Konten dari Pengguna

Kenapa Berjalan Kaki Harus Dianggap Aneh?

Indri Dwi Ariyani
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember
24 November 2025 13:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kenapa Berjalan Kaki Harus Dianggap Aneh?
refleksi tentang pengalaman berjalan kaki yang sering dianggap aneh dan komentar dari orang asing membuat seseorang kehilangan rasa aman
Indri Dwi Ariyani
Tulisan dari Indri Dwi Ariyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Siang itu matahari sedang hangat. Jalanan ramai oleh suara kendaraan, pedagang memanggil pembeli, dan aroma gorengan dari warung di dekat perempatan. Aku berjalan santai di trotoar, membawa tas kecil, tidak terburu-buru. Hanya berjalan kaki, aktivitas sederhana yang kupikir paling biasa dilakukan siapa pun.
ADVERTISEMENT
Tapi rupanya yang biasa bagiku belum tentu biasa bagi orang lain.
ilustrasi suasana jalanan dengan sekelompok orang yang duduk dipinggir jalan (sumber : https://www.pexels.com/id-id/)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi suasana jalanan dengan sekelompok orang yang duduk dipinggir jalan (sumber : https://www.pexels.com/id-id/)
Di depan sebuah warung, sekelompok orang duduk santai, ada yang bermain ponsel, ada yang bersandar pada motor. Suasana umum seperti di kebanyakan tongkrongan jalanan. Namun beberapa dari mereka langsung memperhatikan ketika aku lewat. Bukan sekadar melihat, tapi mengamati.
Salah satu dari mereka tersenyum miring lalu berkata cukup keras, “Sendirian aja mbak? Mau ditemenin, ngga? atau mau dianter?”
Disusul temannya yang menambahkan siulan disertai tawa meledek, seolah aku sedang melakukan sesuatu yang lucu.
Komentar seperti itu tidak benar-benar menyakitkan, tapi cukup membuat langkahku terasa lebih melelahkan. Seolah berjalan kaki tiba-tiba menjadi sesuatu yang aneh, sesuatu yang layak dikomentari. Padahal aku hanya berjalan kaki, karena memang begitulah caraku berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.
ADVERTISEMENT
Sejak kejadian kecil seperti itu, aku mulai menyadari satu hal yang membuat tidak nyaman bukan trotoar yang retak, bukan suara kendaraan yang bising, tetapi pandangan dan komentar orang-orang yang merasa berhak menilai siapa saja yang kebetulan lewat di depan mereka.
Yang lebih aneh lagi, komentar seperti itu sering dianggap lucu oleh mereka yang mengucapkannya. Mereka tidak menyadari bagaimana tatapan atau ejekan kecil bisa membuat pejalan kaki merasa tidak aman. Seolah wajar menilai orang hanya karena dia berjalan sendirian.
Padahal, di tempat lain, berjalan kaki adalah hal paling normal. Orang berjalan ke sekolah, ke halte bus, ke toko sebelah, atau sekadar ingin menikmati udara. Tidak ada yang peduli apa alasannya. Tidak ada yang merasa perlu menilai atau memberi komentar.
ADVERTISEMENT
Namun di sini, berjalan kaki sering dianggap aneh. Ada yang mengira seseorang tidak mampu membeli kendaraan dan ada juga yang menganggapnya tanda kasihan. Padahal mungkin orang itu hanya ingin bergerak dengan caranya sendiri.
Lama-lama aku bertanya, sejak kapan berjalan kaki menjadi sesuatu yang perlu diberi komentar? Bukankah langkah seseorang adalah urusannya sendiri yang tidak boleh dinilai semaunya oleh orang lain?
Semakin sering aku berjalan, semakin sering pula aku merasakan pandangan semacam itu. Dan setiap kali, aku hanya ingin melakukan hal paling sederhana seperti, berjalan dengan tenang, tanpa komentar, tanpa tatapan yang membuatku sadar akan setiap gerakanku.
Di sini, berjalan kaki saja membuatku merasa tidak aman. Sampai terkadang aku bertanya, “Kalau hak untuk merasa aman memang milik semua orang, kenapa berjalan kaki saja bisa membuat seseorang harus siap dinilai oleh orang yang bahkan tidak mengenalku?”
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, setiap orang berhak merasa aman saat berjalan di ruang publik. Berhak untuk berjalan tanpa diganggu, tanpa dinilai, tanpa dijadikan bahan lelucon. Ruang publik seharusnya milik semua orang bukan hanya mereka yang merasa bebas memberi komentar pada siapa pun yang lewat.
Kadang bukan langkahnya yang melelahkan, tapi tatapan dan ucapan kecil yang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Dari ini, aku sadar bahwa rasa aman yang sebenarnya adalah hak dasar manusia yang masih sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, meski sudah jelas dijamin dalam aturan tertulis.