kumparan
20 Feb 2019 18:49 WIB

3 Perubahan yang Perlu Dilakukan Maurizio Sarri dengan Taktiknya

Perubahan yang perlu dilakukan Maurizio Sarri.
Menyusul pemecatan Antonio Conte yang kontroversial, Chelsea menunjuk Maurizio Sarri sebagai suksesor di kursi kepelatihan. Mantan pelatih Napoli tersebut selain membawa penggawa lamanya, Jorginho, juga menerapkan taktik yang sudah digunakannya sejak melatih Il Partenopei, yaitu ‘Sarri-Ball’.
ADVERTISEMENT
Mulanya Sarri punya start yang mulus bersama klub asal London Barat tersebut. Bahkan, pada awal musim mereka sempat jadi kandidat juara Liga Inggris, usai bermain 12 laga tanpa kekalahan. Taktik menyerangnya dianggap jenius, Eden Hazard yang jadi andalan utama dielu-elukan sebagai yang terbaik di liga.
Namun, sejak kalah dari Tottenham Hotspur, segalanya mulai berubah untuk Sarri. Spurs yang sukses membongkar dan mengeksploitasi kelemahan Sarri-Ball kemudian berhasil menang tiga gol, lewat Dele Alli, Harry Kane dan Christian Eriksen. Balasan dari Chelsea datang dari Giroud di penghujung laga.
Maurizio Sarri dan staf pelatih Chelsea bingung. Foto: REUTERS/David Klein
Selepas kalah dari Spurs, Chelsea mulai kehilangan stabilitas. Usai hampir sepanjang musim berada di empat besar, kini ‘The Blues’ terpuruk di posisi keenam klasemen sementara. Terlebih mereka harus kalah lawan Manchester City di Stadion Etihad secara mengenaskan dengan skor 6-0.
ADVERTISEMENT
Malapetaka Sarri tak hanya sampai di situ. Menjamu Manchester United pada babak kelima Piala FA di Stamford Bridge, Chelsea harus dibungkam dengan skor 0-2. Pada laga tersebut, Paul Pogba dan Ander Herrera bergerak terlalu bebas. Keduanya pun membawa tim tamu lolos ke babak berikutnya, masing-masing satu gol.
Keras kepalanya Sarri yang tak mau mengubah skema permainan disebut jadi biang keladi performa buruk Chelsea. Beberapa pun sampai menilai Sarri merupakan pelatih yang miskin taktik. Pada laga kontra United, Fans ‘The Blues’ mulai menyanyikan lagu bernada hujatan kepada manajer asal Italia tersebut.
Usai laga, Sarri mengaku tak mengkhawatirkan fans dan status pekerjaannya. “Saya tidak mengkhawatirkan fans. Tentu saya tahu situasi dan memahami para fans lantaran hasil yang tidak baik dan kita keluar dari Piala FA, tapi saya untuk saat ini lebih khawatir dengan hasil (pertandingan),” Kata Sarri usai laga kontra United.
ADVERTISEMENT
Kabar posisinya yang semakin tidak aman pun mencuat, tapi Sarri masih akan dievaluasi hingga akhir bulan Februari. Pada sisa jadwal tersebut, Sarri bisa melakukan perubahan yang bakal menyelamatkan kariernya. Berikut tiga perubahan yang perlu dilakukan Maurizio Sarri terhadap skemanya.
1. Posisi gelandang bertahan
Kante pada laga melawan Manchester United. (Foto: John Sibley/Reuters)
Sejak didatangkan dari Napoli, Sarri mereplikasi Jorginho sebagai kunci permainan seperti pada klub lamanya tersebut. Bermain sebagai ‘regista’, gelandang Italia tersebut jadi pengalir bola di lini tengah Chelsea. Imbasnya, N’golo Kante harus bergeser dari posisi semula sebagai gelandang bertahan menjadi ditugaskan lebih menyerang.
Namun, belakangan lawan mulai memahami dan mengeksploitasi kelemahan Chelsea. Mereka hanya tinggal menutup ruang gerak Jorginho sehingga tak bisa mengalirkan bola. Tentu kini Sarri mesti mempertimbangkan taktiknya tersebut, tapi sayangnya pelatih asal Italia tersebut keras kepala dengan tetap ingin menerapkan ‘Sarri-Ball’.
ADVERTISEMENT
Publik menilai Kante seharusnya kembali ke posisi awal. Nantinya, gelandang bertahan asal Prancis tersebut bakal mempermudah tugas David Luiz dan Antonio Rudiger/Andreas Christensen. Jorginho masih tetap bisa digunakan kala melawan tim yang dinilai tak bisa mengatasi skema Sarri.
2. Pemain lain alternatif buat gelandang tengah
Ross Barkley melakukan selebrasi usai membobol gawang So'ton. (Foto: Reuters/John Sibley)
Salah satu posisi yang mesti dilakukan perubahan terhadap taktik Sarri adalah bagian kiri gelandang tengah. Posisi tersebut kerap kali kesulitan membuat peluang dari lini kedua. Mateo Kovacic yang didatangkan sebagai pemain pinjaman dari Real Madrid untuk mengisi posisi tersebut sejauh ini tampil mengecewakan.
Kovacic memang punya kemampuan umpan yang bagus, tapi dirinya tidak dilengkapi dengan teknik tembakan yang mumpuni. Sedangkan Ross Barkley yang jadi pelapis sejatinya punya kemampuan yang tak dimiliki gelandang Kroasia tersebut. Namun, bisa dimengerti dirinya hanya jadi pelapis, lantaran penampilan tidak konsistennya.
ADVERTISEMENT
Demi mengisi peran yang tak maksimal oleh Kovacic dan Barkley, Sarri sebenarnya bisa melakukan percobaan dengan memainkan Ruben Loftus-Cheek. Gelandang jebolan akademi Chelsea tersebut dikenal sebagai pemain yang versatil. Secara fisik pun dirinya mumpuni, bisa melancarkan tembakan yang membuka ruang buat penyerang.
3. Marcos Alonso yang terlalu menyerang
Alonso, wing-back spesial milik Conte. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
Saat era kepelatihan Antonio Conte, Marcos Alonso jadi pemain kunci yang digunakan untuk membantu penyerangan dari sayap. Bek sayap asal Spanyol tersebut dipercaya mengisi sisi kiri pertahanan Chelsea dalam formasi 3-5-2. Walau kerap menyerang, Conte menyiasatinya dengan tiga bek yang siap menutup ruang kosong Alonso.
Walau awalnya bermain luar biasa bersama Sarri, Alonso kemudian jadi salah satu titik lemah yang kerap dieksploitasi lawan. Skema ‘Sarri-Ball’ memaksa pemain berusia 28 tahun tersebut sering overlap. Seharusnya cepat kembali saat lawan melancarkan serangan balik, Alonso kekurangan insting untuk segera mundur.
ADVERTISEMENT
Alonso yang kerap memberikan ruang harus mulai dipertimbangkan Sarri. Pelatih asal Italia tersebut masih punya Emerson Palmieri yang kemungkinan bisa tampil lebih baik. Bek asal Brasil tersebut punya karakter yang lebih disiplin sebagai bek. Selain itu, dirinya tetap tak lupa perannya sebagai bek sayap, dengan punya kemampuan umpan tarik yang bagus. (bob)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan