maupun kalimat pengiring bismillahirrahmanirrahim juga hanya bisa ditafsir sebagai kalimat baik, setidak-tidaknya kalimat itu diucapkan dengan baik oleh pengucapnya.
Demikian, terima kasih.
---
Hendra J Kede
Ketua Bidang Hukum dan Legislasi PP KBPII / Keluarga Kaum Datuak Majosindo Pasukuan Mandahiling Luhak Nan Tuo
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white