Woman
·
2 Maret 2021 14:33

Mengentas Stereotip, Ini 5 Atlet Hijabers Paling Inspiratif

Konten ini diproduksi oleh Hijab Lifestyle
Mengentas Stereotip, Ini 5 Atlet Hijabers Paling Inspiratif (192100)
Zahra Lari, atlet seluncur indah dari Uni Emirat Arab. Foto: Instagram/@zahralari
Sebagai sesama Muslim, hati kita sangat bangga menyaksikan wanita Muslim di seluruh dunia bersaing dan unggul dalam olahraga yang mereka tekuni. Apalagi, ketika melihat mereka naik ke podium sembari mengibarkan bendera negaranya, rasa haru dan kebanggan semakin memuncak.
ADVERTISEMENT
Mereka layak menjadi inspirasi atas dedikasi bertahun-tahun melibatkan lumuran darah, keringat, air mata, dan mungkin beberapa mengalami perlakukan diskriminatif. Berdasarkan situs Have Halal with Travel, berikut lima atlet hijabers paling inspiratif yang berhasil mengentas stereotip.

Amaiya Zafar (Petinju Amerika Serikat)

"Melayang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah". Kata-kata terkenal dari Muhammad Ali yang legendaris ini mungkin paling tepat menggambarkan petinju wanita muda seperti Amaiya Zafar.
Pada November 2016, Amaiya didiskualifikasi pada pertandingan di mana para pejabat mengatakan dia melanggar kode seragam. Pakaiannya berupa jersey lengan panjang, legging di bawah celana pendek olahraga, dan hijab dianggap sebagai masalah keamanan.
Bingung tetapi tidak terpengaruh, gadis asal negara bagian Minnesota itu menang dalam perselisihan dengan USA Boxing dan membuat sejarah dengan menjadi petarung pertama yang mengenakan jilbab, lengan panjang, dan legging.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Zafar membuka pintu bagi Muslim lain di Amerika Serikat untuk bersaing dalam pertandingan dengan menerima pengecualian terkait pakaian atas dasar agama. Cita-citanya tampil di Olimpiade Musim Panas dengan membawa nama Negeri Paman Sam kebanggannya.

Ibtihaj Muhammad (Atlet anggar Amerika Serikat)

Ibtihaj membuat sejarah ketika menjadi wanita Muslim pertama yang memakai jilbab untuk mewakili Amerika Serikat di Olimpiade Musim Panas Rio de Janeiro pada 2016. Dia juga merupakan atlet wanita Muslim-Amerika pertama yang memenangkan medali Olimpiade ketika dia membawa pulang perunggu pada hajatan perlombaan olahraga terbesar di dunia tersebut.
Ibtihaj sering dianggap sebagai simbol bagi komunitas Muslim Amerika untuk berprestasi di kancah dunia mewakili negara adidaya. Selain itu, olahraga anggar dianggap sebagai olahraga kelas elit. Sehingga, prestasi Ibtihaj membuka mata orang Islam di Amerika Serikat untuk jangan takut mencoba hal yang terdengar mustahil sekalipun.
ADVERTISEMENT

Zahra Lari (Atlet seluncur indah UEA)

Selalu menakjubkan bagi penonton melihat atlet skater berputar dan menjaga keseimbangan di atas es yang sangat licin, begitu pula dengan penampilan Zahra Lari yang memukau. Olahraga yang identik dengan pakaian terbuka ini, tidak berlaku bagi seorang Lari yang seorang Muslim. Dia adalah wanita pertama yang mengikuti kompetisi seluncur indah internasional mengenakan hijab.
UEA telah menjadi negara Arab pertama yang bergabung dengan International Skating Union (ISU) berkat usaha berani Zahra. Selama berkompetisi di Piala Eropa 2012 di Canazei, Italia, Zahra adalah skater pertama yang berkompetisi sambil mengenakan hijab, meskipun juri menguranginya satu poin untuk pelanggaran pakaian.
Tak terima dengan peraturan yang bersifat diskriminatif, dia kemudian mengkampanyekan perubahan peraturan. Meskipun belum ada perubahan permanen, pakaian tertutup bagi muslim berhijab menjadi pengecualian pada cabang olahraga ini.
ADVERTISEMENT

Sara Ahmed (Atlet angkat besi Mesir)

Sara Ahmed adalah atlet angkat besi dari Mesir dan merupakan wanita Arab pertama yang memenangkan medali cabang angkat besi Olimpiade. Selain itu, ia juga menjadi wanita pertama peraih medali untuk Mesir dalam 104 tahun sejak negara itu mengikuti Olimpiade. Hebatnya, saat itu Sara baru saja menginjak usia 18 tahun.
Daftar penghargaan angkat besi Sara jelas tidaklah singkat. Dia mengikuti Pertandingan Afrika hingga Kejuaraan Dunia Junior di Nanjing pada tahun 2014 dengan memuncaki podium di kelas 63 kg. Sara berkompetisi mengenakan unitard lengan panjang dan hijab olahraga setelah revisi peraturan seragam oleh International Wightlifting Federation (IWF) pada tahun 2011 untuk memungkinkan wanita bersaing dengan pakaian yang lebih panjang.
ADVERTISEMENT
Tentunya perubahan peraturan yang ramah bagi umat Muslim wanita tersebut, menunjukkan bagaimana efek riak dari pencapaian seorang wanita untuk generasi berikutnya. Selain itu, pencapaian ini tentunya membesarkan hati kita semua terutama wanita Muslim untuk berprestasi sesuai bidang dan keinginan.

Dr. Hajar Abdulfazl (Pemain sepakbola Afghanistan)

Dr. Hajar Abdulfazl adalah di antara generasi pertama pemain sepak bola wanita sejak jatuhnya Taliban pada tahun 2001. Dia pernah menjadi anggota tim sepak bola nasional wanita di Afghanistan selama lebih dari satu dekade.
Hidup dalam masyarakat Afghanistan yang dikenal konservatif, norma budaya mendorong perempuan ke dalam peran tradisional sebagai seorang ibu rumah tangga alih-alih menjadi pemain sepakbola. Sementara itu, Dr. hajar biasa menyelinap ke luar rumah untuk bermain sepakbola kendati pamannya sangat menentang.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah wawancara, Dr. Hajar mengatakan dia ingin memberdayakan wanita melalui olahraga ke generasi selanjutnya. Sebagai seorang atlet, ia banyak bertanding di pertandingan yang bersifat lokal maupun internasional.
Dr. Hajar adalah mantan kepala komite wanita dan keuangan Federasi Sepak Bola Afghanistan. Selain itu, wanita yang sibuk mengampanyekan tentang kesetaraan gender ini juga melatih Timnas Sepakbola Wanita U-17 di negaranya.