• 0

Kapasitas Berlebih Lapas Cipinang Muluskan Rekruitmen Teroris

Kapasitas Berlebih Lapas Cipinang Muluskan Rekruitmen Teroris



Akbar Hadi Kasubag Humas Ditjen Pemasyarakatan

Akbar Hadi Kasubag Humas Ditjen Pemasyarakatan menjawab pertanyaan wartawan di LP Salemba (Foto: Viry Alifiyadi/kumparan)
Kondisi Lapas di Indonesia merisaukan. Banyak Lapas yang kapasitasnya berlebih. Salah satu akibatnya, rekruitmen teroris di Lapas memungkinkan terjadi.
Seperti yang disebutkan Mabes Polri. Tersangka kasus terorisme, Omen merupakan napi kasus pembunuhan yang direkrut di Lapas Cipinang.
Menyikapi fenomena ini, Kabag Humas Ditjen Pemasyarakatan, Akbar Hadi, memberikan tanggapan. Menurutnya hal tersebut bisa terjadi karena kapasitas di Lapas Cipinang telah berlebih.
"Jadi memang kondisi di Lapas Cipinang memang sudah over kapasitas. Sementara petugas terbatas. Jadi tidak mungkin warga binaan kita awasi terus menerus satu persatu," kata Akbar kepada wartawan di Jakarta, Kamis (22/12).
Perekrutan sendiri dimungkinkan timbul dari komunikasi antar warga binaan pemasyarakatan. "Kemungkinan adanya komunikasi itu terjadi. Karena di Lapas ada kegiatan sosialisasi, seperti ibadah, olahraga perpustakaan, dan lain sebagainya. Jadi mungkin seorang warga binaan pemasyarakatan mendapat informasi yang tidak benar," jelas Akbar.
Namun lebih lanjut Akbar menjelaskan jika sebenarnya telah ada upaya untuk memutus mata rantai terorisme. Salah satunya adalah dengan melakukan penggolongan. "Kita membagi ke dalam beberapa golongan seperti idiolog, militan, follower. Khusus bagi yang idiolog  atau militan dan non kooperatif, maka kami terapkan one man one sell."
Hingga saat ini baru ada dua Lapas yang memeliki sel khusus bagi teroris, yakni Lapas Nusa Kambangan dan Lapas Gunung Sindur. "Ke depan kami akan membuat lapas khusus teroris yang sifatnya high risk di setiap wilayah. Di tahun 2017 nanti akan beroperasi lapas di Sentul di mana nantinya warga binaan yang kategori follower bisa menerima binaan dalam rangka deradikalisasi."
Dalam hal menanggulangi penyebaran terorisme, Ditjen Pemasyarakatan telah berkomunikasi dengan berbagai pihak, seperti BNPT, Kepolisian, Kejaksaan. "Hanya saja memang pertemuam itu harus lebih diintensifkan lagi," tambah Akbar.
Masih menurutnya, permasalahan ini tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat. "Ini merupakan tugas bersama. Misalnya jika masyarakat tidak menerima mereka, maka mereka akan kembali ke kelompok sebelumnya," tutup dia.

NewsBreaking NewsLapasLapas Wanita Tangerang

500

Baca Lainnya