Kisah Abdullah bin Amr, Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Ahli Ibadah

All about hijab.
Konten dari Pengguna
2 Juni 2020 11:31
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kitab suci Alquran. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Kitab suci Alquran. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
Ibadah memang sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh setiap umat manusia. Dalam ajaran Islam, mereka yang rajin beribadah dan selalu berbuat baik akan masuk surga.
ADVERTISEMENT
Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, ada seseorang yang bernama Abdullah bin Amr bin Ash yang dikenal sebagai ahli ibadah. Dia dibesarkan dari keluarga terpandang nan kaya raya. Ayahnya bernama Amru bin Ash yang merupakan seorang bangsawan.
Sejak kecil, Abdullah sudah menunjukkan sesuatu hal yang membuat dirinya tumbuh menjadi pemuda yang giat menjalankan ibadah sunah dan membaca Alquran. Abdullah tumbuh dengan sangat baik sebagai pemuda keturunan bangsawan, meskipun ia menganggap itu hanyalah kenikmatan duniawi yang sangat sepele Sebab, menjalankan ibadah sunah dan wajib adalah hal yang seharusnya lebih penting dilakukan bagi umat Islam.
Abdullah diketahui masuk Islam lebih dulu dibanding sang ayah. Ketika ayahnya masuk dalam ajaran agama Islam, ia selalu menjadi sang ahli strategi untuk perang pasukan Muslim. Dalam hal ini pula, Abdullah tidak mau merasa kalah dengan sang ayah. Ia juga berjihad dan berada digaris terdepan dalam menegakkan ajaran Islam.
ADVERTISEMENT
Sejak awal, Abdullah telah mementingkan dan memfokuskan dirinya terhadap Alquran. Setiap kali turun ayat, maka ia langsung menghafalkan dan berusaha untuk memahaminya. Setelah semuanya selesai dan ayat-ayat di dalam Alquran sempurna, ia telah mengkhatamkannya dengan baik.
Sepertinya Allah SWT memang sudah mentakdirkan Abdullah sebagai seorang yang suci dan rajin beribadah. Ketika perang yang diikutsertakannya telah usai, ia akan bertamu ke rumah Allah untuk mendirikan salat. Abdullah adalah seseorang yang selalu berpuasa di siang hari dan mendirikan salat di malam hari. Lidahnya seperti tanpa henti berzikir, bertasbih, dan memuji-Nya.
Ada suatu kisah yang menceritakan bahwa Abdullah kurang memerhatikan keluarga, bahkan abai dalam hubungan suami istri seolah-olah dirinya tidak pernah istirahat dalam beribadah. Waktunya selalu dihabiskan untuk berpuasa, salat wajib dan sunah, dan membaca Alquran.
ADVERTISEMENT
Hingga suatu ketika, istri dari Abdullah berkata kepada Nabi Muhammad SAW bahwa ia mengeluhkan perilaku suaminya yang jauh mementingkan ibadah dibanding dirinya.
Abdullah pun pernah dinasihati oleh Nabi Muhammad SAW, "Kabarnya engkau selalu puasa di siang hari tak pernah berbuka dan salat di malam hari tak pernah tidur? Cukuplah puasa tiga hari setiap bulan!"
Abdullah menjawab, "Saya sanggup lebih dari itu."
"Kalau begitu, cukup lakukan dua hari dalam seminggu," ujar Nabi Muhammad SAW.
"Aku juga sanggup lebih banyak dari itu," Abdullah kembali menjawab.
"Jika demikian, baiklah kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari!" Kata Nabi.
Di saat Abdullah diberi umur panjang, dan tubuhnya mulai lemah, ia kembali mengingat nasihat Nabi Muhammad. "Malang nasibku, kenapa dulu tidak melaksanakan keringanan dari Rasulullah," ucap Abdullah dalam hati.
ADVERTISEMENT
Ada satu pesan yang sangat diingat oleh Abdullah dari Nabi Muhammad SAW. "Lakukanlah apa yang kuperintahkan dan taatilah bapakmu." Itulah nasihat terakhir yang sangat diingat oleh Abdullah. Sepanjang hidupnya, Abdullah pun tidak pernah melupakan kalimat pendek itu. Sampai akhirnya, terjadilah perang Shiffin, yaitu perang antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.
Sesaat sebelum perang tersebut terjadi, ayah Abdullah yang berpihak kepada Muawiyah meminta anaknya untuk turut serta bersamanya dalam membela Muawiyah. Di sinilah Abdullah mengikuti saran Nabi Muhammad SAW. Abdullah taat kepada ayahnya dengan janji untuk tidak memanggul senjata dan tidak berperang dengan seorang Muslim pun.
Ada seorang pria yang bernama Husein bin Ali bin Abi Thalib. Dia pernah bertanya kepada Abdullah, "Apa yang membawamu hingga kau ikut berperang di pihak Muawiyah?"
ADVERTISEMENT
Tanpa ragu, Abdullah pun menjawab, "Pada suatu hari, aku diadukan bapakku Amr bin Ash menghadap Rasulullah SAW. Kata bapakku, 'Abdullah ini puasa setiap hari dan beribadah setiap malam.' Rasulullah berpesan kepadaku, 'Hai Abdullah, salat dan tidurlah, serta berpuasa dan berbukalah, dan taatilah bapakmu!' Maka sewaktu Perang Shiffin itu, bapakku mendesakku dengan keras agar ikut bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah!"
Namun, ingatkah kalian semua sebagai umat Islam bahwa sesuatu yang berlebihan itu bukanlah perbuatan baik.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 77 yang artinya:

”Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”

ADVERTISEMENT
Abdullah juga merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang sering mencatat sabda-sabdanya. Ketika Abdullah menginjak usia 72 tahun, di saat dirinya sedang menunaikan salat, ia wafat untuk menghadap sang Ilahi di dalam musala rumahnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020