kumparan
3 Desember 2019 12:36

Selama 2019, IAR Indonesia Selamatkan 9 Orang Utan di Kalbar

WhatsApp Image 2019-12-03 at 09.40.45.jpeg
Seekor orang utan yang berada di atas pohon. Foto: Dok. IAR Indonesia
Hi!Pontianak - Kebakaran hutan besar-besaran yang menghancurkan hutan di Indonesia pada 2015 mengakibatkan banyak orang utan mati dan sebagian besar lainnya kehilangan habitatnya. Kondisi tersebut mendorong spesies ini menuju jurang kepunahan dan memperburuk konflik dengan manusia.
ADVERTISEMENT
Orang utan yang terdesak keluar dari habitatnya yang hancur hingga memasuki kebun-kebun warga, dimana biasanya mereka akan terluka atau bahkan mati karena diserang manusia. Kebakaran tahun ini juga menghancurkan populasi orang utan di Kalimantan.
Sejak kebakaran yang terjadi Juli hingga saat ini, IAR Indonesia telah menyelamatkan 9 orang utan dari kawasan hutan yang terbakar di Kalimatan Barat.
“Pada 2015 kami menyelamatkan 44 orang utan dari habitatnya yang hancur dalam beberapa bulan bahkan setelah kebakarannya mereda. Semakin lama waktu yang kita ambil untuk menyelamatkan orang utan yang kehilangan habitatnya, kondisi mereka akan semakin kritis,” ujar Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia, Selasa (3/12).
WhatsApp Image 2019-12-03 at 09.40.47 (1).jpeg
Orang utan yang dievakuasi oleh IAR Indonesia dan BKSDA Kalimantan Barat, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang. Foto: Dok. IAR Indonesia
Perubahan iklim yang dialami hampir seluruh permukaan bumi, telah menjadikan kondisi cuaca tak lagi bisa diprediksi. Bahkan menjadi salah satu faktor utama dari peristiwa karhutla yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan tahun ini.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), karhutla di Indonesia adalah yang terburuk sejak 2015, menghasilkan tidak kurang dari 708 juta ton karbon dioksida ekuivalen di atmosfer. Sebagian besar merupakan hasil dari kebakaran gambut.
Angka ini hampir 2 kali lipat emisi karbon yang dihasilkan dari kebakaran hutan Amazon. Ancaman perubahan iklim telah di ambang pintu.
Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang disebabkan oleh faktor cuaca. Tidak bisa dipungkiri, cuaca ekstrem ini merupakan salah satu dampak perubahan iklim.
WhatsApp Image 2019-12-03 at 09.40.45 (1).jpeg
Kondisi seekor orang utan yang sangat memprihatinkan. Foto: Dok. IAR Indonesia
World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019 juga menyatakan, perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati dan runtuhnya ekosistem.
ADVERTISEMENT
Pada minggu ini, dari 2-13 Desember 2019, isu perubahan iklim menjadi isu penting dan serius yang akan dibahas dalam United Nation Climate Change Conference (UNCCC) berlangsung di Madrid, Spanyol. Pertemuan yang disebut juga COP25, ini merupakan pertemuan lanjutan para pihak yang hadir pada konvensi PBB tentang perubahan iklim untuk memastikan hasil kesepatakan konvensi tersebut dilaksanakan.
“Kita memerlukan kemauan dan komitmen yang kuat dari semua negara untuk memerangi perubahan iklim. Kebakaran hutan merupakan penghasil rumah kaca terbesar di dunia. Bila kita tidak melindungi hutan yang tersisa, kita tidak hanya akan menderita akibat perubahan iklim, tetapi juga akan menyaksikan keanekaragaman hayati dari Kalimantan, termasuk orang utan akan musnah,” tutur Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.
WhatsApp Image 2019-12-03 at 09.40.49.jpeg
Seekor orang utan di Kalbar yang dilepas ke hutan. Foto: Dok. IAR Indonesia
WhatsApp Image 2019-12-03 at 09.40.46 (1).jpeg
Seekor orang utan yang dievakuasi dalam kondisi memprihatinkan. Foto: Dok. IAR Indonesia
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan