Konten dari Pengguna
Mekanisme Pembuktian dalam Persidangan Kasus Bom JW Marriott
6 November 2025 16:32 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mekanisme Pembuktian dalam Persidangan Kasus Bom JW Marriott
Pengeboman Hotel JW Marriott pada 2003 dan 2009 melibatkan sejumlah pelaku teror. Berikut mekanisme pembuktian dalam persidangan kasus bom JW Marriott. Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Pengeboman Hotel JW Marriott pada 2003 dan 2009 merupakan salah satu peristiwa terorisme paling berdampak di Jakarta. Tragedi ini menimbulkan banyak korban jiwa serta mengguncang keamanan nasional. Ledakan yang terjadi merupakan hasil perencanaan sejumlah orang di balik aksi tersebut, dan para pelaku kemudian menjadi fokus dalam persidangan yang digelar. Berikut mekanisme pembuktian dalam kasus bom JW Marriott.
ADVERTISEMENT
Tersangka Utama Kasus Bom JW Marriot
Mengutip jurnal Terorisme sebagai Extraordinary Crime dalam Perspektif Hukum dan Hak Asasi Manusia karya Dr. Aulia Rosa Nasution dkk, ledakan pada 2003 berasal dari bom mobil bunuh diri yang dikendarai Asmar Latin Sani.
Sedangkan pada 2009, pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott adalah Dani Dwi Permana, yang meledakkan bom di lobi hotel hampir bersamaan dengan ledakan di hotel Ritz Carlton.
Pelaku yang Terlibat
Selain para tersangka utama, pihak-pihak lain yang terlibat dalam perencanaan, perakitan, dan bantuan operasional aksi terorisme tersebut juga ditangkap hidup-hidup oleh Densus 88 Antiteror dan kemudian menjalani proses persidangan. Beberapa di antaranya adalah:
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Saksi dan Korban Selamat dalam Kasus Bom JW Marriott
Dalam persidangan, saksi menjadi jembatan antara bukti fisik dan narasi kejadian. Berikut sejumlah saksi dan korban selamat dalam kasus JW Marriot:
Korban Selamat Kasus JW Marriot Tahun 2003
1. Tony Soemarno: Salah satu korban selamat yang berada di restoran hotel saat ledakan terjadi.
2. Febi/Vivi Normasari: Korban selamat lainnya yang mengalami luka bakar parah saat sedang makan siang di restoran hotel.
Saksi Kasus JW Marriot Tahunn 2009
1. Didik Ahmad Taufik
Supervisior keamanan di JW Marriott. Ia mengamati bahwa pelaku bom bunuh diri bukan orang asing, sebab menurut pengamatannya fasih berbahasa Indonesia.
Ia melihat pelaku membawa travel bag dan berjalan ke arah ruang JW Lounge di hotel. Ia merasa curiga terhadap perilaku pria tersebut karena tas yang dibawa dan langkahnya.
ADVERTISEMENT
2. Saksi “A” (inisial A)
Staf bagian banquet di restoran Sailendra, JW Marriott. Ia melihat pelaku mondar‐mandir sambil menyeret sebuah tas hitam sebelum akhirnya bom meledak di restoran dan gerakannya dianggap mencurigakan.
Rekaman CCTV dan Alur Pergerakan Pelaku
Rekaman CCTV menjadi alat penting untuk menelusuri pergerakan pelaku hingga detik-detik sebelum ledakan. Beberapa temuan penting dari rekaman CCTV antara lain:
1. Kasus Bom JW Marriott 2003
Untuk ledakan 2003, meskipun detail rekaman CCTV kurang jelas, diketahui bahwa mobil Toyota Kijang yang membawa bom terekam memasuki lobby hotel. Mobil tersebut sempat berinteraksi singkat dengan petugas keamanan sebelum ledakan terjadi.
2. Kasus Bom JW Marriot 2009
Pantauan CCTV menunjukkan seorang pria yang dicurigai sebagai pelaku berjalan dari sebelah kiri lobby (dilihat dari pintu masuk) menuju sisi kanan, tempat JW Lounge berada. Tak lama setelah itu, ledakan terjadi.
ADVERTISEMENT
Meskipun bom meledak di JW Lounge, restoran Syailendra yang pagi itu dipenuhi puluhan orang juga terdampak. Kaca pecah berhamburan, dan puluhan orang yang sedang sarapan mengalami luka-luka.

