Kekasih Bersayap Putih

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang Tukang tidur, ngopi dan berkhayal.
Konten dari Pengguna
12 Juli 2022 16:10
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Muhammad Ibnu Shina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar merupakan koleksi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar merupakan koleksi pribadi.
ADVERTISEMENT
Hatiku terasa berbunga-bunga sore ini. Bibirku tak henti-hentinya tersenyum seraya bersenandung penuh rasa bahagia. Mataku tak sedikit pun berpaling dari wajah menawan kekasihku. Selama perjalanan pulang, tangan kami saling berpegangan. Sesekali kulepaskan agar tercipta rasa rindu, kemudian kugenggam kembali tangan halusnya dengan lebih erat dan mesra. Wajahnya yang begitu bening itu selalu berhasil membuatku terbang menembus angkasa.
ADVERTISEMENT
Seharian ini aku dan kekasihku bersama-sama menikmati indahnya hari yang cerah di sebuah taman kota. Rasa bahagia senantiasa melekat di dalam hati. Membuat waktu terasa begitu singkat. Bangku taman selalu menjadi tempat favorit kami untuk saling membelai atau hanya sekadar berbincang-bincang seraya saling bertatapan mata.
Bangku itu menjadi saksi bisu bagi dua insan manusia yang saling mencintai. Aku selalu merasa lebih hidup kala bersama kekasihku. Rasanya, aku telah tetapkan bahwasanya hatiku tak akan pernah berpaling darinya selamanya.
Beberapa menit yang lalu di taman itu, seperti biasa aku dan kekasihku duduk di bangku taman seraya saling memandang penuh hasrat dan gairah. Aku selalu senang melakukannya sebab tak pernah kutemukan mata yang seindah mata kekasihku. Semakin lama kutatap matanya, hatiku semakin yakin bahwasanya dirinya tak hanya kekasihku di dunia, melainkan juga kekasihku di alam keabadian nanti. Sungguh aku sudah sangat tergila-gila padanya.
ADVERTISEMENT
Setelah lama kami bertatapan mata, aku mulai menyentuh tangannya yang selembut sutra itu. Dengan segenap keyakinan, kuberikan padanya sebuah cincin emas seraya mengajaknya untuk mengikat janji setia untuk menjalani hidup bersama sehidup semati.
Matanya yang indah dan memikat itu seketika meneteskan air mata, ia menutup mulutnya sembari mengangguk tanda setuju. Kukenakan cincin itu di jari manisnya, lalu kami berpelukan dengan begitu mesra. Rasanya, aku enggan untuk melepaskan pelukan itu selamanya. Burung gereja yang hinggap di dahan pohon terlihat tersipu malu kala melihat aku dan kekasihku berpelukan sembari saling meneteskan air mata penuh haru dan bahagia.
“Aku sangat mencintaimu!” Kubisikan kalimat itu ditelinga kekasihku dengan lirih.
Kekasihku tak menjawab, hanya pelukannya saja yang terasa lebih erat yang membuatku semakin merasakan cintanya yang begitu besar dan dalam. Rasa cintaku seperti tiba pada puncak yang paling tinggi selama pelukan kami berlangsung. Kekasihku perlahan melepaskan pelukannya. Kini aku dapat melihat kembali wajahnya yang anggun bak dewi di kayangan.
ADVERTISEMENT
“Terima kasih, aku sudah dapat membayangkan hidup bahagia bersamamu hingga malaikat maut menjemput.” Lirih kekasihku berkata.
Kubelai mesra rambut panjangnya lalu kukecup keningnya dengan begitu lembut. Ia memejamkan matanya, kemudian kembali memelukku dengan begitu erat dan penuh cinta.
Momen itu tak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Selama perjalanan pulang, sembari terus menggenggam tangannya aku senantiasa berdoa di dalam hati untuk dapat selalu bersama dengan kekasihku. Semakin dalam cinta yang kurasakan padanya, aku semakin takut untuk kehilangan dirinya. Tak dapat kubayangkan bila hidup tanpa kekasihku, sebab telah kuberikan separuh jiwaku ini kepadanya dan tak dapat kuambil kembali.
Aku dan kekasihku tiba pada sebuah perempatan jalan. Perempatan jalan ini adalah tempat aku dan kekasihku biasa terpisah sebab arah tempat tinggal kami yang berbeda. Perempatan jalan yang selalu menjadi akhir dari perjalanan pulangku dan kekasihku dari memadu kasih di taman kota.
ADVERTISEMENT
Senyuman menawan itu terlukis indah di wajahnya kala ia perlahan menyebrang jalan seraya meninggalkanku bersama tiang lampu lalu lintas yang membisu. Tak henti-hentinya mataku menatap tubuhnya yang luar biasa indah. Aku selalu menyukai caranya berjalan, gerakannya bagaikan bunga-bunga lavender yang tertiup angin di taman cinta.
Kekasihku menoleh ke arahku seraya melemparkan senyum yang mampu menembus dan menyentuh relung hatiku. Kibasan rambutnya yang dibiarkan tergerai itu bagai kipas para dewi yang mampu menciptakan angin kebahagiaan bagi seluruh makhluk di bumi.
Kekasihku semakin terlihat cantik, lebih cantik dari sosok Medusa sebelum ia dikutuk oleh dewi Athena. Aku semakin tak sabar menanti hari dimana janji suci nan sakral akan kami ucapkan di dalam kuil suci. Kubalas senyumannya yang indah itu dengan tatapan penuh rasa kasih sayang.
ADVERTISEMENT
Seketika, mataku melihat kekasihku terbang ke angkasa dengan sayap indah berwarna putih. Kekasihku yang sangat cantik itu terlihat terbang semakin tinggi seraya meninggalkan sebuah jasad perempuan dengan cincin emas ditangannya yang terbaring kaku berlumuran cairan kental berwarna merah.
Orang-orang kota terihat berkerumun di tengah jalan. Sebagian mengelilingi jasad perempuan itu, dan yang lainnya mengepung sebuah besi beroda empat berwarna hitam. Orang-orang itu terlihat memaki seraya berusaha menghancurkan besi beroda empat itu dengan menggunakan besi dan balok.
Dan kekasihku yang cantik jelita itu terlihat terbang semakin tinggi dengan sayap putihnya sembari terus tersenyum dan melambai-lambai kepadaku. Hingga akhirnya, dirinya perlahan-lahan menghilang tenggelam ditelan langit sore yang berwarna jingga.