Konten dari Pengguna

Inovasi Pertanian Balik Jeruji, LPN Purwokerto Lakukan Studi Tiru

Humas Lapas Narkotika Purwokerto
Jujur, Inovatif, Transparan, Unggul ( JITU ) Dikelola oleh Humas Elkapur
9 Desember 2023 13:19 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Humas Lapas Narkotika Purwokerto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Purwokerto, INFO_PAS - Lembaga Pemasyarakatan Narkotika (LPN) Kelas IIB Purwokerto Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM RI Jawa Tengah lakukan Studi Tiru Sistem Hidroponik dan Drip di lahan perkebunan pribadi milik Bapak Sutarno, Kamis (07/12).
ADVERTISEMENT
Acara dimulai dengan pertemuan antara Bambang Triatmojo sebagai Kepala Subseksi Kegiatan Kerja (Kasubsi Giatja) beserta 2 (dua) Staff Giatja dengan Bapak Sutarno, pemilik kebun lahan yang akan menjadi objek studi. Pertemuan dimulai dengan ramah tamah di Gazebo area Perkebunan sebelum melanjutkan ke lapangan untuk melakukan peninjauan terkait teknik Sistem Hidroponik dan Drip.
Sutarno menjelaskan bahwa dalam Sistem Hidroponik, digunakan pupuk cair Abemic A dan B secara khusus. Untuk menjaga kondisi sistem tersebut, harus menggunakan penutup yang disebut Insecnet, yang dirancang seperti rumah untuk melindungi tanaman dari paparan langsung sinar matahari dan serangga.
“Nutrisi yang mencukupi, seperti vitamin, dan pengaturan kadar air yang sesuai dengan tingkat pH, juga mempengaruhi hasil panen. Faktor-faktor ini sangat penting untuk kesuksesan sistem hidroponik, selain dari aspek perairan yang harus diatur dengan baik,” ungkap Sutarno.
ADVERTISEMENT
“Pemilihan bibit juga penting, dan sebaiknya menggunakan batang air daripada batang katu karena daya tampungnya yang terbatas. Jarak antara lubang penanaman sebaiknya sekitar 30 cm agar hasil panen optimal. Meskipun hasil dari sistem hidroponik ini lebih baik daripada tanaman yang ditanam di tanah, namun untuk meminimalkan biaya perawatan yang cukup tinggi, hasil panen tersebut harus memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” tambah Sutarno.
Selanjutnya, dalam proses ini diperlukan penyemaian, di mana bibit ditanam dalam pot hidroponik setelah daunnya tumbuh. Penggunaan obat-obatan juga sebaiknya menggunakan pestisida alami untuk memaksimalkan hasil panen. Sutarno menekankan bahwa konsistensi (ketekunan) menjadi modal utama dalam kegiatan bercocok tanam ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan praktik pengolahan, seperti pengaturan pH dan kadar air serta pemberian pupuk. Selain itu, penggunaan Rockwool sebagai pengganti media tanam biasa juga menjadi sarana pendukung yang penting. Rockwool dipotong dalam bentuk persegi kecil, kemudian ditempatkan dalam pot nampan dan dibasahi dengan air dalam jumlah yang cukup.
ADVERTISEMENT
Benih kemudian ditanam satu per satu pada Rockwool dan ditutup dengan plastik hitam. Setelah itu, benih disimpan selama 2x24 jam hingga tumbuh daun. Setelah muncul daun sejati, bibit tersebut dipindahkan ke tempat dengan cahaya yang cukup dan disiram dengan semprotan air kecil sehari-hari. Setelah bibit tersebut tumbuh dengan daun sejati, baru kemudian dipindahkan ke dalam media hidroponik.
Selanjutnya, dilakukan penjelasan tentang sistem drip, yaitu metode bercocok tanam hidroponik yang menggunakan irigasi tetes untuk mengalirkan nutrisi ke area irigasi melalui dripper yang diatur oleh timer. Teknik ini lebih efisien dan praktis, namun perlu diperiksa secara teratur agar saluran tidak tersumbat dan nutrisi mencukupi untuk area irigasi yang dituju.
ADVERTISEMENT
Sutarno menyarankan agar dalam uji coba sistem drip, berbagai jenis tanaman dapat ditanam agar petugas dan warga binaan yang terlibat dalam kegiatan ini dapat memanfaatkan pengetahuan mereka dan menemukan kegagalan dan keberhasilan serta cara mengatasinya. Hal ini diharapkan dapat membantu kemajuan mereka setelah bebas. (Humas Elkapur)
dokumentasi hidroponik