News
·
31 Juli 2021 11:28
·
waktu baca 4 menit

Jangan Mati sebelum Menjadi Penulis (Bagian 1)

Konten ini diproduksi oleh Nur Azizah
Jangan Mati sebelum Menjadi Penulis (Bagian 1) (623182)
searchPerbesar
Michelle, Barack Obama dan Imam Ali Mustafa. Foto: Reuters/Adek Berr
Bagaimana serem gak kalimat di atas? Kalimat tersebut diucapkan oleh almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.,Alhamdulillah, meskipun "kalong" saya pernah menjadi santrinya. Wala tamutunna illa wa antum katibun, begitu kata Kiai Ali suatu waktu saat mengajar, yang artinya janganlah kamu mati sebelum menjadi penulis. Kalimat ini menjadi begitu sakti, karena buat saya pribadi, kalimat ini menjadi pecut untuk terus menulis, menulis yang berisi, yang bisa menjadi bekal kelak ketika “pulang”.
ADVERTISEMENT
Kalimat itu, menurut mantan Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut mengartikan bahwa dengan tulisan ilmu akan lebih abadi, lebih banyak menjangkau dan lebih mudah dijangkau. Dan meskipun penulisnya sudah mati, ilmu itu akan tetap bisa tertebar, akan tetap bisa bermanfaat, dan pahala jariah akan tetap mengalir ke penulisnya.

Menulislah untuk Ibadah

Menulis bagi sebagian orang adalah proses penyembuhan. Banyak orang yang memiliki masalah dengan masa lalunya (trauma), mengambil proses penyembuhan dengan menulis. Banyak juga orang yang ketika marah, benci, kecewa, senang, mengambil langkah menulis untuk berdamai dengan dirinya. Menulis itu hobi. Menulis itu tugas. Menulis itu kebutuhan.
Namun, bagi muslim di mana tujuan hidupnya ibadah, maka menulis itu adalah ibadah. Ibadah melalui menulis itu penting. Bahkan ini dijadikan syarat “pulang” oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA(Allahu yarham). Beliau yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut mengatakan bahwa “jangan mati sebelum menjadi penulis, jangan mati sebelum punya karya”.
ADVERTISEMENT
Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, pemilik Pondok Pesantren Darussunnah International Institute for Hadits Sciences sudah melahirkan setidaknya 45 judul buku salah satunya yaitu Haji Pengabdi Setan. Meskipun Beliau kini sudah tidak ada di dunia, karya-karya Beliau tetap menjadi ladang pahala yang mengalir tak henti.
Dalam salah satu wawancaranya dengan Koran Republika, tahun 2016 silam, Kiai Ali mengatakan bahwa Ia memiliki motivasi kuat agar dakwahnya bisa terus dimanfaatkan orang sepanjang zaman. Beliau menyitir syair yang mengatakan, “Yang kalian tulis akan kekal sepanjang masa, sedangkan penulisnya akan hancur dikandung tanah”. Ternyata di balik pesan Beliau, tersimpan syarat “pulang” yang sangat elegan, dan Beliau sudah membuktikannya sendiri.
Selain Kiai Ali, ternyata ulama-ulama besar kita terbiasa menulis apapun yang mereka pelajari dan kuasai. Meski dengan keterbatasan waktu dan tenaga, mereka tetep semangat menulis. Mayoritas ulama-ulama besar biasanya melahirkan karya tulisan sebagai wasilah dakwahnya. Tentu kita mengenal Buya Hamka dengan tafsir Al Azharnya. Quraish Shihab dengan bejibun karyanya salah satunya yang monumental yaitu Tafsir al-Misbah. Begitu juga puluhan karya Yusuf Mansur di mana salah satunya ditulis ketika beliau di dalam penjara yaitu Wisata Hati, Menemukan Allah di antara Mereka yang Menderita. Bagi para ulama besar seakan menulis sudah tak terpisahkan dari aktivitas dakwahnya.
ADVERTISEMENT
Belum lagi jika kita mau membaca kisah para ulama zaman dahulu. Keterbatasan tidak ada listrik dan komputer, tidak menyurutkan para ulama untuk berkarya yang bukan hanya satu atau dua buku namun berjilid-jilid. Sedikit contoh misalnya Imam Malik dengan karya fenomenalnya Al Muwattha', Imam Syafi'i dengan kitab al-Umm, Imam Ahmad dengan Musnad-nya, dan lain-lain.

Menulis di Sepertiga Malam

Jadi, bisa disepakati ya bahwa dengan menulis, amal kita, karya kita akan tetap abadi, meski usia kita sudah tidak lagi bernomor.
Kini, jika dikaitkan dengan aneka kemudahan fasilitas yang ada, rasanya kita akan sangat malu, jika kita tidak juga mau memanfaatkan fasilitas itu untuk ibadah. Nah, bagaimana agar proses menulis kita bisa bernilai ibadah dan hasil tulisannya bisa amar ma’ruf nahi munkar?
ADVERTISEMENT
  1. Tulisan harus dibuat dalam keadaan mengingat Allah agar pembaca ketika membaca tulisan kita akan begitu.
  2. Menulislah dengan hati. Karena apa yang ditulis dari hati akan jatuh ke hati.
  3. Menulislah, bukan semata untuk dunia, namun juga untuk akhirat.
  4. Kita harus menulis agar bisa memberikan hikmah bagi diri sendiri dan bagi pembaca.
  5. Sebagai gambaran praktiknya, Kiai Ali selalu menulis di sepertiga malam. Waktu setelah tahajud hingga subuh, Beliau habiskan untuk menulis. Begitu juga dengan Helvi Tiana Rosa, guru saya di FLP ini, selalu menulis di tengah malam dengan rangkaian prosesi sebelumnya, yaitu wudu, salat malam, dan membersihkan hati. Tentu sangat mudah dipahami alasannya kenapa mereka memilih waktu menulis di sepertiga malam, karena di waktu itulah hati kita sedang dalam keadaan setenang-tenangnya sehingga ide-ide cemerlang bermunculan. (azzah zain al hasany)
ADVERTISEMENT