News
·
14 November 2019 8:56

Pasca Karhutla, Orang Utan "Berat" Akhirnya Ditranslokasi

Konten ini diproduksi oleh Hi Pontianak
Pasca Karhutla, Orang Utan "Berat" Akhirnya Ditranslokasi (196869)
Berat beraktivitas di habitat barunya. Foto: Dok IAR Indonesia
Hi!Pontianak - Orang utan jantan berbobot lebih dari 80 kilogram, dievakuasi oleh tim (OPU) dari IAR Indonesia yang menerima laporan dari warga tentang keberadaan orang utan yang masuk ke lahan konsesi sawit di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat.
ADVERTISEMENT
"Menindaklanjuti laporan ini, tim OPU IAR Indonesia segera menuju lokasi dan menemukan keberadaan orang utan ini, yang beraktivitas di tanah, karena tidak ada lagi pohon tinggi. Kondisi hutan di sekitar kebun sawit itu sudah terbakar, dan tidak ada lagi tempat hidup yang layak bagi orang utan ini, sehingga ia memasuki lahan kebun dan memakan umbut-umbut sawit untuk bertahan hidup," kata Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia, dalam keterangan resmi yang diterima Hi!Pontianak, Kamis (14/11).
Melihat kondisi di lokasi yang tak memungkinkan orang utan ini bisa melanjutkan hidup, tim OPU memutuskan untuk melakukan translokasi orang utan ini, ke hutan yang lebih baik, dan kemudian diberi nama "Berat". Kegiatan penyelamatan ini dilakukan bersama BKSDA Kalbar pada Minggu (10/4).
ADVERTISEMENT
Pasca Karhutla, Orang Utan "Berat" Akhirnya Ditranslokasi (196870)
Proses trasnlokasi Berat. Foto: Dok IAR Indonesia
Setelah menjalani proses pemeriksaan medis oleh tim dokter IAR Indonesia, Berat yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun, kemudian ditranslokasi ke hutan Sentap Kancang, yang dinilai lebih sesuai sebagai habitat lamanya, karena hutan tersebut masih menyediakan pepohonan dan tanaman yang cukup sebagai pakannya.
Selain itu, kepadatan populasi orang utan di hutan ini belum terlalu tinggi, sehingga ia masih memiliki ruang hidup yang sesuai bagi karakter orang utan, sebagai satwa yang soliter.
"Berat adalah korban kebakaran 2019, yang ke 7, hanya di areal sekitar Ketapang saja. Ancaman kebakaran (hutan) sudah menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan orang utan dan juga menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong efek rumah kaca dan perubahan iklim," bebernya.
ADVERTISEMENT
Karmele menambahkan, pemulihan kondisi hutan pasca kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalbar ini tentunya sangat memerlukan kerja sama bersama semua pihak.
"Penyelamatan dan translokasi Berat ini memperlihatkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan sejak pertengahan tahun ini, memerlukan kerja sama semua pihak dalam memulihkan kembali kondisi hutan," ujarnya.
Karmele juga mengapresiasi kesadaran warga yang semakin meningkat, terhadap penyelamatan satwa, serta turut mendukung pekerjaan-pekerjaan petugas penyelamat satwa di lapangan, dengan cara segera melaporkan keberadaan satwa dilindungi yang kehilangan hutan sebagai rumah hidupnya.