Konten dari Pengguna
Sejarah Tari Topeng Cirebon: Warisan dari Majapahit ke Keraton Pesisir Jawa
4 Desember 2025 14:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Tari Topeng Cirebon: Warisan dari Majapahit ke Keraton Pesisir Jawa
Simak sejarah Tari Topeng Cirebon, warisan budaya dari Majapahit ke Keraton Pesisir Jawa, dalam ulasan ini.Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian maskot tertua di Indonesia yang menggabungkan gerakan halus, topeng berwarna cerah, dan narasi filosofis tentang kehidupan manusia. Sejarah Tari Topeng Cirebon bermula dari era Majapahit abad ke-12, menyebar ke Demak, lalu ke Cirebon dan Banten melalui pengaruh Islam pesisir. Tarian ini tidak hanya hiburan, tapi ritual sakral yang menggambarkan tahapan hidup dari Panji suci hingga raja bijaksana. Tari ini awalnya bagian upacara ngunjung buyut dan mapag sri, berevolusi menjadi seni hiburan karena kemajuan teknologi informasi. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut sejarah lengkap dari Tari Topeng Cirebon.
ADVERTISEMENT
Asal Mula Tari Topeng dari Majapahit ke Demak
Tari Topeng Cirebon berakar pada tradisi Jawa Kuno abad ke-12 di Majapahit, di mana topeng digunakan menceritakan kisah Sang Hyang Tunggal melalui tokoh Panji.
Dikutip dari buku Tari Topeng Cirebon di Ruang Publik: Pelestarian di Kota Cirebon Tahun 1970–2022 oleh peneliti UPI, tradisi tersebut kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan pesisir melalui pengaruh Demak, membawa bahasa Jawa lama dan motif wayang. Dari Demak, tarian ini sampai Keraton Cirebon dan Banten, seperti dicatat berita Belanda tentang pertunjukan di istana Banten.
Tari Topeng Panji menggambarkan manusia suci bebas dosa, ditarikan dalam upacara ziarah leluhur dan panen. Relief candi Majapahit dan lontar kuno membuktikan topeng sudah digunakan sejak era kerajaan Hindu-Buddha, berevolusi dengan Islam di Cirebon menjadi simbol harmoni agama.
ADVERTISEMENT
Pengaruh Keraton Cirebon dan Gaya Gegesik
Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon sudah menjadi pusat perkembangan Tari Topeng Kacirebonan sejak abad ke-16. Dalam jurnal UKRI tahun 2024, dijelaskan bahwa gaya tarian dari wilayah Gegesik memiliki ciri khas tersendiri, yakni gerakannya lebih lentur dan topengnya berwarna “widoel” yang terlihat megah.
Gaya ini berbeda dari tarian topeng yang ada di Bali atau Yogyakarta. Contohnya, pada Tari Topeng Klana Gegesik, ada delapan unsur penting yang membentuk pertunjukan, seperti gerakan, penari, rias wajah, kostum, pola lantai, musik gamelan, properti, dan tempat pertunjukan yang bersifat ritual.
Sementara itu, peneliti ISI Surakarta dalam buku Penyajian Tari Topeng Klana Cirebon Gaya Gegesik menjelaskan bahwa tari ini dianalisis menggunakan pendekatan ethnochoreology atau ilmu yang mempelajari tari dalam konteks budaya. Hasilnya, setiap jenis topeng memiliki makna perjalanan hidup manusia, di mana Panji melambangkan kelahiran, Samba menggambarkan masa kanak-kanak, Rumyang menunjukkan masa dewasa, dan Tumenggung menggambarkan kedewasaan yang matang.
ADVERTISEMENT
Di Sunyaragi, Sanggar Dewata Sentja ikut memperkenalkan Tari Topeng Cirebon kepada para wisatawan, seperti yang dipaparkan dalam publikasi Atlantis Press. Sanggar Dewata Sentja di Sunyaragi juga aktif memperkenalkan tari ini kepada para wisatawan, seperti yang dijelaskan dalam laporan Atlantis Press.
Evolusi dari Ritual Keraton ke Panggung Publik
Pada 1970-an, Tari Topeng Cirebon keluar dari keraton berkat festival dan sanggar seni yang difasilitasi sultan. Buku Tari Topeng Cirebon di Ruang Publik: Pelestarian di Kota Cirebon Tahun 1970–2022 oleh Peniliti UPI mencatatkan bahwa pembatasan Orde Baru justru memicu regenerasi melalui lomba tari dan tur internasional, diakui Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2014. Inovasi durasi pendek dan kolaborasi lintas seni membuatnya relevan, dari ngarot hingga pentas modern.
ADVERTISEMENT
Artikel Topeng Babakan Cirebon 1900-1990 dari ISI Surakarta Jurnal Greget menjelaskan Topeng Babakan tetap terkait upacara rakyat seperti ngunjung dan mapag sri, bertahan di tengah modernisasi. Sanggar Purwa Kencana di Cirebon melestarikan ritual Topeng Kelana Bandopati, mengajarkan kearifan pesisir.
Karakteristik Topeng dan Makna Filosofis
Topeng Cirebon biasanya dicat dengan warna emas dan merah (disebut widoel), yang melambangkan kemegahan. Ada sekitar 7–9 jenis topeng, misalnya Topeng Panji yang menggambarkan kesucian, Topeng Kelana yang mewakili sosok pemuda bersemangat, dan Topeng Ayam Kemuning yang menggambarkan perempuan yang bijaksana.
Menurut jurnal berjudul Analysis of Topeng Jaya Perbangsa's Movements karya Gondang, gerakan halus dalam tarian ini sebenarnya menjadi simbol perjalanan hidup manusia. Musik gamelan degung yang mengiringinya membantu memperkuat pesan dan makna filosofis tari tersebut. Tarian Topeng Cirebon juga dikenal mengandung nilai toleransi antara budaya Islam dan Jawa, sehingga menjadi salah satu kekhasan budaya pesisir.
ADVERTISEMENT
Penelitian lain berjudul Cirebon Mask Dance as a Tourism Attraction dari Atlantis Press mencatat bahwa tarian ini telah menyesuaikan beberapa bagian pertunjukannya untuk wisatawan di Keraton Sunyaragi. Meski begitu, esensi budaya tetap dijaga, dan pertunjukan ini mampu menarik hingga 100.000 pengunjung setiap tahun.
(NDA)

