• 24


Tahun Baru: Semangat Baru Kaum Muda Lebih Peduli Berpolitik


Politics

Youth politics (Foto: Istimewa)
Sekarang berada di tahun baru 2017. Yang kemarin masih remaja sekarang sudah dewasa, yang kemarin dewasa sekarang jadi matang umurnya, dan seterusnya. Itulah kehidupan yang tidak bisa kita hindarkan.
Tapi dalam waktu bersamaan, pergantian waktu, bertambahnya umur, sesungguhnya dimaksudkan agar bertambah juga pengalaman kehidupan, bertambah juga kemampuan, keahlian, termasuk kepedulian akan kondisi yang lebih baik.
Baik dari sisi profesi, maupun dari sisi peran serta kita terhadap apa yang terjadi di lingkungan.
Kita Indonesia, negara seperti mayoritas negara lain di dunia bukan menganut sistem anti sosial, tapi sistem yang memberikan ruang bagi individu untuk berkembang sangat baik, sekaligus perkembangan yang membawa kepada kebaikan semuanya.
Kalau bahasa Bung Karno: satu untuk semua, semua untuk satu.

Soekarno

Presiden Soekarno upacara penguburan korban G30S. (Foto: yayasanakudansukarno.com)
Artinya semua memberi kontribusi untuk semua. Itu kondisi yang dari dulu memang sudah disepakati dan dihadirkan oleh bapak bangsa dan ibu bangsa yang dulu mereka umumnya muda dan terpelajar.
Pada masanya, gelar akademik mereka sudah sangat keren, ada yang sudah profesor, doktor, ahli hukum, insinyur seperti Soekarno, Drs Bung Hatta, ada juga gelar keagamaan yang menonjol seperti KH dan sebagainya.
Tapi mereka umumnya anak muda yang pada jamannya tahu persis tentang tantangan jaman. Mereka menempa diri sehingga intelektualitas mereka luar biasa. Kalau baca polemik tokoh-tokoh saat itu sangat luar biasa.
Satu hal yang menjadi tantangan di jaman sekarang adalah kita berada di Indonesia mewarisi perjuangan mereka semua. Indonesia dengan demokrasinya memberi ruang bagi siapapun mengembangkan diri dan berkontribusi untuk kebaikan yang lebih luas. Pintu besarnya melalui jalur politik.
Politik di sini memang bisa diartikan dalam banyak hal, politik artinya keikutsertaan dalam memaksimalkan hak kedaulatan warga, menghadirkan kepemimpinan atau perwakilan yang lebih baik melalui pemilu atau Pilkada.
Juga bisa melalui mekanisme di mana dampak demokrasi memberi kemungkinan hadirnya kondisi dan situasi serta regulasi yang kondusif untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.
Hadirnya kepemimpinan bukan satu hal yang diinginkan sendiri, misal saya ingin jadi anggota DPR, ingin jadi presiden. Tapi karena melalui mekanisme seseorang dipilih memenangkan pemilihan melalui mekanisme demokrasi.
Agar yang kita pilih betul-betul bisa hadirkan regulasi dan kondisi yang memberi ruang bagi anak bangsa lebih maju ke depan, maka yang kita pilih mereka yang bisa memberikan realisaisi dari harapan itu.
Mereka (pemimpin) bisa hadir karena dipilih anak mudanya. Indonesia sering disebut mendapat bonus demografi, karena begitu besar anak mudanya.
Kalau anak muda apolitik, dalam konteks hadirkan perwakilan, kepemimpinan, maka yang dikhawatirkan hadirnya para wakil rakyat maupun pemimpin kepala daerah yang justru pada saatnya nanti anak muda yang sekarang muda dan pada waktunya mereka dewasa, mereka akan dikecewakan, misal UU yang dibuat DPR tidak mengakomodasi mereka.
Karenanya masa depan Indonesia, masa depan bangsa ini bukan hanya slogan ditentukan anak mudanya, tapi memang anak muda dalam konteks demokrasi dengan jumlah yang sangat besar itu, sangat bisa jadi bagian yang menentukan masa depan Indonesia.
Yaitu melalui keterlibatan mereka, yang paling sederhana menjadi pemilih, tidak golput, apolitik, apalagi mengkafirkan demokrasi, mentogutkan parpol dan parlemen.
Di lain pihak, ada yang terjebak radikalisme dalam bentuk lainnya.
Anak muda yang egosentris, egoistis dan menjadi tidak peduli dengan sekitar. Mereka apolitik dalam arti keasyikan dengan ambisi pribadinya dan seolah 'tanpa negara mereka tetap bisa hadir'.
Sesungguhnya hampir nggak mungkin, karena sebebas apapun misal mereka melakukan bisnis online atau sahabatan di media sosial, itu sesungguhnya terkait dengan politik.
Misal dalam hal regulasi, mereka akan tetap kena aturan-aturan hukum terkait dengan bisnis online, atau media sosial, sekarang sudah banyak orang terkena UU ITE karena mreka kira dengan media sosial bisa bebas dari jangkauan hukum.
Karena itu anak muda sekarang akan lebih bagus mereka menjadi bagian yang ikut berkontribusi menghadirkan regulasi yang berpihak untuk kepentingan anak-anak muda. Dan itu akan terjadi kalau anak-anak muda kita seperti dicontohkan Soekarno mereka begitu cinta bangsa dan negaranya sehingga melibatkan diri untuk bangsa dan negara.
Berpolitik bukan berarti menjadi pengurus atau simpatisan partai politik, tapi punya kepedulian kepada nasib bangsa dan negara.
Pada saatnya ada pilkada atau pemilu, Anda melibatkan diri menghadirkan pemimpin yang lebih baik bagi bangsa dan negara, atau ketika ada bahan regulasi yang terkait kepentingan umum termasuk kepentingan anak muda, Anda ikut memberi masukan.
Karena UUD memberi hak bagi anak muda untuk menguji suatu UU kalau ternyata tidak sesuai dengan UUD atau merugikan kepentingan bangsa dan negara.
Itu bagian keikutsertaan kita dalam politik. Jadi bukan menjadi pengurus atau bikin parpol, karena bukan perkara mudah sekalipun bebas saja misal parpol pemuda Indonesia. Tapi pengalaman sudah menunjukkan partai pemuda tak mampu mendapat dukungan dari bangsa.
Sekali lagi tentunya tahun baru ada semangat baru seperti dilakukan founding fathers ketika mereka dengan semangat baru melahirkan Indonesia merdeka yang kita rasakan sebagai keberkahan Indonesia.

Personal

Related Stories

Recommendations

Miryam S Haryani Ditangkap Polisi
4 1
Menyapa Mbak Tutut di Cendana
5 0
Miryam Jalani Pemeriksaan Kesehatan Setelah Ditangkap
4 0
Suku Mante Pernah Ditemukan Tewas Terjerat Perangkap Badak di Leuser
6 21
Nathan Suwanto, Statusmu Harimaumu
9 19
Ibu Tien di Balik Larangan Poligami
13 12
Ahmad Albar Dikaruniai Bayi Perempuan Saat Usianya 70 Tahun
11 21
Kabar tentang Dhani yang Berutang dan Mulan Jualan Ceker & Cilok
8 32
Lihat Pengumuman SNMPTN 2017 di Sini
7 23
Jupe Sedang Menunggu Seseorang... Siapa?
7 3