Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mencicipi Cita Rasa Kopi Robusta di Warkop Winny Pontianak

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang barista menyiapkan kopi untuk pelanggan. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Seorang barista menyiapkan kopi untuk pelanggan. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Berdiri sejak tahun 2001, toko toserba sederhana itu disulap menjadi sepetak warung kopi. Namanya, Warkop Winny. Usaha tersebut dirintis berawal dari kegemaran sang pemilik yang suka minum kopi.

Pemilik Warkop Winny, Heri Wonoto menceritakan kisahnya membangun warkop hingga proses penggilingan kopi sendiri. Hingga kemudian, usahanya berkembang menjadi home industri.

"Dulu ini cuma toko toserba biasa, karena pusat perbelanjaan, supermarket atau mall sudah dibangun di mana-mana saya harus mengubah usaha saya. Tahun 2001 akhirnya saya mencoba untuk membuka warung kopi, hanya sepetak itu di depan saja, karena saya hobi minum kopi," kata Heri kepada Hi!Pontianak, Kamis (24/10).

Kopi yang disiapkan untuk pelanggan di Warkop Winny Pontianak. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Dari dulu Heri memang gemar minum kopi, hingga akhirnya ia mengulik kopi sendiri dan merintis warung kopi. "Saya belajar dari buku, dari internet, saya dulu juga sekolah kopi, sekolah roasting," ungkapnya.

Heri mengatakan, kopi robusta yang digunakan untuk usahanya berasal dari Jawa Timur. Sebelumnya, beberapa kopi robusta pernah dia dalami, hanya saja rasanya tidak konsisten dan berubah-ubah hingga akhirnya Heri memutuskan mengolah kopi sendiri.

"Awalnya normal rasanya, lama-lama kenapa jadi berubah. Akhirnya saya proses sendiri, mulai dari green beannya saya pilih, proses sangrai semuanya saya lalukan untuk mendapatkan kejernihan kopi yang enak. Adalah home industri kecil-kecilan di belakang," tuturnya.

Heri Wonoto menunjukan kemasan bubuk kopi Winny. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Heri sempat penasaran dengan cita rasa kopi yang berubah-ubah. Setelah didalami ternyata perubahan cita rasa kopi itu dipengaruhi pengemasan yang menggunakan plastik transparan biasa. "Ternyata itu karena dibungkus dengan plastik putih, transaparan itu. Ternyata itu berpengaruh," ucapnya.

Pengolahan kopi dilakukan sendiri oleh Heri selama 2 tahun belakangan. Ia pun berinisiatif menjual bubuk kopi Winny dalam kemasan yang menggunakan bungkus premium.

"Untuk penikmati kopi di Kota Pontianak yang berada di luar Pontianak, saya juga menyediakan kopi bubuk Winny dalam bentuk kemasan. Setengah kilogram Rp 52 ribu dan 200 kilogram Rp 22 ribu, itu saya kemas dengan kemasan yang premium atau tertutup rapat agar cita rasanya konsisten dan tidak rusak. Saya baru jual di warkop, online belum," paparnya.

Bubuk kopi Winny yang diproduksi juga dijual dalam kemasan. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Bahkan, Heri juga berencana untuk menanam kopi sendiri, agar cita rasa kopi yang diinginkannya tercapai. "Saya masih cari lahan yang bagus, rencananya saya mau menanam biji kopi arabika. Jadi sekarang juga lagi cari pangsa pasar baru, kalau arabika dijual di warkop memang agak susah karena harganya lebih mahal," bebernya.

Ternyata di Warkop Winny juga menyediakan kopi jenis arabika. Heri mengatakan, biji kopi arabika disediakan untuk pemesanan tertentu. "Sebenarnya di sini juga ada jual arabika, kalau ada yang mau saya bisa bikinkan. Saya ada stocknya, biasanya tergantung tamunya lagi. Kalau mau jual blending bisa, campuran robusta dan arabika, Pontianak itu persaingan ketat di harga. Agak mahal sedikit ngeluh," ujar Heri.

Heri mengungkapkan, dalam sehari Warkop Winny bisa menghabiskan sebanyak 10-20 kilogram bubuk kopi. Ia mengatakan pengunjung warung kopi meningkat drastis dari 5 tahun terakhir. "Mulai 5 tahun terakhir, pengunjung saya banyak perempuan. Dulu hanya orang tua saja, karena mungkin stigmanya sudah berubah. Namun persaingan juga semakin ketat, jadi kita selalu menjaga konsistensi rasa dari kopi yang kita sajikan," pungkas Heri.