kumparan
KONTEN PUBLISHER
12 Februari 2020 15:06

Penderita Anemia Aplastik di Pontianak Butuh Uluran Tangan

WhatsApp Image 2020-02-12 at 13.32.26.jpeg
Tia saat sakit dan sebelum sakit. Foto: Dok Hi!Pontianak
Hi!Pontianak - Seorang wanita di Pontianak, Kornelia Tia, mengidap penyakit anemia aplastik dan TBC. Penyakit langka yang dideritanya itu membuat Tia hingga saat ini sulit untuk beraktivitas.
ADVERTISEMENT
Dian Lestari, kakaknya, menjelaskan, penyakit anemia aplastik ini adalah rusaknya sel darah induk pada manusia yang memproduksi 3 sel darah, yakni sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.
"Jadi anemia aplastik itu menyerang sel induk darahnya, sehingga menyebabkan adik saya tidak bisa memproduksi sel darah lagi. Selama ini saat pengobatan kita membutuhkan transfusi darah terutama trombosit," jelasnya, Rabu (12/2).
Ia menceritakan, pertama kali penyakit itu menyerang Tia pada Januari 2020. Tia pertama kali merasakan kondisi tubuhnya yang menurun. Ia juga mengalami batuk-batuk. Keluarganya mengira, Tia mengalami gejala Demam Berdarah Dengue (DBD), namun setelah diperiksa di Rumah Sakit Mitra Media Pontianak, pihak rumah sakit menduga bahwa Tia mengalami anemia aplastik.
ADVERTISEMENT
"Di rumah sakit Mitra Medika menyatakan bahwa Tia itu kemungkinan mengidap penyakit anemia aplastik. Akhirnya kita bawa Tia ke Kuching, untuk memastikan kembali penyakit yang diderita Tia," ucapnya.
Tia akhirnya melakukan medical check up ulang di rumah sakit di Kuching. Wanita berusia 20 tahun ini didiagnosa dokter spesialis darah untuk melakukan biopsi, pengambilan sum-sum tulang induknya sebagai sampel uji, untuk memastikan apakah Tia mengidap penyakit anemia aplastik atau penyakit lainnya.
"Setelah 3 hari, kami mendapatkan hasil, ternyata Tia positif mengidap penyakit anemia aplastik, rusaknya sel darah induk yang menyebabkan tubuh manusia tidak bisa memproduksi darah lagi," paparnya.
Ia dianjurkan oleh dokter untuk melakukan transplasi sum-sum tulang belakang yang harus dilakukan oleh keluarga kandungnya atau yang se-DNA dengannya.
ADVERTISEMENT
"Di Kuching itu belum bisa melakukan tindakan transplasi tulang, harus dirujuk ke rumah sakit di Kuala Lumpur. Dananya juga sudah dipaparkan, itu sekitar Rp 350-600 juta," terangnya.
Sementara itu, alternatif lain untuk kesembuhan Tia adalah harus mengkonsumsi obat-obat medis. Namun hal tersebut berisiko tinggi dan akan memicu penyakit lainnya. "Alternatif lain itu Tia harus konsumsi obat selama 2 tahun, tapi itu sangat berisiko. Sedangkan untuk transplasi sum-sum ini memakan waktu 2 bulan saja, dan itu juga memiliki risiko. Risiko terburuknya adalah gagalnya transplasi," paparnya.
Dengan kondisi tersebut, ia segenap keluarga berharap kepada para donatur untuk dapat membantu kesembuhan Tia. "Kami sekeluarga berharap sekali adanya kebaikan para donatur khususnya dalam segi bantuan dana atau pun operasional, itulah yang kami harapkan, dan kami akan berterima kasih sekali kepada donatur yang membantu," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Hingga saat ini, pihak keluarga juga sedang mengurus administrasi penggunaan BPJS, dan sedang mencari informasi terkait rumah sakit yang dapat melakukan transplasi sum-sum tulang belakang di Indonesia.
"Untuk penggunaan BPJS kita baru mulai, di sini sudah tahap awal administrasi, kebetulan Tia menggunakan BPJS kelas 3. Itu sedang kami kerjakan dari awal lagi, mungkin ada info terkait BPJS dengan tindakan yang lebih cepat, kami sangat membutuhkan informasi itu, dan kami membutuhkan sekali info rumah sakit di Indonesia yang dapat melakukan transplasi sum-sum tulang belakang ini, sekarang kami sedang menggali informasi sebanyak-banyaknya," jelasnya.
Dian mengatakan, kondisi Tia saat ini sedang terbaring lemah di rumahnya, beberapa di bagian tubuhnya juga mengalami memar-memar biru akibat penyakit yang dideritanya.
ADVERTISEMENT
Bagi yang ingin berdonasi, donatur dapat mengunjungi link donasi dari Kitabisa.com atas nama Kornelia Tia di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan