kumparan
19 Feb 2019 12:32 WIB

Cap Go Meh Singkawang, Dari Ritual Tolak Bala Jadi Objek Wisata

Atraksi tatung dalam festival Cap Go Meh Singkawang, Selasa (19/2). Foto: Hi!Pontianak
Hi!Pontianak- Kehadiran para tatung pada perayaan Cap Go Meh selalu mengundang perhatian banyak orang. Begitulah yang terjadi di Singkawang, awal pekan ini.
ADVERTISEMENT
Ribuan wisatawan, domestik maupun mancanegara, berdatangan ke Singkawang, untuk menyaksikan aksi kebal para tatung, sejak Minggu (17/2) hingga Selasa (19/2).
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, memang berbeda dari daerah lainnya. Ada atraksi para tatung yang selalu menjadi daya tarik untuk disaksikan. Merekalah yang membuat para wisatawan berdatangan ke Singkawang.
Mereka lah yang membuat tingkat okupansi hotel-hotel di Singkawang mencapai 100 persen, walau harga kamar dua kali lipat lebih mahal dari harga normal.
Seorang tatung menunjukkan aksinya dalam festival Cap Go Meh di Singkawang Kalimantan Barat, Selasa (19/2). Tatung berasal dari dialek Kek etnis Tionghoa, yang terdiri dari dua suku kata, yakni Ta yang berarti pukul, dan Tung yang berarti sakit. Foto: Hi!Pontianak
Banyak versi yang menceritakan asal usul tatung. Tapi yang paling mendekati adalah Tatung berasal dari dialek Kek etnis Tionghoa, yang terdiri dari dua suku kata, yakni Ta yang berarti pukul, dan Tung yang berarti sakit.
ADVERTISEMENT
Ini merujuk pada metode penyembuhan yang dilakukan para tabib, atau yang biasa disebut loya. Saat menyembuhkan penyakit, mereka memukul-mukul bagian yang sakit dari pasiennya.
Setelah pasien tersebut sembuh, para loya ini pun mendapat pengakuan dari warga lainnya, yang tinggal di daerah itu.
Versi lain menyebutkan, ritual Cap Go Meh yang dilakukan oleh para tatung di Singkawang, berasal dari Kawasan Monterado. Di Kawasan itu, sejak abad ke 17, para pekerja dari tanah Tiongkok tinggal untuk menambang emas.
Selain unsur budaya Chinese, tatung juga memadukan budaya suku Dayak. Foto: Hi!Pontianak
Monterado sendiri berasal dari kata Mont dan Rado yang diartikan gunung emas. Tak ada data yang pasti mengenai jumlah para penambang emas yang tinggal di kawasan itu.
Meski tak lebih banyak dari komunitas penambang emas yang berada di Kawasan kongsi dagang Lau Te Fak, yang kini berada di Kabupaten Landak, namun jumlah komunitas Tionghoa di Monterado diperkirakan mencapai ribuan orang.
ADVERTISEMENT
Pada masa itu, wabah penyakit menyerang warga di kawasan itu. Para tabib kemudian melakukan pengobatan dengan metode tatung. Dan para warga yang terjangkit pun akhirnya sembuh.
Kemudian dilakukan lah acara arak-arakan para tatung dengan iringan suara tabu-tabuan yang nyaring. Masyarakat Tionghoa percaya, suara yang nyaring dapat mengusir roh jahat, yang menjadi penyebab merebaknya wabah penyakit tersebut.
Pada arak-arakan itulah, para tatung yang telah dirasuki roh, menunjukkan aksi kebal mereka. Kebanyakan yang merasuki para tatung adalah roh panglima perang.
Karena itu, mereka kerap tampil dengan baju kebesaran, layaknya jubah para panglima perang di negeri Tiongkok pada masa lalu.
Ada yang menujukkan jarum di pipi, ada yang menyayat lidah dengan pedang, ada yang duduk di atas tombak, dan berdiri di atas sebilah parang atau susunan paku. Atraksi ini menjadi simbol kekuatan para tatung.
ADVERTISEMENT
“Tak ada panggung yang lebih besar dari Cap Go Meh, untuk para tatung menampilkan dirinya, menunjukkan kemampuan yang ia miliki,” ungkap Frino Bariarcianur, seorang budayawan asal Singkawang.
Atraksi ini terus berkembang, dan tersiar hingga ke mancanegara. Karena itu, banyak wisatawan mancanegara, terutama dari China, yang datang ke Singkawang untuk menyaksikan atraksi para tatung, yang mereka sebut “di negara aslinya saja (China), ini (tatung) sudah tidak ada”.
Kebanyakan yang merasuki para tatung adalah roh panglima perang. Karena itu, mereka kerap tampil dengan baju kebesaran, layaknya jubah. Foto: Hi!Pontianak
Melihat potensi ini, Pemerintah Kota Singkawang mengagasnya, menjadi festival Cap Go Meh. Sejak Presiden Gus Dur mengizinkan warga Tionghoa menjalankan ritual keagamaan secara terbuka, dan Singkawang beralih status, dari kota administrasi, menjadi pemerintah kota, ritual Cap Go Meh, kemudian menjadi agenda pariwisata. Dan kemudian ditetapkan menjadi agenda pariwisata nasional.
ADVERTISEMENT
Nono Suprayitno, salah satu orang pertama di Singkawang yang membuat video dokumentasi para tatung pada perayaan Cap Go Meh, menyebutkan sejak sebelum dilakukan seremoni festival Cap Go Meh yang penuh dengan acara protokoler, arak-arak tatung sudah ada, dan sudah banyak pula wisatawan yang datang ke Singkawang.
“Orang-orang Singkawang yang berada di perantauan, baik yang di Jakarta ataupun di Taiwan, pulang kampung, untuk menyaksikan Cap Go Meh,” ujarnya.
Aksi yang ditunjukkan tatung sangat beragam, ada yang menujukkan jarum di pipi, ada yang menyayat lidah dengan pedang, ada yang duduk di atas tombak, dan berdiri di atas sebilah parang atau susunan paku. Foto: Hi!Pontianak
“Dulu, mereka tahu perayaan Cap Go Meh di Singkawang seperti ini, ya dari mulut ke mulut saja. Kemudian semakin ramai, sejak video dokumentasi Cap Go Meh tersebar ribuan keping, bahkan sampai ke Taiwan pada awal dekade 2000-an. Waktu itu, internet belum banyak yang pakai, tak seperti sekarang. Sejak zaman internet, media sosial semakin marak, teknologi semakin canggih, Cap Go meh di Singkawang semakin ramai lagi. Tapi entah sampai kapan, bisa ramai seperti ini, kalau yang wisatawan dapatkan hanya itu-itu saja. Kita tidak bisa mengatur ritual. Karena itu, harus ada kemasan berbeda dan unik setiap tahunnya, agar wisatawan mau datang kembali lagi ke Kota Singkawang di tahun berikutnya, untuk menyaksikan festival Cap Go Meh di Singkawang,” paparnya. (hp1)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan