Pencarian populer

3 Sebab Arsenal Kalah 2-3 dari Crystal Palace di Liga Inggris

Selebrasi dari Christian Benteke. Foto: Reuters/Matthew Childs
Usaha Arsenal melejit ke posisi tiga harus gagal setelah kalah dari Crystal Palace pada partai ke-34 Liga Inggris, Minggu malam (21/4/2019). Bermain di Stadion Emirates, ‘The Gunners’ yang tengah berusaha mencapai target empat besar, takluk dari Palace di depan pendukung sendiri dengan skor tipis 2-3.
ADVERTISEMENT
Formasi 3-4-1-2 jadi pilihan Unai Emery, dengan Konstantinos Mavropanos, Laurent Koscielny, dan Shkodran Mustafi jadi tiga bek tengah. Wing-back diisi Carl Jenkinson dan Sead Kolasinac, sementara Mohamed Elneny dan Matteo Guendouzi jadi double pivot. Mesut Oezil yang jadi playmaker, berada tepat di belakang Lacazette dan Aubameyang.
Crystal Palace pun turun dengan skuat terbaik. Ada Wilfried Zaha dan Christian Benteke sebagai juru gedor. Cheikhou Kouyate dan Luka Milivojevic mengisi lini tengah, ditemani Meyer dan McArthur di kedua sisi. Adapun posisi empat bek diisi Joel Ward, Scott Dann, Martin Kelly, dan Aaron Wan-Bissaka.
Arsenal mencetak dua gol lewat Mesut Oezil dan Pierre-Emerick Aubameyang. Keduanya tak bisa menyelamatkan kekalahan dari Palace yang mencuri poin via gol Christian Benteke, Wilfried Zaha, dan James McArthur. Kekalahan pun membuat Arsenal tetap di posisi keempat dengan 66 angka. Sementara Palace naik ke posisi 12 dengan torehan 42 angka.
Pelatih Arsenal, Unai Emery, memberikan instruksi kepada Henrikh Mkhitaryan di laga melawan Newcastle. Foto: REUTERS/David Klein
Usai laga, Unai Emery mengaku frustasi dengan hasil yang diterima timnya. Bagi pelatih asal Spanyol tersebut, laga itu seharusnya jadi kesempatan Arsenal meraih poin penuh. Walau begitu, Emery masih pede lantaran juga punya kesempatan dari Liga Eropa. “Kami harus bersiap untuk lawan Wolverhampton. Itu ada dalam genggaman, bila menang kami bisa tetap berada di empat besar,” ungkap Emery.
ADVERTISEMENT
Menyusul kekalahan di Emirates, kekalahan kandang jarang diraih Arsenal musim ini. Menanggapi hal tersebut, Emery bisa memaklumi lantaran menghadapi lawan yang sulit dan mempertahankan rekor kemenangan beruntun tak kalah sulit.
“Pertama, mereka punya pemain bagus dan pelatih berpengalaman. Mereka sukses menggilas Manchester City pada laga tandang, mereka menang di rumah Newcastle, mereka juga menang kontra Leicester. Benar kalau ini bakal jadi sulit dan kami menghormati mereka. Namun di pertandingan kami gagal menerapkan performa bagus,” ucap Emery dilansir dari situs resmi United.
1. Penyelesaian akhir yang buruk
Gol dari Mesut Oezil. Foto: Reuters/Matthew Childs
Babak pertama Arsenal tampak kelelahan. Performa mereka memang buntut dari laga kontra Napoli pada beberapa hari sebelumnya. Namun, pada babak kedua Mesut Oezil dan koleganya menciptakan banyak peluang mencetak gol, tapi penyerang gagal memanfaatkan kesempatan yang didapat.
ADVERTISEMENT
Ada tujuh perubahan yang dilakukan Emery pada laga tersebut dan mungkin bisa jadi alasan kurangnya pengertian antar pemain. Elneny tak kreatif di lini tengah dan Iwobi tumpul dan kurang efektif kala memegang bola. Mungkin hanya Oezil yang benar-benar bermain bagus dengan menginisiasi tiap ancaman yang dilakukan Arsenal.
Babak pertama Lacazette menunjukkan dirinya kerja keras, sayang ketenangan di depan gawang jadi masalah buatnya. Aubameyang malah tak banyak berkontribusi selain aksi solonya untuk mencetak gol. Absennya Emery membuat permainan seakan tak terhubung. Jelas Arsenal mesti segera mengatasi masalah tersebut..
2. Penampilan buruk Mustafi
Mustafi (kanan) membuat blunder dalam pertandingan vs Palace. Foto: Reuters/Matthew Childs
Musim ini Shkodran Mustafi gagal tampil impresif. Dirinya hanya jadi pelapis ketika ada bek tengah yang cedera atau kelelahan. Pada laga tersebut, Mustafi yang lengah membiarkan Christian Benteke melewatinya dan memberikan sundulan berbuah gol pertama Palace. Sejak kesalahan itu, semuanya malah makin buruk buat Mustafi.
ADVERTISEMENT
Mustafi kerap jadi bulan-bulanan Zaha dan penyerang Crystal Palace lainnya. Bek tengah asal Jerman tersebut juga membuat membuat kesalahan fatal dengan telat mengantisipasi sepakan Zaha. Alhasil Palace pun kembali unggul dengan skor 1-2, sebelum laga berakhir dengan skor 2-3.
Sejak kedatangannya dari Valencia, Mustafi memang belum memberi penampilan impresif yang konsisten. Koscielny, Monreal, dan Sokratis kerap lebih dipilih jadi skuat utama. Kini, Arsenal menargetkan finis empat besar dan tentu pertahanan jadi sektor yang perlu diperbaiki Emery.
3. Ancaman yang kerap diberikan Zaha
Pemain Crystal Palace Wilfried Zaha (kiri) melewati pemain Arsenal. Foto: REUTERS / Eddie Keogh
Bukan tanpa alasan kini Wilfried Zaha jadi incaran raksasa Eropa. Dikabarkan Paris Saint-Germain juga menaruh minat pada bintang Crystal Palace tersebut. Kala menghadapi Arsenal, Zaha membuktikan kelasnya lewat performa apik sebagai pemain yang patut diperhitungkan.
ADVERTISEMENT
Sebagian besar serangan balik dipercayakan lewat Zaha, dan tekniknya mengolah bola kerap kali jadi momok buat Mustafi dan kolega. Mustafi tampil buruk lantaran gagal menebak pergerakan yang bakal dilakukan Zaha. Respon lambat bek asal Jerman tersebut kemudian dimanfaatkan Zaha untuk mencetak gol kedua Palace.
Bila Zaha mengincar untuk memenangi trofi, jelas pindah klub jadi solusinya. Pasalnya, Crystal Palace bukan tim kandidat juara tiap musimnya. Selain PSG, klub yang baru dikalahkannya, Arsenal, pun menaruh minat kepada Zaha. Unai Emery sudah mempertimbangkan untuk merekrut penyerang berusia 26 tahun tersebut. (bob)
Baca lebih banyak informasi mengenai berita artis/berita heboh/info bola/dan lifehack lebih nyaman di aplikasi kumparan.
Download aplikasi Android di sini.
Download aplikasi iOS di sini.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80