Petani Sawit di Kalbar Demo Desak Pemerintah Turunkan Pungutan Ekspor CPO

Konten Media Partner
15 Juli 2022 22:39
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Gubernur Sutarmidji (duduk di tangga) menemui ratusan petani sawit yang demo di Kantor Gubernur Kalbar. Foto: Dok. Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Sutarmidji (duduk di tangga) menemui ratusan petani sawit yang demo di Kantor Gubernur Kalbar. Foto: Dok. Hi!Pontianak
ADVERTISEMENT
Hi!Pontianak - Ratusan petani yang tergabung dalam Front Pejuang Masyarakat Sawit (FPMS) mendesak pemerintah untuk menaikkan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dan menurunkan pungutan ekspor CPO.
ADVERTISEMENT
Ratusan petani sawit di Kalbar ini menyampaikan aspirasinya dengan menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalbar, pada Jumat, 15 Juli 2022.
Menurut Ketua Front Perjuangan Masyarakat Sawit Nusantara, Agus Setiadi, tarif pungutan ekspor CPO yang ditetapkan pemerintah dinilai sangat tinggi sehingga berdampak pada anjloknya harga TBS.
"Kami berharap pemerintah bisa menurunkan pajak CPO yang sangat berpengaruh terhadap anjloknya harga TBS. Dengan demikian petani Indonesia bisa kompetitif dengan Malaysia," ujar Agus.
Sebagai satu di antara produsen CPO terbesar di dunia, Agus mengatakan, sebuah hal yang ironis terjadi hal rendahnya harga TBS di Indonesia. Harusnya, sebagai produsen besar Indonesia mampu menjadi pengontrol harga, bukan sebaliknya, yakni dikontrol.
"Kami meminta juga bila ada perusahaan yang nakal ditindak. Jangan hanya masyarakat mengadu masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, ini harus ada tindakan tegas. Bagaimana caranya pemerintah itu yang memiliki regulasi, dan harus bisa mengendalikan hal itu, kan miris pemerintah tidak berdaya menghadapi perusahaan," paparnya.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Gubernur Sutarmidji menemui petani sawit yang berdemo di Kantor Gubernur Kalbar. Foto: Dok. Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Sutarmidji menemui petani sawit yang berdemo di Kantor Gubernur Kalbar. Foto: Dok. Hi!Pontianak
Sementara itu, Herno, Petani Sawit Asal Desa Sebangki, Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak, mengeluhkan harga TBS sawit yang turun. Sebab, kondisi itu membuat ekonomi keluarganya juga ikut menurun.
"Coba hitung saja, biaya panen itu sudah 200 rupiah per kilonya. Itu belum dihitung angkutannya lagi sampai ke pabrik dan belum masuk biaya perawatannya lagi," ucapnya.
Sebelum harga TBS ini anjlok, saat masih pada harga TBS Rp 3.000 per kilogram, Herno mengatakan, dalam satu kali panen dirinya bisa menghasilkan Rp 9 juta dari beberapa hektare kebun sawitnya.
"Saat ini karena harga TBS berkisar di angka Rp 700 hingga Rp 900 per kilo, dalam sebulan hanya bisa mendapat hasil sekitar Rp 2 juta. Itu pun belum dipotong ongkos panen tadi, sebesar Rp 200 per kilo," keluhnya.
ADVERTISEMENT
Usai melakukan dialog dengan Gubernur Kalbar yang langsung menerima para kehadiran para petani, massa juga meminta komitmen Gubernur untuk membantu mengaspirasikan tuntutan mereka.
"Jika satu bulan ke depan tidak ada perubahan, harga TBS masih tetap rendah dan pemerintah tidak mempertimbangkan tingginya nilai pungutan pajak ekspor CPO hingga berpengaruh terhadap harga TBS, kami akan mendatangi kembali kantor Gubernur Kalbar dengan jumlah massa yang lebih besar lagi," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020