Pencarian populer
USER STORY
17 Maret 2019 20:40 WIB
..
..

Stadion Giuseppe Meazza: Kiblat Sepak Bola Italia

Stadion Giuseppe Meazza (Sumber: www.commons.wikimedia.org)

Jika penggemar sepak bola dunia memiliki tempat-tempat suci yang selalu mereka dambakan untuk dikunjungi, pasti salah satunya adalah stadion megah yang terletak di pusat fesyen dunia. Ya, tempat itu tak lain dan tak bukan adalah Stadion Giuseppe Meazza di Kota Milan.

Stadion yang juga dikenal dengan sebutan San Siro ini berdiri sejak 1926 dan menjadi markas besar dua klub besar Liga Serie A Italia, Inter Milan, dan AC Milan. Nama Giuseppe Meazza diambil dari nama salah seorang legenda klub Inter Milan, yang menariknya juga sempat berseragam merah-hitam, sedangkan San Siro merupakan nama wilayah di mana kompleks olahraga ini berada.

Giuseppe Meazza merupakan salah satu stadion dengan kapasitas terbesar di Eropa, selain Camp Nou di Barcelona, Allianz Arena di Munich, Millenium Stadium di Cardiff, serta Signal Iduna Park kandang Borussia Dortmund. Saya termasuk salah satu fans bola yang beruntung karena telah beberapa kali merasakan atmosfer pertandingan sepak bola kelas dunia di tempat yang disakralkan oleh para penggila si kulit bundar ini. Sebagai pecinta klub Internazionale Milano (Inter), saya pun telah setidaknya tiga kali hadir secara langsung pada tiga pertandingan bergengsi klub tersebut.

Pertandingan Inter yang pertama kali saya hadiri adalah ketika si 'Ular Biru-Hitam' (julukan Inter) menjamu AS Roma pada 3 September 2012. Kala itu, Inter dilatih oleh seorang pelatih muda minim pengalaman, Andrea Stramaccioni, dan takluk di kandang sendiri dengan skor 1-3.

Meskipun demikian, yang namanya pengalaman pertama pasti tetap meninggalkan kesan mendalam. Sebagai contoh, saat itu merupakan masa-masa menjelang berakhirnya karier legenda Inter, Javier Zanetti, yang nomor punggungnya diabadikan oleh klub. Merupakan kebanggan tersendiri bagi saya dan seluruh tifosi Inter yang hadir kala itu untuk melihat dari dekat sang idola yang juga merupakan panutan seluruh pemain Inter saat ini.

Javier Zanetti, Kapten legendaris Inter Milan (Sumber:www.fourfourtwo.com)

Musim 2012-2013 juga terbilang istimewa bagi Interisti, khususnya yang berasal dari Indonesia, karena kala itu, Erick Thohir, seorang taipan bisnis olahraga Indonesia secara resmi membeli mayoritas saham klub tersebut. Kepemilikan Erick Thohir atas klub ini otomatis turut meningkatkan profil dan citra Indonesia di Italia, khususnya di kota Milan.

Hal ini setidaknya turut memopulerkan orang Indonesia di Kota Milan yang sebelumnya selalu dikira, kalau bukan orang Tiongkok, pasti orang Jepang. Pengalaman itu saya rasakan sendiri ketika berada di jalan menuju Stadion G. Meazza menjelang pertandingan dimulai, saat itu beberapa orang Italia membuat saya terkejut dengan menyapa, "Apa kabar?" Mereka langsung menebak kalau saya berasal dari Indonesia.

Pengalaman menghadiri pertandingan-pertandingan besar Inter berikutnya kembali saya alami saat sedang menjalani penugasan di salah satu Perwakilan RI di Eropa Tenggara. Saat itu pada musim panas 2016, saya kembali menunaikan ibadah dengan menghadiri laga bergengsi Derby d'Italia, sebuah pertandingan klasik yang mempertemukan Inter dengan Juventus. Perjalanan dari Zagreb menuju Milan saya tempuh menggunakan bus selama 7 jam dan melintasi kota-kota cantik di sepanjang wilayah utara Kroasia, Slovenia, dan kota-kota eksotik di Utara Italia, yakni Trieste, Venezia, dan Verona.

Perjalanan yang mengesankan tersebut diakhiri dengan kenangan indah tak terlupakan karena Inter berhasil mengalahkan Juventus secara dramatis dengan skor 2-1 berkat gol-gol Mauro Icardi dan Ivan Perisic, setelah tertinggal duluan dari Juve.

Suasana tribun Curva Sud pada Derby d'Italia, September 2016 di Stadion G. Meazza (Sumber: Dok. Pribadi)

Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan itu terbilang istimewa ketika Inter sedang dilanda krisis setelah ditinggal Roberto Mancini, sang pelatih bertangan dingin dan digantikan oleh Frank de Boer.

Selanjutnya, seolah terdorong oleh impian yang terpendam sejak kecil, pada musim dingin 2016, saya kembali mewujudkan mimpi untuk kembali hadir pada pertandingan besar Inter lainnya, kali ini Derby della Madonnina.

Partai derby yang juga dikenal dengan sebutan Derby Milan ini mempertemukan dua rival abadi di kota Milan yang sering dipadankan dengan El Clasico di Spanyol antara Madrid vs Barcelona.

Atmosfer pertandingan Derby della Madonnina, November 2016 di Stadion G. Meazza (Sumber: Dok. Pribadi)

Layaknya saat melawan Juve, pertandingan ini pun berakhir secara dramatis karena ditentukan oleh gol yang dicetak saat memasuki injury time pada menit ke-93. Gol emas yang dicetak oleh Ivan Perisic tersebut sontak membuat seisi stadion Meazza meledak karena berhasil menggagalkan kemenangan si 'Merah-Hitam' yang sempat unggul terlebih dulu. Hasil imbang ini seolah merupakan kemenangan bagi 'Nerazzurri' karena saat itu AC Milan bertindak sebagai tuan rumah. Hasil dramatis tersebut ditutup dengan manis oleh nyanyian koor tifosi interista yang menggemakan lagu kebangsaan mereka, Pazza Inter Amala.

Rasanya, setiap kali mendengar lagu kebangsaan tersebut seolah-olah seperti memanggil saya untuk datang kembali ke Giuseppe Meazza.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: