kumparan
14 Sep 2019 11:11 WIB

Melihat Festival Kue Bulan di Pontianak, Kalbar

Koko dan Meimei membagikan kue bulan kepada pengguna jalan di Pontianak, Kalbar. Foto: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak
Hi!Pontianak - Perayaan kue bulan atau Mooncake Festival, menjadi salah satu tradisi wajib masyarakat Tionghoa. Di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, misalnya ratusan kue bulan dibagikan oleh Koko Meimei kepada masyarakat dalam perayaan kue bulan.
ADVERTISEMENT
Pembagian kue bulan kepada masyarakat dan pengguna jalan bertujuan agar masayrakat ikut merasakan Mooncake Festival. Sehingga, perayaan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat etnis Tionghoa saja, melainkan bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Kue bulan itu dibagi dilakukan di sejumlah titik di Kota Pontianak, diantaranya Jalan Gajahmada, Jalan Siam, Jalan Setia Budi dan kawasan waterfront, pada Jumat (13/09) malam.
Festival kue bulan yang dilaksanakan di Kota Pontianak, Kalbar. Foto: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak
Salah satu Koko perwakilan Pontianak, Kalfin Pratama mengungkapkan, kue bulan yang dibagikan kepada masyarakat tidak hanya sebatas kue biasa. Tapi, memiliki makna yang begitu berarti.
Ukuran kue yang bulat, melambangkan keutuhan. Sedangkan, rasa kue yang manis melambangkan harapan agar kehidupan selalu harmonis, utuh dan berkah.
"Untuk mooncake ini setiap tahunnya pasti Koko Meimei selalu berbagi kue bulan. Kita juga ingin memperkenalkan apa itu kue bulan, karena banyak masyarakat Tionghoa, khususnya untuk generasi muda sudah mulai lupa dengan hari kue bulan," ujar Kalfin kepada Hi!Pontianak, Sabtu (14/9).
ADVERTISEMENT
"Jadi kami sebagai Koko Meimei ingin menyebarlusakan bahwa kue bulan itu ada. Tradisi Tionghoa perlu untuk dilestarikan" timpalnya.
Mooncake Festival dirayakan setiap hari ke 15, bulan 8 dalam kalender Tionghoa. Biasanya, perayaan tersebut jatuh pada minggu kedua September hingga minggu kedua Oktober.
Koko dan Meimei turun ke jalan membagikan kue bulan dalam Mooncake Festival di sejumlah titik di Kota Pontianak, Kalbar. Foto: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak
Kalfin mengungkapkan berdasarkan lengenda Mooncake Festival, berawal dari kisah cinta antara seorang dewi yang cantik dan pandai bernama Chang'e dan suaminya, seorang pemanah bernama Hou Yi. Hou Yi mendapatkan ramuan keabadian yang disimpan leh istrinya, Chang'e.
Namun, seseorang memaksa Chang'e untuk menyerahkan botol (ramuan keabadian) tersebut. Chang'e yang menjaga amanat suaminya itu langsung menenggak ramuan tersebut dan terbang menuju kayangan.
Kue bulan dibagikan kepada masyarakat, agar perayaan ini tidak hanya dirasakan oleh etnis Tionghoa saja, melainkan bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat. Foto: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak
Dia memilih bulan sebagai tempat tinggalnya, sembari menanti harap bisa hidup bersama suaminya. Mengetahui kejadian itu, Hou Yi bersedih. Perempuan yang dicintainya telah meninggalkannya menuju kayangan. Tetangga mereka pun bersimpati dengan kejadian tersebut dan mengenangnya dengan makan kue bulan bersama.
ADVERTISEMENT
"Jadilah setiap tanggal 15, bulan 8 selalu diperingati sebagai festival kue bulan yang dipercaya bahwa si perempuan yang sangat mencintai pemuda tersebut akan hadir pada tanggal tersebut" ungkap Kalfin. (hp6)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·