kumparan
search-gray
News24 Februari 2020 16:23

Kisah Kwee Hoe Toan, Kapitan Tionghoa yang Jadi Nama Kelurahan di Pontianak

Konten Redaksi Hi Pontianak
WhatsApp Image 2020-02-23 at 16.24.48 (1).jpeg
Syafaruddin Usman berfoto di kawasan makam Mayor Kwee Hoe Toan. Foto: Dok Syafaruddin Usman
Hi!Pontianak - Tak banyak yang tahu, nama kawasan Parit Mayor, di Pontianak Timur, Kalimantan Barat, diambil dari nama seorang Tionghoa, Mayor Kwee Hoe Toan. Di kawasan itu, kini jenazah Mayor Kwee Hoe Toan dimakamkan.
ADVERTISEMENT
Kepada Hi!Pontianak, pemerhati sejarah asal Pontianak, Syafaruddin Usman, menceritakan pada abad ke-19, para opsir Tionghoa ditunjuk untuk bekerja sebagai perantara antara pemerintah Hindia Timur Belanda dengan minoritas Tionghoa di wilayah Pontianak, seperti halnya juga di daerah Jawa.
Pada masa itu, tiga orang kapitan Tionghoa untuk Pontianak dimasukkan dalam daftar pejabat, yakni Hong Tjin Nie (kapitan besar atau kapthai), Lim Nie Po (kapitan tommonggong atau temenggung dalam pengertian jabatan Melayu), dan Kwee Hoe Toan (kapitan salewatan atau salawatang). "Mengapa diberi nama demikian, maknanya belum diketahui," kata Din, panggilan akrab Syafaruddin Usman.
WhatsApp Image 2020-02-23 at 16.24.48 (2).jpeg
Makam salah seorang Kapitan Tionghoa, Mayor Kwee Hoe Toan. Foto: Dok Syafaruddin Usman
Meskipun gelar mereka tidak dijelaskan, diketahui bahwa masing-masing dari mereka bertanggung jawab atas tiga komunitas besar Tionghoa di Pontianak, yaitu Tiochiu, Hakka, dan Hokkien.
ADVERTISEMENT
Hong Tjin Nie, sang Kapthai, berasal dari komunitas yang terbesar, yaitu Tiochiu. Sementara, seorang termasuk sebagai opsir sukses di zaman itu adalah Kwee Hoe Toan.
Pria Tionghoa dari suku Hokkien ini, pada 1838, telah berpangkat sebagai Kapitan. Ia naik menjadi Kapitan Besar pada 1845, dan akhirnya dipromosikan menjadi Mayor pada 1859.
Meski komunitas Hokkien adalah kelompok terkecil dari tiga kelompok besar Tionghoa di Pontianak, Toan diangkat sebagai perwakilan dari semua kelompok. Hal ini mungkin disebabkan, karena ia dinilai lebih cocok dengan para pejabat kolonial, yang telah terbiasa dengan orang Hokkien di tanah Jawa.
Toan jugalah yang memberi saran-saran pada pemerintah selama melakukan perundingan dengan Thaikong. Dia merupakan salah seorang Tionghoa terkaya di Borneo. "Pada konferensi orang Tionghoa di Pontianak, 1852-53, Kwee Hoe Toan dan Kapitan Lay A Tjhok (atau A Tjhioh) adalah pengamat saat terjadi negosiasi dengan para perwakilan kongsi pada Desember 1852 dan Januari 1853," terang Din.
ADVERTISEMENT
Belanda menganggap Toan yang lahir dan besar di tanah Borneo ini, dapat dipercaya dan diandalkan. Dia merupakan orang terpelajar. Dia bisa membaca, menulis dan berbicara berbagai bahasa Tionghoa yang berbeda.
Namun, Overste Le Bron de Vaxela, yang memimpin perang melawan Monterado, menahan Toan pada 1851 dan memenjarakannya selama dua bulan, karena dia telah mengirimkan candu ke Sungai Pinyuh dan Mempawah. Penangkapannya tidak berdasarkan hukum, sebab Toan sebagai pachter candu, melakukannya secara sah.
Namun meski telah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah dan kehilangan banyak harta selama ditangkap, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai Mayor hingga 1862.
Tahun berikutnya, putra Toan yang bernama Kwee Kom Beng, muncul dalam catatan menjadi kapitan, dan berkantor, sampai diberhentikan pada 1880.
ADVERTISEMENT
Kwee muda ini, berulang kali disebut lebih Melayu daripada Tionghoa. Sesuatu yang tidak merupakan kualifikasi untuk menjadi opsir Tionghoa. Kom Beng juga disebut sangat dekat dengan Istana Pontianak.
Keluarga Kwee akhirnya mengalami kejatuhan pada masa-masa sulit. Kwee Hoe Toan dan seorang kapitan Hakka, Then Sioe Lin, terlilit hutang pada pemerintah kolonial Belanda sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam pacht candu pada 1850-an, suatu dekade ketika perdagangan madat hancur lebur akibat penyelundupan, dan kemerosotan dalam penambangan emas.
Nasib keluarga ini semakin terpuruk pada 1880, ketika Kwee Kom Beng diberhentikan dari jabatannya.
Situasi keuangan Lioe A Sin, sang kapthai Lanfang, juga mengalami kemunduran karena berspekulasi dalam pacht candu.
Kesempatan bagi orang Tionghoa untuk meraup peruntungan besar dan mungkin pengaruh dari perdagangan candu nampaknya semakin berkurang karena monopoli tersebut mengalami kemunduran pada paruh kedua abad ke 19.
ADVERTISEMENT
"Mengenang masa keemasannya, Kwee Hoe Toan kini meninggalkan jejak silam dan dikenang keberadaannya dengan Kampung Parit Mayor, tempat di mana sang mayor ini dipusarakan di sana," pungkas Syafaruddin.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white