Pencarian populer

Ribuan Jamaah Calon Haji Antre Rekam Biometrik

Proses perekaman biometrik di Kantor Wilayah Kemenag Kalimantan Barat. Foto: Teri Bulat

Hi!Pontianak - Perekaman biometrik bagi jamaah calon haji asal Indonesia kini sudah bisa dilakukan di masing-masing provinsi. Proses pengidentifikasi karakter fisiologi bentuk tubuh ini, sudah dilakukan sejak 28 Maret 2019, hingga 23 April 2019.

Proses ini untuk memudahkan para jamaah haji ataupun umroh, untuk masuk ke Arab Saudi. Nantinya, jamaah calon haji tidak perlu lagi diperiksa sidik jari, bentuk wajah dan iris mata di pintu imigrasi Arab Saudi, karena proses tersebut telah dilakukan di Tanah Air.

Pantauan tim Hi!Pontianak, Selasa (23/4), puluhan jamaah calon haji 2019 asal Kalimantan Barat, mengantre untuk proses ini, di Aula 2 Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Barat.

"Dari pihak Arab Saudi, mulai tahun 2019 biometrik diberlakukan di Tanah Air. Sebetulnya mau mobile (ke setiap kabupaten/kota), tapi karena alatnya tidak lengkap, jadi kita fokus di provinsi masing-masing," ungkap Huznul Azmi, Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah Kemeneterian Agama Kalimantan Barat.

Perekaman tersebut dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.00, dengan jumlah jamaah sekitar 100 orang perhari. Bahkan di akhir pekan, jumlah antrean bisa mencapai 200 orang.

Kemenag Kalbar menyediakan tikar, untuk jamaah calon haji berbaring saat mengantre perekaman biometrik. Foto: Teri Bulat

Keterbatasan peralatan, membuat antrean membludak, hingga beberapa jamaah beristirahat sambil berbaring di tikar yang sudah disediakan oleh panitia. "Mereka istriahat di belakang. Kan kasihan, ada yang dari jauh. Turun dari rumah jam 2 subuh, sampai sini jam 6 pagi. Jadi kasihan, kita di sini sediakan tempat untuk istirahat," kata Azmi.

Proses perekaman biometrik ini berlangsung dari Senin hingga Sabtu. Total jamaah calon haji yang harus diperiksakan mencapai 2.527 orang. Perekaman biometrik tersebut dimulai dari perekaman 10 sidik jari, perekaman iris atau retina mata dan perekaman wajah.

"Untuk jamaah yang usianya 80 tahun ke atas, kita prioritaskan untuk tidak biometrik. Selain itu, jamaah yang tidak punya 10 jari, dan jamaah yang kornea matanya tidak nampak, akan kita buatkan surat keterangan," ungkap Azmi.

Proses perekaman biometrik melayani 100-200 jamaah setiap hari. Foto: Teri Bulat

Selain itu, yang membuat jamaah menunggu cukup lama, dikarenakan jaringan dari pusat sering kali mengalami gangguan. Sehingga menyebabkan proses yang lama untuk pemeriksaan dan berkas. "Pernah waktu itu jamaah dari Sekadau, itu gangguan servernya sampai 3 jam, kita tunggu," ungkap Azmi.

Azmi menjelaskan, adanya perekaman biometrik di masing-masing provinsi ini, memudahkan jamaah untuk tidak melakukan pemeriksaan kembali di lokasi pemberangkatan. "Perekaman biometrik tersebut merupakan salah satu syarat dalam pengurusan visa. Kalau sebelumnya kita pembuatan visa dulu, baru perekaman biometrik, di Batam atau di Arab Saudi. Jadi sekarang ini kita perekaman biometrik dulu, baru bisa bikin visa," kata Azmi.

"Menurut saya adanya perekaman biometrics di setiap provinsi ini, kasihan jamaahnya. Karena seperti jamaah dari Kapuas hulu, Sintang, itukan jauh harus ke sini. Harus mengeluarkan biaya lagi untuk transportasi dan tenaga yang cukup ekstra. Seandainya pemeriksaan ini mobile dilakukan (ke setiap kabupaten/kota), menurut saya itu akan lebih meringankan jamaah," ungkap Azmi. (hp8)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23